Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan



Negeri ini (baca: Indonesia) selalu gegap gempita dalam meggalang nasionalisme. Kalau bukan karena hasil budaya dimaling ya karena bahaya laten, entah itu komunis atau khliafah. Maka isu tersedap Negara ini adalah bangkitnya komunis atau laten radikalisme Islam. Dan September akan selalu dijadikan momentum waspada bahaya laten komunis.Ya peristiwa 30 September 1965 adalah momentum menentukan musuh bersama bagi Indonesia, yaitu kaum jomblo  eh PKI, kaum dan paham komunis serta (ke)turunannya.
Se

50 tahun setelah peristiwa pengkhianatan PKI kespada Pancasila, tidak ada usaha yang nyata bagaimana meluruskan sejarah kelam itu. Karena meski tampaknya kita berideologi Pancasila (tengok sila ke2), kekuasaan Negara kita cenderung fasis yang mengharuskan sejarah berpihak kepada yang menang secara politik. Banjir darah, hukuman tanpa peradilan, bunuh membunuh antara kaum komunis, kaum santri, ormas dibiarkan tanpa ada campur tangan Negara. Maka yang ada dari dulu adalah pertikaian, prasangka dibiarkan tumbuh bahkan dipupuk di antara masyarakat. Dan tentu saja Negara dengan tentaranya menangguk untung. Tidak perlu banyak popor bicara, namun pembiaran pelopor masyarakat menuding suatu kelompok komunis, teroris akan menciptakan kegaduhan di masyarakat sendiri dan Negara tinggal menggaruk keduanya.

Taktik Gajah Mada, Machiavelli, Suharto yang membentuk Negara besar dengan menghalalkan segala cara (Het doel, heilight de midellen) sudah pasti membuat negara bisa menyiksa, mengkhianati, mencelakakan masyarakatnya sendiri. Kita lihat bahwa demi nama pembangunan di masa orde baru maka pemerintah bisa menggusur tanpa rasa manusiawi, bila masyarakat menolak maka akan dituduh PKI.

Kegagalan bapak pluralis kita Gus Dur yang berniat menghapuskan TAP MPRS XXV tahun 1966 "Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Nomor XXV/MPRS/1966 Tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang Di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia Bagi Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan Untuk Menyebarkan Atau Mengembangkan Faham Atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme.” tentu saja disyukuri oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang ah begitulah.

Tengoklah kelompok budayawan yang mendaku (mengklaim) dirinya anti komunis, anti radikal adalah kelompok-kelompok yang terhormat di Negara ini, dan diseberangnya Seperti Taufik ismail, Emha Ainun Nadjib yang kini berseru-seru, tidak perlu pemerintah meminta maaf pada korban 65, karena kaum komunis adalah pengkhianat.dan tentu saja pengkhianat memang tidak pantas dimaafkan, karena kelakuannya menimbulkan trauma. Padahal pr sejarawan untuk mencari akar permasalahan apa betul PKI berniat memberontak, ekses kegaduhan saat itu yang mengakibatkan pembunuhan antar masyarakat juga malah belum tuntas dimulai secara konstitusional.

50 tahun Indonesia telah memerangkap hantu bernama komunis, padahal di era ini mau mempelajari komunis semudah kita bercinta seperti panduan di google. Inilah wajah asli masyarakat kita, mendaku sebagai kaum agamis, moralis, pancasilais namun kita bisa dan biasa berlaku sadis pada masyarakat yang dianggap pengkhianat dan bahkan kita tidak mencari asal-usul kebenarannya.

Esok tanggal 30 September 2015 seperti biasa saya akan berdoa agar para pahlawan revolusi dan para korban pembunuhan, serta korban ketidakadilan sistem hukum di Negara ini dapat memaafkan kita dan Negara ini. Mari memaafkan meski mungkin tidak melupakan.


Untukmu yang menyebutku kekasih atau bisa jadi YAD (Yang Akan Datang di pelukan)

Hai, apa kabar? Tentu saat ini kau baik-baik saja dan bahagia. Aku percaya Tuhan menjagamu. Hidup dengan damai dan dengan memiliki pengetahuan paling tidak ada dua orang yang sangat mencintaimu. Seseorang yang hidup bersamamu saat ini dan aku. Oh ya aku percaya diri dalam hal itu.

Kekasih, seperti kata-katamu yang selalu kuingat, Cinta adalah keberanian. Maka seperti syahadat yang aku lakukan untuk Tuhanku, dulu aku mengatakan dengan jelas aku mencintaimu dan ingin berkomitmen denganmu. Itu syahadatku untukmu. Itu keberanian pertamaku. Dan aku memilih carpe diem. Merebutmu dari yang bersamamu saat itu. Itu keberanianku kedua karena bagiku kalau tidak sekarang mendapatkanmu kapan lagi, kalau bukan aku siapa lagi, ehhhh. Ah kekasih, kita begitu muda saat itu, aku yang penuh perjuangan dan telingamu yang mungkin butuh rayuan.

Kekasih bersamamu adalah pembelajaran bagiku. Bagaimana aku menerima diriku sendiri, bagaimana aku menerima dirimu dan begitu sebaliknya. Lalu kita belajar bagaimana menjadi lebih baik dari hari ke hari. Utopis ya kelihatannya? Padahal hari-hari itu juga lumayan berat dilalui. Bagiku, hari-hari bersamamu adalah kembali lagi belajar mengenal Tuhan, belajar lebih menerima tentang orangtuaku, belajar mata kuliah apa pun dengan keras biar tidak dianggap lalai sebagai mahasiswa. Dan kamu mungkin di mataku mulai belajar tersenyum lebih banyak, mulai belajar berinteraksi dengan orang-orang yang “dunia”nya berbeda sekali denganmu, mulai mencintai hal-hal kecil untuk dirimu sendiri, kamu menulis lagi, berpuisi lagi dan sebagainya. Bersamamu dulu menjadikan aku lebih baik, bahkan kini hanya dengan mengingatmu aku menginginkan yang lebih baik lagi untuk diriku sendiri. Aku yakin kau juga lebih baik.

Aku masih ingat kamu begitu jutek tidak mau menerima bantuan orang lain, pemilih sekali soal makanan, sangat keras kepala saat beradu pendapat, terkadang juga membuatku kesal. Moody. Aku ingat dua tahun pertama kebersamaan kita, ketika kamu marah karena makanan yang kubeli tidak sesuai dengan permintaanmu, aku lebih marah karena bagiku kamu tidak melihat perjuanganku. Padahal kalau saat itu aku sedikit lebih dewasa aku harusnya tahu alasanmu seperti itu, tapi aku hanya melihat diriku, kesusahanku.

Atau aku lebih marah saat kamu membisu, cemburu. Dan aku bertingkah gila saat cemburu.. Ketika itu mungkin aku atau kau menikmati kehadiran orang lain, entahlah, atau mungkin kita sedang jenuh, atau kita sedang putus asa dengan masa depan hubungan kita. Berhari-hari kita seperti orang asing, berhari-hari aku dan kamu menjadi orang yang aneh.  Kita selalu meneriakkan putus saat seperti itu lalu kita memutuskan berdiam diri.

Tapi cinta selalu menemukan jalannya bukan? Aku kembali padamu dan lagi-lagi jatuh cinta padamu lebih dari kemarin. Kau juga seperti itu. Saat-saat penuh amarah itu selalu kuhabiskan dengan tidur di luar, menghindari dirimu. Namun di saat sendiri itu aku selalu berhasil mengingatkan diriku sendiri bagaimana syahadatku padamu, kamu yang rela bersamaku meski dunia menolaknya, kamu yang rela ditinggalkan teman-teman kita, bahkan tidak peduli dengan asumsi orang-orang.  Sehebat apapun orang lain itu, aku ternyata hanya merasa utuh dan sempurna saat bersamamu. Maka setelah itu aku pulang, memelukmu lama dan meminta maaf. Sejak saat itu setiap pagi aku katakan Thank You for Loving Me. Dan kau selalu menyentuh wajahku saat aku tidur, ya kan? Aku mengingatnya kekasih. Itu tahun ketiga kebersamaan kita. 

Barangkali kita akan tersenyum mengingat hari-hari lalu itu.

Keberanianku yang ketiga adalah berani meninggalkanmu, bukan karena aku tidak mencintaimu. Karena saat itu kita sama-sama bersepakat membangun kehidupan bersama ternyata cinta dan financial saja tidak cukup bukan ? Kita punya logika yang indah untuk berpisah. padahal di saat itu kita merasa menjadi pasangan yang sempurna karena mencinta satu sama lain dengan hebat. Tentu itu juga keberanianmu juga kekasih. Aku yakin mencintaimu tak pernah sia-sia, meski kita tak pernah lagi menandai kebersamaan kita di tahun kelima dan tahun-tahun berikutnya hingga 12 tahun ini dan mungkin hingga tahun-tahun berikutnya.

Jangan khawatir aku bahagia tanpamu meski mungkin lebih bahagia denganmu. Thank You for Loving Me.


Kalau cinta nikahilah, atau kalau cinta lepaskanlah. Quotes yang belum lama saya dengar dari kata-kata bully-nya Debby Niken ini sering kali berulang di kepala saya. Bukan apa atau kenapa, tapi lebih adalah karena bagaimana ini bisa menjadi ikon yang maha dasyat dalam kontemplasi saya menemukan muara cinta kejombloan saya.

parikesit n1nna pernah dengan galaknya bilang: “Aku pernah cium kamu nggak Na?”
Saya yang sedang entah mengembara tiba-tiba langsung terbangun karena kaget, “Enggaklah.”
“Owh, syukurlah. Seingatku hitungannya kurang dari satu tangan sih, orang yang pernah aku cium. Kalau kamu berapa banyak?”
Melek langsung mata yang semula masih sayup, “Ha? Mana aku ingat, malas banget ingat satu-satu.”
“Iya kamu itu mudah sekali menambatkan dan mempercayakan hatimu pada satu orang baru yang sedang dalam masalah, sekarang coba hitung berapa banyak orng yang kamu ajak pedekate?”
“Emm, hmmm, ” loading nggak berhenti-berhenti.
“Banyak kaaan?!” dan ditonyorlah kepala saya sama n1nna.

Ah, jangan mengira jumlah orang yang pedekate dengan saya banyak. Bukan. Sedikit kok. Yang merasa silahkan like, nanti pasti tidak lebih dari dua dozen (eh?). Ya itu kan perkiraan kasar, siapa tahu bisa lebih karena banyak yang merasa, kalau saya tidak mengakui bisa digeruduk lagi saya sama gerombolan kurawa. Dari pada cari perkara, kadang bermain aman lebih baik. Haha...

Jadi dari sekian banyak yang pernah singgah di hidup saya meskipun hampir semuanya hanya berstatus gebetan atau bribik-an itu bagaimana hati saya yang bisa mencintai dengan kaffah (tidak mau kalah dengan keinginan calon rektor UNAIR yang ingin menjadikan kampusnya bermotto kaffah, hati sayapun selalu kaffah dalam mencintai. Mau bukti? Coba saja) bisa cepat move on? Kuncinya ada pada quotes yang awalnya bermaksud untuk membuat saya gentar dari Debby Niken. Beginilah, harusnya bully itu bisa dijadikan motivasi baru untuk bergerak dan melawan kelemahan, biar tidak semakin kalah dengan bully-an orang yang sebenarnya sudah kalah karena hanya mampu mencerca, begitu kan Debby Niken?

Pertama kali kecewa, saya bisa menangis dan berniat menjeburkan diri di kali Jagir berbulan-bulan. Kedua kalinya, saya mulai belajar menjadi pemain, dipermainkan saja bagaimana bisa adil? Dan di situlah dosa yang kemudian berbuah karma saya bermula. 

Menambatkan hati pada adik-adik dampingan yang lemah kemudian sedikit speak-speak, jatuhlah satu persatu dalam rengkuhan saya. Bukan buat main-main ya, saya hanya ingin melindungi mereka dari durjana-durjana di luar sana yang hanya ingin bermain dakon dalam gelap kamar berdua tanpa ada kejelasan masa depan. Hati saya yang sebenarnya belum menerima kesakitan dari putusnya saya dengan pasangan yang kedua, membuat saya menjadi beringas sok menjadi pahlawan pelindung para gegana. Empati yang menjadi simpati, dengan rasa sayang berlimpah yang bukan cinta (ampuni saya para gebetan).
Bukannya saya mau mendiskreditkan Debby Niken yang menjadi jomblo abadi tanpa berhasil memeluk siapapun dalam sekian puluh tahun kejombloannya, tapi menjadi pelindung itu harus totalitas, semua harus dilakukan dengan sepenuh hati. Dan selama jomblo, tidak ada yang salah untuk menyinggahkan hari di mana saja selama memungkinkan dan tidak menyakiti siapapun.

Tapi sekali lagi apa yang tidak sepenuhnya, akan mendapat karma juga dengan ketidakpenuhan buah yang baik. Matang karbitan sebagus apapun kulitnya, rasa daging buahnya akan tetap asam. Begitulah, empat berikutnya pasangan saya (bribik-an tidak dihitung ya, maaf) berakhir dengan kandas yang tidak seharusnya. Meskipun bukan berasal dari saya, kesepenuhan hati itu mungkin membawa dampak yang berbuah ketidakbaikan.
Sadar diri ternyata menjadi titik balik pertama dari landasan utama prinsip move on. Introspeksilah apa sebenarnya kekuranganmu putus dari si mbak berjilbab cantik yang namanya tidak pernah berhenti kau sebut itu Debby Niken. Terimalah bahwa memang kamu mempunyai kekurangan yang membuahkan kesalahan sehingga hubungan kalian harus berakhir.

Dari kesadaran itu, beranjaklah saya dengan mencoba untuk berpikir rasional. Ini bermula dari pasangan ketiga yang waktu memutuskan saya sambil bercucuran air mata bilang, “Aku tidak ingin menyakiti mami papi, Rain, aku mau straight”. Ini jurus paling mematikan dari semua alasan yang harus bisa diterima akal manusia. Mau sampai operasi kelaminpun (ih, nggak bayangin saya punya batangan) belum tentu kita bisa diterima keluarga mereka. Apa mungkin saya bisa menikahi mereka di Indopahit ini? Kalaupun mau saya boyong ke luar negeri untuk menikah dan menetap di sana, apa dia bersedia?

Dari situlah saya mencoba mengerti lagi posisi saya. Tidak ada jodoh yang bertahan selamanya, jodoh sebagai apapun (teman, sahabat, keluarga, pasangan dan musuh sekalipun) memiliki tanggal kadaluwarsa. Karena keberadaan semua di ketidakabadian ini berbatas waktu. Mau dipisahkan oleh putus baik-baik karena tidak lagi saling cocok, atau putus karena salah satu atau dua-duanya selingkuh, atau bahkan yang lebih tragis lagi ditinggal mati, batas waktunya sudah habis.

Ketikapun dipaksakan apa yang akan terjadi? Banyak kan Debby Niken? Mudah bertengkar yang bahkan saling menyakitinya sampai berdarah-darah, rejeki menjadi setidak jelas status dengan gebetan yang hanya singgah untuk melepas rasa sepi. Intinya hanya ketidakbaikan. Lalu kenapa harus dipaksakan? Jika hatimu penuh cinta, harusnya lepaskan dia untuk bisa bahagia dan dapatkan juga kebahagianmu sendiri.

Prinsip move on menjadi sangat mudah setelah sekian banyak kegagalan. Sakitnya hanya akan bertahan sekian bulan, menangisnya akan membuat mata bengkak sampai harus sering dilihat penuh tanda tanya orang-orang di sekitar kita yang peduli atau hanya mencari bahan untuk digunjingkan. Tapi percaya saja, setelah menemukan tambatan baru kita akan mengerti kenapa yang lama memang harus diselesaikan. Begitu bukan Debby Niken?




Ada beberapa orang yang mati meninggalkan sesuatu yang masih berasa setelah lewat sekian puluh atau bahkan ratus tahun; sebuah perjalanan untuk ingatan masa hidup seseorang ketika sudah tiada. Namun tidak sedikit di antara mereka yang menyisakan rasa getir ketimbang rasa lain untuk diingat dalam sebuah cerita, cerita yang akan terus dikumandangkan tahun demi tahun melawan waktu untuk bertahan namun pada akhirnya hilang tidak berbekas, mati mengikuti ajal sang pemilik cerita.

Pagi itu setelah usai menyiapkan dagangan di Parikesit, saya harus ke belakang untuk mengambil keperluan bebersih di teras depan yang kami jadikan tempat berjualan. Di saat melewati ruang baca, saya terhenti. n1nna menangis sesengukan. Semalam dia tidur di ruang baca setelah melalui saat yang berat karena menerima berita teman dan rekan sejawatnya mengalami plasenta akreta pasca melahirkan.

Masih dengan tubuh bergetar karena tangis, dia bercerita kalau temannya baru saja meninggal beberapa saat tadi. Waktu di sekeliling saya seolah berhenti. Saya bahkan tidak merasakan bisa bernafas dalam hitungan detik hingga akhirnya berhembus seakan tidak mengenal henti. Selamat jalan siapapun engkau.

Saya memang tidak mengenalnya secara personal, sejenak saya menyampaikan duka pada semesta untuk mengantarkannya menjalani masa setelah kehidupan. Benarkah ada masa setelah kematian? Ah, sudahlah, dia pasti sangat meyakini itu. Semoga semesta menerima jiwamu untuk terus hidup di dalam setiap diri yang kau tinggalkan dalam kenangan baik.

Saya bersedih bukan hanya karena kepergiannya, tapi melihat n1nna yang menangis karena kehilangannya. Ya, hidup hanya berisi tiga masa pertemuan, melewatinya melalui setiap masa-masa sulit bersama, lalu pergi untuk mati atau pergi begitu saja karena memang tidak memiliki visi yang sama dalam menyikapi hidup. Menurut apa yang diyakini sahabat n1nna, ia mati dalam syahid setelah berjuang untuk melahirkan ditambah pula ia mengalami kematian di hari yang diagungkan agamanya, hari jumat. Menurut salah satu hadis yang cukup sahih periwayatnya: “Syahid ada tujuh macam selain gugur (terbunuh) di jalan Allah; orang yang mati karena penyakit lepra adalah syahid. Orang yang mati tenggelam adalah syahid, orang yang mati karena penyakit bisul perut adalah syahid; orang yang mati terbakar adalah syahid; orang yang mati karena tertimpa bangunan atau tembok adalah syahid; dan wanita yang gugur disaat melahirkan (nifas).”[HR. Imam Thabaraniy]

Satu lagi duka saya terima baru saja beberapa jam yang lalu, anak dari om-nya Niken, yang merawat keponakannya, meninggal karena gagal ginjal.

Banyak kematian yang membuat saya belajar untuk lebih memaknai hidup. Berlomba dengan sisi egois yang manusiawi melekat dalam diri saya untuk terus berupaya menjadi lebih baik

Merasakan kesedihan karena hal yang seperti ini membuat saya teringat dengan seseorang yang sedang memenuhi pikiran dan perasaan saya akhir-akhir ini. Tentang bagaimana dia melalui hidup dan ketakutan saya. Beberapa kali pertemuan yang singkat, saya secara perlahan mulai menaruh respek terhadap dirinya bahkan angkat topi dengan wawasan yang dimilikinya, karena dengan usia yang masih begitu muda mampu menjadi teman ngobrol ataupun diskusi yang menyenangkan. Tapi sepertinya itu hanya sebatas pemahaman, bukan pengertian yang kemudian dia bawa dalam penyikapan yang bijak dalam hidup seluas pengetahuannya.

Ah, saya memang selalu terlalu berlebihan menyikapi sesuatu. Tapi begitulah saya, melodramatis seperti hidup yang berisi pigura-pigura tentang banyak hal dan orang yang tidak pernah kita kira, harapkan bahkan inginkan. Dua sisi dalam dirinya membuatnya selalu menyikapi banyak hal dalam dua acara pandang yang kontradiktif. Menginginkan tapi juga tidak mau, mengagumi tapi membenci, menghormati tapi sering mengatakan orang tersebut tidak layak menjadi manusia. Bipolar membuatnya sempurna dalam ketidaksempurnaan.

Menyayanginya membuat kita harus bisa memahami cinta yang tanpa syarat. Tapi ternyata itu menjadi sangat berat ketika saya mengira cinta saya sudah tanpa syarat. Terbukti dua mingguan lalu mantannya dengan santai bercerita mereka berhubungan intim lagi (setelah mati-matian pertengkaran dengannya karena kelancangan saya bilang, “Kamu masih miliknya dia,” membuat kami tidak bertegur sapa cukup lama), dia malah beberapa kali masih bercinta dengan orang yang tidak dia inginkan tapi selalu bersamanya dalam hampir semua aktivitasnya

Seiring berjalannya waktu, terlalu sulit untuk menjawab pertanyaan apa yang sebenarnya saya inginkan darinya. Kesibukan demi kesibukan seolah silih berganti mewarnai hari yang harus dijalani. Membumikan mimpi tentang rumah singgah yang nyaman untuk pengembangan diri yang juga memberikan banyak manfaat untuk sekitar. Bahkan ketika menulis ini saya ikut berandai-andai, bahwa saat ini dia mungkin akan melihat bahwa ketidaksempurnaan saya dalam menjalani hidup serupa juga dengannya yang tidak memahami bagaimana menerima ketidaksempurnaannya.

Membaca tulisan ini mungkin sebagian orang akan bertanya-tanya mengapa dia yang saya temui dan kenal dalam waktu yang relatif singkat namun memberikan kesan yang mendalam hingga rela menuangkannya dalam beberapa tulisan saya terakhir ini. Yah, itulah sosok dia yang masih saya kagumi dalam ketidaksempurnaannya. Dia tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat orang lain respek terhadap dirinya dan tulus melihat orang lain sebagai teman untuk sekedar ngobrol, diskusi dan ngopi hingga tetes terakhir.

Seperti yang pernah dikatakan Sir Peter Ustinove, tidak ada gunanya mati jika anda tidak menghantui ingatan seseorang. Jika anda tidak meninggalkan secercah rasa. Diabukan hanya meninggalkan secercah rasa dalam kenangan perjalanan hidup yang saya jalani, sepertinya saya harus lebih keras terhadap diri saya sendiri untuk mencintainya tanpa syarat agar hidup saya (yang tidak pernah saya tahu kapan waktu akan berhenti) bisa membuat tetap dalam batas yang saya bangun dengan susah payah selama ini. Menjalani hidup dengan tanpa syarat, untuk membuat hidup lebih bisa saya tinggalkan dan akan dikenang dalam kebaikan.

Mungkin saya salah satu orang yang menganggap penting eksistensi saya di dunia. Hingga apa yang dipikirkan orang lain begitu penting untuk saya. Tapi, buat saya ini bukan hanya tentang kenangan, melainkan merubah ketidaktulusan yang sudah membusuk dalam setiap diri, hingga hidup orang lain dianggap (hampir semua orang di dunia ini) bukan urusannya, karena tidak penting dan membawa manfaat untuknya.

Untuk saya, hidup adalah menghidupkan. Karena hidup terlalu singkat untuk hanya memikirkan dan menjalaninya (hanya) untuk kepentingan dan kebutuhan diri (kita) sendiri.




Sudah menjelang 2014. Seperti kebanyakan warga dunia, kita pun ikut merayakannya. Kalau dulu mungkin heboh untuk melihat momen akhir tahun, mungkin sekarang lebih karena Tahun Baru adalah liburan, ya ayo menikmati liburan. Ada atraksi yang kita tunggu, tapi saya yakin kita lebih menghargai hari-hari itu karena itu adalah liburan. Hehehehehhe

Banyak kata-kata mutiara atau hadits, entahlah saya memang parah kalau mengingat detail, "Celakalah manusia kalau hari ini sama dengan kemarin." Rasanya semakin tua, saya menyadari kalimat itu. Kalau untuk pribadi saya sadar, saya belum beranjak yang terlalu jauh dari kemarin.

Tradisi Stay in the Closet

Ada yang berubah dari tradisi blog dan perubahan di luarnya. Dulu, blog ini adalah tempat “meludah”, meminjam kalimat Arman Dhani, blogger yang saya idolakan. Yang suka menulis, dari menye-menye hingga postmo  ada di sini. Blog ini jadi buku harian bersama. Di sini dulu minim interaksi antar penulis, yang ada adalah show off. Tidak ada editor maupun sensor. Kalau beberapa isinya akhirnya jadi buku itu adalah cita-cita segelintir penulis. Nekat, meski ada perhitungan bisnisnya.

Sekedar tahu sama tahu, senasib, sehati, se-“closet “. Itulah perkawanan kita. Akhirnya ada hang out bersama, arisan antar kita sendiri. Dalam orientasi seksual, kita masih berpegang pula pada stay in the closet, paling hanya 1 orang yang coming out. Lainnya masih lintang pukang menyembunyikan “status pacar asli” di depan orangtua. Meski banyak yang suspect tapi kondisi sudah 86. Kata orang-orang bisnis, hidup sudah berat ngapain ditambah dengan masalah karena mem-blow up “identitas asli”. Saya memang tidak akan bicara sebab dan pembenaran mengenai pilihan orientasi, karena saya menghargai usia kedewasaan teman-teman memilih dan menjalaninya. Seperti ungkapan latin ubi amor, ibi dolor di situ ada cinta, maka di situ pula ada sakit, barangkali kita semua hendak saling menguatkan tentang cinta yang tertukar, eh.   

Orientasi seksual yang sama namun berbeda dengan masyarakat menjadi kita bersempit-sempit di zona nyaman arisan. Arisan ini sudah berapa periode, ya? Kalau tidak salah sudah periode 3. Artinya 3 tahunan usia blog dan orang-orangnya ini berkawan. Dan sudah saya singgung sebelumnya, dari yang bersempit-sempit itu kita mengalami pasang surut perkawanan, ada yang ditinggalkan, ada yang meninggalkan itu adalah pilihan politik.  Dan kita semua belajar mengapa hal itu bisa terjadi, tentu kita berharap tahun-tahun mendatang tidak akan terjadi.

Tradisi dalam zona nyaman itu saya yakin kita semua akan mempertahankannya. Dengan usia yang produktif, kelas menengah, kita akan  menua bersama tetap seperti ini, seperti yang terjadi di blog. Tiga tahun perubahan blog, hanya warna, simbol yang berubah bahkan pernik lucu seperti jam dan koment sudah hilang.
Apakah kita puas?

Berkumpul, berekspresi, “meludah”, narsis, eksis lalu apa? 

Kalau dalam pergaulan bilateral seorang teman menimbulkan kesadaran spiritual saya tergugah dengan kalimat: sudah lesbian, gak sholat, terus mau nyampah di bumi? – hahaha itu jleb sekali ke saya. Maka konteks berikutnya adalah tentang manfaat kita bagi sekitar kita. 

Alhamdulillah teman-teman yang berjiwa sosial tinggi menularkan virus baik. Sikap baik yang tulus, yang bukan lip service meski kita selalu ribet mencari momen. Dari teman-teman terdekat itu saya mempelajari: kita bermanfaat, kita ada. Iyalah, dalam konteks kecil kita rela dimanfaatkan pacar, kalau tidak rela ya buat apa pacaran?

Teman-teman saya dalam komunitas arisan ini memang menjadi warna, ada yang sok lucu, sok judes, sok imut, sok galau, sok papi-papi tapi gak ada yang sok baik. Apa adanya saja, karena kebaikan tidak pernah bisa ditutupi, ia karakter. Menjadi baik dalam parameter apapun saya pikir itu karena untuk dirinya sendiri sebagai modal berkomunikasi dengan manusia lainnya.

Saya yakin kebaikan yang dilakukan bersama-sama dalam kelompok akan lebih kuat daripada yang dilakukan sendiri. Maka dari itu jangan terkejut bila ada pemikiran akan membangun ini itu atas nama bersama. Teman-teman dapat menyanggah, beradu pikiran, mendiamkan dan meninggalkan. Sahabat bukan seseorang selalu membenarkan tetapi orang yang membuat kita lahir dengan perspektif berbeda.

Kebaikan adalah kebaikan, saya yakin kita akan merasa lebih baik saat berbuat baik. Kata Kaisar Titus, diem perdidi (latin lagi) - Saya telah kehilangan satu hari. Kalimat ini diucapkan olehnya kala ia menyadari bahwa satu hari terlewatkan tanpa kesempatan untuk melakukan hal-hal yang baik/berguna. Tuhan yang saya yakini tak pernah mendiskriminasikan umatNya menurut label yang disematkan kepada kita. 

Selamat menjadi lebih baik dan selamat tahun baru 2014. Peluk dan jabat erat.



Suatu malam di bulan Ramadhan, kami berempat sedang berkumpul di halaman sebuah ruko yang mengelar pasar malam, LDC atau eL, Meg, n1nna dan aku mulai menyisir kios-kios yang menjajakan berbagai macam panganan, melewati antrean orang tua yang mengantrekan anak-anak mereka untuk menikmati permainan di pasar malam. Akhirnya kami duduk di tangga marmer pintu masuk ruko, kami mulai membicarkan keinginan untuk membantu teman-teman lesbian di luar sana, dengan membuat suatu wadah perkumpulan. Dengan antusias kami memulai perdebatan-perdebatan kecil mengenai tujuan dibuatnya wadah tersebut. 
"Kalo gitu eL dan Meg yang bertanggung jawab untuk mencari teman-teman yang lain, karena kalian kan suka online," kataku. eL dan Meg pun manggut-manggut. 
eL mempunyai banyak ide, dan gagasan-gagasannya selalu bagus. Dia anak bungsu dari 4 bersaudara, dia dan kakak keduanya merupakan tulang punggung keluarga. Sebagian besar anak bungsu notabenenya dimanjakan dan terlalu disayang oleh orangtua, tapi tidak dengan eL. Dia benar-benar jauh dari gambaran anak bungsu. eL mandiri di atas kakinya sendiri. Beberapa kali keluar-masuk perusahaan, akhirnya El berpikir untuk membangun usaha sendiri. Usaha bidang IT sampai sekarang digelutinya

Meg pekerja keras, dia mempunyai dua pekerjaan sekaligus. Pagi dia bekerja di salah satu tempat ngopi ternama, dan di malam hari dia bekerja di salah satu tempat hiburan ternama di kota kami. Meg termasuk orang yang peduli terhadap teman. Pernah suatu kali ada salah satu teman yang mengalami KDRT oleh pasangannya, dengan sigap Meg mati-matian membela dan mengamankan teman tersebu. Meg mempunyai perawakan yang bagus, tinggi semampai, cocok kalau jadi seorang model tapi entah kenapa dia kok tidak jadi model saja. Meg tinggal dengan nenek yang mengasuhnya sejak dia kecil. Setelah dia bertemu dengan pujaan hatinya, Meg meninggalkan kami untuk mengikuti pasangannya. Entah di mana dia sekarang dan bagaimana kabarnya, we miss her much

Tahun 2013.
Saat ini wadah ygan kami buat dengan nama deNL sudah terbentuk dan sudah memulai kegiatan-kegiatan positif. Mulai dari menulis di blog, arisan, bagi-bagi sembako, bagi-bagi ta'jil ketika Ramadhan, sampai mengunjungi panti jompo unutk orang-orang yang terbuang. Mimpi kecil kami berempat saat ini sudah tercapai tapi masih ada mimpi yang lebih besar lagi yang masih harus dicapai oleh deNL.



Ruang karaoke itu riuh oleh suara musik dan teriakan melengking mengikuti lirik yang terbaca sekilas lalu. Dia tidak terlalu melihat ke arah layar lebar di depannya. Sekali waktu matanya terpejam merasai makna dari kata-kata yang terlagukan.

“And I'm here, to remind you
Of the mess you left when you went away
It's not fair, to deny me
Of the cross I bear that you gave to me
You, you, you oughta know
You seem very well, things look peaceful
I'm not quite as well, I thought you should know
Did you forget about me, Mr. Duplicity?
I hate to bug you in the middle of dinner
It was a slap in the face
How quickly I was replaced
And are you thinking of me when you fuck her?
'Cause the love that you gave that we made
Wasn't able to make it enough for you
To be open wide, no
And every time you speak her name
Does she know how you told me
You'd hold me until you died
'Til you died, but you're still alive”
(Alanis Morissette – You Ought To Know)

Namanya n1nna, parikesit n1nna. Entah kenapa dia suka menggunakan angka 1 sebagai pengganti huruf I di namanya, n1nna. Otaknya memang jauh di atas rata-rata, itu kenapa dia bisa masuk ke program studi fakultas yang tidak sembarang orang bisa masuk dan bertahan di sebuah universitas terkenal di kotaku tinggal. Kota yang ramai dengan latar belakang metropolis. Sampai saat ini dia masih kuliah untuk mencapai gelar satu tingkat di atas standar mahasiswa.

Jadi, gampang saja buat dia menghafal sekian lirik lagu yang bahasanya susah untuk lidah orang Jawa dalam melafalkan dengan lancar. Begitulah kami biasa mereduksi penat. Karaoke setengah meneriakkan isi hati, curcol atau curahan hati colongan istilah anak mudanya. Kalau kata teman-temanku: “dasar tua bangka bau tanah, nggak tau diri masih saja merasa muda. Hahaha,” terserah mulut mau bicara apa, kesenangan dan apresiasi diri dengan cara yang positif tanpa merugikan siapapun tetap harus berjalan. Dan, malam itupun kami melanjutkan kegilaan, menghabiskan suara berdua saja di ruang karaoke berukuran kecil di dekat tempatku bekerja.

Okey, flashback dari mana kami kenal sepertinya harus aku jelaskan. Aku dan satu orang unik ini kenal dari tahun 2010. Waktu itu aku yang eksis di media jejaring sosial mengadakan acara bakti sosial atau baksos dengan teman-teman komunitas lesbian di kotaku. Melalui satu teman yang ternyata juga temannya, maka terlibatlah dia di acara itu. Aku yang katrok atau kepo merasa dipecundangi oleh kawanan komunitasnya yang ternyata mengejutkan. Sangkaku, dari mengenal temannya itu, aku hanya akan mengenal sekian gelintir orang. Tapi ketika hari H diadakannya baksos bulan puasa itu, sekian puluh massa temannya si n1nna yang aku panggil LCD atau eL itu berkumpul. Aku yang waktu itu sok sibuk sebagai pemilik tempat singgah yang difungsikan sebagai sekretariat berkumpul melihatnya tetap duduk di atas motor matic dengan muka tersangar yang membuatku muak. Bagaimana tidak, dia yang aku tidak kenal tidak sekalipun mau menyapa atau mengakrabkan diri padaku sebagai penguasa tempat.

Kami sama-sama saling cuek. Peduli setanlah si anak jutek. Aku fokus dengan kesibukan membungkusi sekian ratus takjil yang akan kami sebar di perempatan protokol jalan-jalan besar yang dipastikan macet saat pulang kantor menjelang waktu berbuka.

Selesai bungkus-membungkus, aku membuat strategi dengan eL membagi sekian puluh manusia itu dalam beberapa kelompok. Terbagilah kami dalam 4 kelompok untuk masing-masing titik yang menjadi fokus kami membagikan takjil. Sebalnya, aku satu kelompok dengan si jutek. Tapi karena niat baksos lebih mulia, nikmati sajalah kesempatan menjadi diri yang famous tapi tidak terlihat di mata si jutek.

Acara perdana itu benar-benar sukses. Sekian ribu bungkus kami bagikan dalam satu bulan puasa di setiap minggu berjalan efektif. Dari kesuksesan acara itulah kami menjadi dekat. Dengan adanya acara-acara penutupan kepanitiaan, maupun kumpul-kumpul berikutnya.

Singkat kata, ternyata dia menarik juga. Arogansi, egois, pembawaan diri dan sukanya membully membuatku mengingat seseorang. Yang pasti seseorang yang penting, dong ya, di masa lalu. Beberapa hal dalam dirinya mengingatkanku dengan Ing. Perempuan pertama yang aku kejar-kejar sampai membuatku penasaran dan akhirnya terdampar di kota ini.

Dari sekedar nongkrong ramai-ramai, karaokean, itulah kami kemudian merasa saling cocok. Dia seorang Aries, sama sepertiku. Tapi pembawaan dirinya agak berbeda denganku. Lebih keras, tegas, dan yang pasti, bukan martir.

Seringnya bertemu membuat kami lebih dekat. kemudian dia mulai sering ke tempat aku kerja paruh waktu, makan-makan hanya berdua, ngobrol mencari-cari peluang untuk lebih saling mengenal. Kedekatan yang intens itu kemudian membuatku yang sudah sekian tahun jadi magamon (manusia gagal move on) merasa menemukan orang baru yang cukup menarik. Dia domba (baca: Aries) yang sebenarnya lebih mirip Birgus latro si ketam kenari yang merupakan makhluk yang suka sendiri dibawah tanah atau celah-celah bebatuan. Dia menggali tempat bersembunyi di pasir atau tanah gembur. Dia membuat tempat bersembunyi untuk melindungi dirinya sendiri. Dan itulah dia, membuat benteng arogansi dengan sikap juteknya untuk memilah-milah teman yang (banyak) tidak benarnya.

Dari caranya memilah teman itulah aku kemudian belajar dengan tanpa malu-malu darinya tentang menghargai diri sendiri. Selama tiga tahun pasca putus dengan pasanganku, aku menjadi diri yang tidak terkendali. Setiap hari party, dengan geng mbambeters. Minum-minum, menjadi playgirl yang dengan mudah berganti teman “jalan”, menghabiskan uang untuk kesenangan-kesenangan sesaat yang berdampak negatif. Pertemanan yang tidak sehat itu cukup membuatku tidak diterima dengan baik dalam beberapa kelompok yang mengekslusifkan gengku. Aku lebih dikenal sebagai biang party daripada aktivis yang getol membangun komunitas yang berideologi humanis ketika masih bersama dengan pasanganku dulu. I finally back to myself lah setelah dekat dengannya.

Umurnya beberapa tahun dibawahku, tapi memiliki prinsip-prinsip hidup yang matang. Pembawaannya sebenarnya santai, tapi karena benteng yang dia bangun begitu tinggi, banyak yang tidak melihat sisi lainnya yang sebenarnya sejenis dengan ketam kenari, rapuh dalam beberapa hal (sehingga dia perlu untuk membuat benteng yang tinggi), memiliki sisi lunak di perutnya yang rentan terlukai. Darinya aku belajar untuk menerima kelemahan diri dan, konsisten dengan kelebihan, terus mengembangkan diri dan keuletannya untuk tidak berhenti belajar membuatku iri untuk juga mengembangkan diri.

Begitulah kebersamaan kami. Kebersamaan yang mengajarkan untuk selalu mendukung, menguatkan, berbagi hal yang positif untuk tidak lelah belajar menyempurnakan hidup menuju mimpi yang lebih baik.