SING TEKO
Labels
- 2014 (26)
- 2015 (13)
- Agustus (3)
- April (4)
- Arthafreya (1)
- Bahasa (1)
- Bakti Sosial (2)
- Bullying (1)
- Cerita Pendek (2)
- Cinta (4)
- Cook (3)
- DE-NL-ERS (30)
- Desember (1)
- Dream (5)
- Efi (2)
- Erna (15)
- Februari (6)
- heningswara (20)
- Ibu (6)
- Januari (7)
- Juli (1)
- Juni (2)
- Kepada Rangga (1)
- Kontemplasi (26)
- Laki-Laki Terindah (3)
- LDC (24)
- Lesbrary (4)
- Liburan (1)
- Logo (1)
- MadRann (83)
- Maret (4)
- Maybe Yes Maybe No (3)
- Megha (7)
- Meghi (1)
- Mei (3)
- Mengeksekusi Hubungan yang Melelahkan (1)
- Merdeka (3)
- Meta (1)
- Mimpi (3)
- Missing Her (3)
- Move On (5)
- n1nna (1)
- Nadia (1)
- Neni (5)
- Niken (49)
- November (1)
- Oktober (2)
- Opini (1)
- Pahlawan (4)
- Puisi (94)
- Pusing (6)
- Rara (2)
- Resensi (7)
- Safe Sex (2)
- Sahabat (24)
- Self Awareness (3)
- September (2)
- Special Case (15)
- Tips (10)
- Vany (2)
Entri Populer
-
I’m tired not to not think about it About you and all your overwhelm words about her Say that you being egoistic to your self for loving h...
-
Judul buku: Flambe Penulis: Club Camilan Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Kota dan tahun terbit: Jakarta, 2014 Genre: Novel Dewasa ...
-
You came to save me when I needed a wide shoulder to cry on You gave me the cheers when the loneliness came I never paid attention before ...
Kontributor
Bukan hanya pada gemerisik daun
ranting-ranting yang terayun
bunga-bunga bergoyang menahan terpa
kibaran umbul-umbul di jalanan
Semilir angin di taman ini
membawamu pergi juga, kasih
Aku pun bergetar
Pertemuan yang lama diangankan
lalu ditindas waktu begitu saja
Percakapan yang canggung
kata-kata perpisahan
lahir dari perasaan yang tak diungkap
dan kosongnya harapan akan pertemuan kemudian...
Ah, sudahlah!
Kelabu kamar kosong
pakaian yang tergantung di dinding
berseraknya catatan buram
detak jam dinding
gerunyam perasaan sendiri
sudah menunggu
Biarkan saja taman ini
tak punya kenangan pertemuan itu
Supaya ketika singgah lagi dari jauh
tidak jadikan tempat ini
sebagai rendezvous.
Bagi dia, dan tentu saja aku,
cahaya matari yang menerobos celah tanah itu
adalah cinta, nona.
Akan, tentu saja aku juga, dia belai
jatuhnya sinar di dinding itu
telapak tangannya akan disentuhkan
pada sinar itu.
Jika petang tiba
dalam guanya yang lembap dan dingin
dia hayati detik-detik lenyapnya terang.
Tiap malam cahaya itulah yang diimpikannya.
Karena itu teruslah bersinar engkau,nona
cahayamu yang berhamburan di luar sana
mendapat tempat jatuh dari beledru sutra
dalam lubang gelap ini.
Dia akan melukis tempat ini
mengabstraksi gelap terangnya
menulis harapan dan impian hati kecilnya;
'kan dia kabarkan pada dunia
deritanya di bawah tanah
supaya semua orang tahu
dia juga hidup di antara mereka.
Dan khusus untuk aku dan engkau, nona
jangan buat dia sadar
bahwa cintanya tak berbalas.
Biarkan dia mati menggenggam cinta itu
Doaku: "semoga kehadiran kami
tidak menjadi beban
yang memberati pundakmu!"
Sudikah engkau, nona?
Sekiranya pertemuan itu objek kongkret
Akan aku bingkai dia dalam hatiku
lagi dan lagi tiap suara
rona riak air muka
geletar hasrat yang begitu dekat
supaya dapat aku rasakan lagi
ketika rasa ingin bertemu
terbentur dinding ketiadaan
Tapi pertemuan itu tinggal jadi objek abstrak
Dan memang begitulah dia
nyata dalam mimpi dan lamunan
Seperti sekarang ketika menatap
butir-butir hujan jatuh
lalu lenyap dari permukaan
merasuk kealam ketiadaan
lewat celah-celah tanah
Sisakan separuh gelas dari minuman itu
Supaya yang aku tatap disini
bukan hanya botol-botol kosong
angan-angan akan wujudmu
dan kenangan hadir menyertai engkau
Tapi juga pintu untuk memasuki jiwamu
lewat bekas di gelas bibirmu..
Antara mimpi dan kenyataan
dan lurah curam untuk didaki
ke mana pun arah memandang
Takut dan gemetar tubuhku
Padas tempat aku bergantung
Tak lebih tajam dari pecahan gelas
Jari-jariku mengelupas...
Jangan habiskan minuman itu
Lihat arak itu bergetar di atas meja
Rasakan kekosongan di baliknya
Lewat lubang itulah aku mencoba hadir...
Beberapa waktu tanpa kehadiranmu
Gegas seolah makin memanjang
Matahari kehilangan tinggi
Di antara langkah yang semakin cepat
Rindu menggantung
Tak terpenuhi juga harap ini
Ketika takdir hampir menjelma mimpi
Dan, nadi ingin berontak
"Namamu mulai menjadi darah mengikat dan menagih di hari-hari yg resah"
Marahkah kita pada rasa itu?
Tak mengapa,
Bagiku masih menyisa
Suatu kali, kita akan kembali duduk divsini
Di antara dinding kota, senja yang terbangun, dan jarak yang semakin akrab
Maka, bicaralah kita
Kali ini, di mana rindu kita biarkan menyisa?
Jangan meninggalkan panggung, bisiknya
Berdirilah dengan tegak, kau dan kakimu sendiri
Lampu-lampu memang kadang membuatmu silau,
Tetapi kau tahu, di balik itu semua,
Kaulah yang memegang kendali cerita
Jangan meninggalkan panggung, terutama saat cerita sudah dimulai hampir setengah
Percaya saja, pada tanganmu dan dialog-dialog yang sudah kau hafal
Hatimu akan menemani dalam semua adegan
Jangan, jangan pernah meninggalkan panggung
Karena pada akhirnya, kita semua akan mendapat peran
Meski entah di adegan keberapa
Kau tahu, kan, dialogmu adalah milikmu sendiri
Tak akan ada yang bisa menggantikan
Percaya saja
Penonton yang mungkin menudingmu,
Sebenarnya menggagumi keberanianmu,
Penonton yang mungkin meneriakimu,
Sebenarnya menyesali kesempatan yang kau miliki
Jadi, jangan pernah meninggalkan panggung
Tunggulah adeganmu
Nikmati dialogmu
Resapi lakonmu
Jangan, jangan pernah meninggalkan panggung
Karena pada adegan yang kau mainkan, selalu ada doa yang dititipkan
Secangkir mimpi dari langit yang koyak separuh
Frame-frame masa lalu yang semakin terlihat rapuh
Mengantung tanpa ada yang peduli
Di tiang-tiang listrik kota, di persimpangan mimpi-mimpi alpa
Kaukah yang menjelma perempuan itu?
Menaruh nasib terlalu dekat dengan persimpangan
Meski di sana, lampu memerah begitu cepat
Dan, kau tak pernah tahu, jika sebentar saja berjalan lambat
Doa-doa baik akan dicegat
Diambil mereka yang lebih dulu mampu mengingat
Dentang terdengar dari stasiun kereta
Mengabarkan harapan yang baru saja turun
Atau sekedar membawa rindu yang tertukar dari stasiun ke stasiun
Kau semakin menjelma perempuan itu
Meratapi kota dan orang-orang tergesa, yang tak lagi menjanjikan akhir bahagia
Mereka yang lupa akan dongeng-dongeng hampir sempurna
Lalu, kau tak lagi bertanya
Memilih menyerah pada orang-orang yang menudingmu
Pada nasib dan kabar buruk yang mereka jejalkan dalam kantung hidupmu
Kau semakin menjelma perempuan itu
Lalu, pada dentang jam keberapa kau akan pulang ke takdirmu?
Perjalanan bukan hanya tentang satu dua persimpangan.
Dan, yakinlah,
ketika kau tak bisa kembali ke persimpangan yang terlewatkan, memang seperti itulah cerita dalam sebuah perjalanan: menemukan dan melewati persimpangan.
Satu-dua, bahkan tiga pesimpangan.
Dan, setiap persimpangan akan selalu punya cerita.
Kau hanya berhak mengabadikannya, bukan memilikinya
Di antara dinding kota, senja yang terbangun, dan jarak yang semakin akrab
Maka, bicaralah kalian
Tentang gedung dalam lukisan sephia
"Kali ini, di mana rindu kita biarkan menyisa?"
Tentang kurcaci dengan senyum yang pedih
"Adakalanya cinta, benar-benar tak sanggup membuatmu lupa"
Tentang kunang-kunang di malam yang terang
"Mungkin, tak ada salahnya berhenti mencari jawaban"
Suatu kali, kenangan dan dirimu akan kembali di sini
Di antara dinding kota, senja yang terbangun, dan jarak yang semakin akrab
"Kau dan aku kehilangan nama, tertinggal di dalam doa yang tidak lagi pernah menjelma"
Kau dan kenangan bicara
Di antara dinding dari senja yang berjarak
Dan semakin akrab.
(Persembahan untuk ulang tahun n1nna dan akhir dari sebuah perjalanan, juga harapan untuk Nia)
1
biar diam pecah di bismilah batu-batu
takkan patah alif-alif tiang perahu
tempat berkibar biru senja gugusan cintaku
mengarungi namamu di keluasan tubuhku
2
dari tubuhku berlahiran kunang-kunang bianglala
di lengkung bianglala matahari pun terbakar
di gemercik sungaiku batu-batu memadatkan suara
di lengkung suara diammu pun pasti kudengar
3
kudengar juga puisimu di derit-derit pintu
ketika angin memainkan sunyi rumahmu
kucari-cari engkau di linang airmataku
ketika angin mengabarkan isak rindumu
4
yang berlinang di airmatamu adalah rinduku
di airmataku rindumu berlinangan juga
yang berenang di air tubuhmu adalah cintaku
di air tubuhku cintamu mengekalkan bianglala
5
berapa lama aku harus memeras sunyi
seribu bulan ataukah sepanjang diam atas debu
di balik malamkah wajahmu sembunyi
ataukah di kedalaman cintaku
6
ah, di kedalaman cintaku wajahmu sembunyi
membakar gelisah di tungku matahari
di geriap darahku nafasmu begitu sunyi
memutihkan rangka tulang-tulangku lagi
7
engkau geriap darah di kemarau tubuhku
gugur angin kering dan basah kulitku kembali
daunan pun tumbuh dari ajal-ajal kuku
sebab tanganmu hijau pupus bergaris januari
8
sebab tanganmu hijau pupus bergaris januari
di jemariku takkan tumbuh kuku yang lain
sebab tanganku garis putih berembun februari
lekuk jemarimu takkan bisa di buku yang lain
9
di buku-buku tubuhku ilalang mengering
pecah kemarau dan tanah tinggal ruas sepi
hanya tanganmu, hanya tanganmu tak pernah kering
menyalami ilalang sebelum mengabu di sepi api
10
karena cemas dicabik-cabik layar waktu
kujahit cintaku di angin semilir
lalu aku pun kembali pada batu
menikmati diammu di ricik-ricik air.
Kita tak boleh lupa seterusnya ada Zawawi Imron, Caknun, Gus Mus dan nama yang berkibar di panggung lokal. Ada Mashuri, Tengsoe Tjahyono, Surabaya, Dimas Arika Jambi.
(Zawawi Imrom)
di atasmu, bongkahan batu yang bisu
tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa
biar berguling di atas duri hati tak kan luka
meski mengeram di dalam nyeri cinta tak kan layu
dari aku
anak sulung yang sekaligus anak bungsumu
kini kembali ke dalam rahimmu, dan tahulah
bahwa aku sapi karapan
yang lahir dari senyum dan airmatamu
seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah,
sebasah madu hinggaplah
menanggung biru langit moyangku, menanggung karat
emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua
di sini
perkenankan aku berseru:
-madura, engkaulah tangisku
bila musim labuh hujan tak turun
kubasahi kau dengan denyutku
bila dadamu kerontang
kubajak kau dengan tanduk logamku
di atas bukit garam
kunyalakan otakku
lantaran aku adalah sapi karapan
yang menetas dari senyum dan airmatamu
aku lari mengejar ombak aku terbang memeluk bulan
dan memetik bintang-gemintang
di ranting-ranting roh nenekmoyangku
di ubun langit kuucapkan sumpah
-madura, akulah darahmu.
Mungkin seperti inilah penampakan puisi gelap :
Chanel OO
Permisi,
saya sedang bunuh diri sebentar,
Bunga dan bensin di halaman
Teruslah mengaji,
dalam televisi berwarna itu,
dada.
1983 (Karya Sapardi Djoko Damono)
Tuan
Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang keluar.
(karya Afrizal Malna)
Sangat berbeda dengan puisi pamflet Wiji Thukul:
P E N Y A I R
jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis dengan
tetes darah!
sarang jagat teater
19 januari 1988
Kemudian era gegap gempita media facebook dan mikrobloging yang memunculkan “penyair” baru. Saya menominasikan tokoh KRS- Alek Subairi, Dodi Kristianto, parikesit n1nna dan Irwan Bajang. Semoga mereka konsisten menulis puisi, mari merayakan puisi. Ingin tahu puisi mereka? Coba cari di buku atau di media maya.
Aku mungkin diam
tetapi bukan seperti
diamnya batu-batu yang memiliki ketabahan permulaan
barangkali
Ibu merahimkan aku dari
kesakitan atau kasih sayang, siapa yang tahu?
Aku belajar mengaji
masih dari tegaknya alif
belum seperti bejana yang selalu
menerima airmu tanpa pernah penuh
Ibu melahirkan aku dari
derita atau tenunan cinta, siapa yang butuh mengaku?
Katakanlah aku Malin
dikutuk selalu berlayar sebagai batu
Maka lepaskan aku sebagai anak panah
yang kau lepas atas nama keharusan, apapun
Sesiapa tak perlu bertanya:
Siapakah yang akan pulang?
Aku yang rindu padamu
atau aku yang sekedar bertamu padamu
15.10.2012
![]() |
| Foto: Batu Malin Kundang |
1.
Puisiku kemarin itu adalah tentangmu
tapi kata-kataku sendiri yang melahirkan rindu
dan tentu kita menakdirkan sendiri untuk saling mengecup
dengan bibir
dengan mimpi
setelahnya kecupan terakhir kita adalah untuk meneguhkan kepahitan
saat kita tamatkan dosa dengan senyuman.
Kau bersama dirimu
Aku bersama ingatanku
2.
Aku menyebutmu kekasih
dan pasti kau tak berani menyebutku kekasih
kau terlalu mencintaiku
dan karenanya kau mengasingkanku
3.
Aku merayakan rindu dengan kata-kata
puisi picisan, sedikit cerutu, sedikit arak
tawa tertahan, isak tertelan kemudian
kisah-kisah murahan yang menyita sedikit waktuku
dan selalu kuselesaikan dengan
cupang dan tamparan di akhir tiap bulan
4.
Kamu melahirkan puisiku, meski rindu yang menulisnya
Aku merayakan merindumu
Dan kata-kataku menolak lupa
Seandainya aku tak pernah ada
Di tapal batas pandangmu
Barangkali kamu tetap berdoa untukku
Sebab bukan karena aku
Tapi hatimu yang mencintaiku
Seandainya aku tak pernah singgah
Pada waktumu dan rumahmu esok hari
Barangkali kamu tetap menungguku
Sebab bukan karena aku
Tapi hatimu yang menisankan namaku
Seandainya aku tak pernah
Bertanya apa kamu baik2 saja dan bahagia tanpaku?
Barangkali kamu akan bahagia dan baik-baik saja
Sebab bukan karena aku
Tapi kau yang tak ingin melihatku terluka jika melihatmu bersedih

Puisi-puisi karya Niken KW, Eugene Alexis, Endang SSN, Roy Tigor dan parikesit n1nna akhirnya dibukukan oleh dbuku. Bicara (bukan) Pada Sunyi, Sekumpulan Puisi Cyber beranekaragam isi, ada yang biasa-biasa, ada yang mengejutkan, ada yang penuh caci maki, ada yang iri-dengki, ada yang manis, disertai banyak rasa lain.
Keberagaman secara sederhana tentang cinta, hidup, memilih jalan hidup, jalan hidup, perjalanan berusaha dimaknai oleh kelima penulis ini. Persis membaca buku pedoman, penulis seolah membolak-balik halaman, berusaha untuk mengerti dan lebih mengerti lagi, lalu bingung, membolak-balik halaman lagi, berusaha mengerti dan lebih mengerti lagi, mencapai suatu kesimpulan lalu kesimpulan itu ditentang sendiri. Terus dan terus. Seperti orang yang sedang belajar.
Meski buku ini berisi puisi-puisi yang sangat sederhana, beberapa sangat kiri, namun kesederhanaan itu seolah bersinergi dengan keinginan belajar yang sangat besar dari penulis untuk membuahkan buku bergambar bibir-bibir manis ini mewarnai jagad perbukuan.
So easy to define me as "I"
No plural things, always to be a singular in anything
Like me, that always see you as a someone solely
Difficult to be replaced from other
But the fact is, I, am being removed from anyone’s memory
Cannot see it in the whole thing
I, just too arrogant to be solo in a whole wax
The truth is, I just part of the messy things that happen
я и мои немощи
(Ya i Moi Nemoshchi)
I and my infirmity
To be united in a particular form
That become me as a some one (1)
I know
There must be some longing feeling right now
Remembering the time when we were around
Laughing at our jokes that sometimes worn out
Flirting to the people that passing by on our way
And when there is no one noticed at us
We just steal our kisses
And laughing at our foolishness
I know
There must be some yearning feeling
Brought to mind the moments that we were stick together
Feel the heat of our body
Hear the beat of our heart one to another
Just can't be apart of us even a single minute
We hugging so tight in every night we slept
And there a smile on our face
We have on our same dreams
And I know
I still recognize that feeling
I've known by those feeling
I do not care
With what has happened to me
Saw you walking away
Rejoice and find your happiness
With someone else
I tried to smile as well
And feel what you feel happy today
I see your face shining and crystal clear
Like I have not seen you before
I wish I could make you like this now
I'll be very happy
Above all
I do not care about myself
I'm just glad to see you happy
So different now with the time you first
See you smile when you’re with someone else
The smile that I have not seen before
When with me
Sitting alone in a city park
Under the auspices of artificial light orange-colored garden
See the people passing through
And foreign sound of the cars roar in the air
In a crowded street
Everything seems alive and moving
Refraction of light rays that night
Forming a face looming in memory
Smiled as if she were present and accompanied
Wandering a mind and possessed me
As usual
I smiled and let the shadow of you
Accompany
Under the auspices of the park lights and crowds of foreign voices
I'm drowning in my loneliness
With the shadow of you
In this park
The rain just came
Left it marks between the tread
And grass sparks luminous
Give a heart shape
Among a pool of water and sparks
The sky appears white and opaque
Accompany a gloomy cloud
Remembrance of rain had just passed
Not to linger
Only briefly
And still feels the color
Among the pines' top
And the smell that permeated
Between the soil and wet leaves
And the wind carrying wounds
Scurrilous imprint om the face of the cloud
Imprint and opaque
Kali ini, sekarang
Di tengah hari ini
Suara angin, berbicara bahasa asing
Di atas atap, di antara daun-daun
Aku bisa mendengarnya, menceritakan tentang waktu yang hilang
Ketika masih bisa melihat tawa dan ceria
Di mana kamu?
Kamu yang biasanya berada di dekatku
Berbagi senyum
Menyapu air mata pada dosa-dosa kita satu sama lain
Saling menggoda dengan tatapan
Kulit dengan kulit
Bibir dengan bibir
Di mana kamu?
Kehadiranmu di masa lalu
Aku kehilangan jejakmu
Sekarang
Sekarang ini
Di hari-hari ini
Di antara tumpukan note-note kecil
Di bawah tray dokumen-dokumen kerjaku
Di bawah kertas-kertas kecil lainnya
Terlupakan dan tidak bertanggal
Tertulis
"Aku tidur dalam sadarku
Bangun dalam tidurku
Tidak tahu mana yang nyata
Kepergianmu
Atau rasa sakit ini?
Semuanya begitu tidak nyata
Tapi benar adanya
Aku tersesat dalam kenyataan"
Membaca ini,
Seakan aku berada di tempat lain
Dan waktu lain
Jiwa dan raga lain
Yang sebentar datang
Untuk memberikan pesan
Yang tertinggal dan terlupakan
Dalam secarik kertas kecil
Me against these days
Having all ally with coffee shake
I surrender to those silence
And unspoken thought
My friend
I'm giving up
Coffee shake is all my ally
Inspite of you
Just give me a sign
When we can toast as a friend
Like we used to
And a cup of coffee shake is my ally
For you is a glass of milk
It's a lazy afternoon
Where I lay my down my body on the bed
Scratching the words, feeling kind of something
I let my mind imagining the blue of the seashore
With the warm sunshines
And I've been expecting the one to come along
In the summer breeze of a lovely season
I've been traveling somewhere
When I got shattered in the garden of roses
Felt I have been there before
When my heart said so,
Expecting the one to come along
With the look of love
Just like a star sparkling
In the summer night of a lovely season
I close my eyes to recognize
Piece by piece the views that has appeared in the mind
I can feel the sense that I have been there before
In the small house near the forest
Where the hills watching us through their valleys
And the bright blue lake spread the lovely scenery
Just like a thousand diamond
Dancing with the sunray
I feel the one, grabbing my hand
Together to see the charming expression of the nature,
Greeting us in the spring life
I can feel my heart just start to bloom
Eager to release the feeling of peace and comfort
On my shoulder of the one
Begitu nyata dan juga fatamorgana
Ketika berbicara tentang rasa
Dia akan berteriak dengan lantang
Lewat jeritan hatinya
Dan mulut yang terdiam
Yang akan menggetarkan tanah berpijak
Angin yang mencerabut semua yang disentuhnya
Menimbulkan badai yang pernah ada
Di setiap pikiran yang terlibat di dalamnya
Sangat mematikan
Perempuan sebuah fatamorgana
Manisnya bibir ketika saling mengecup
Adalah sebuah awal perjalanan yang tidak nyata
Hati akan terdiam dalam dinginnya udara
Juga akan membara dalam lautan luka dan kecewa
Ketika tersadar
Seperti hidup dalam dunia mimpi...
Hanya bekas carut di hati yang ada
Dan rasa sakit yang nyata
Dia akan berjalan dan menghilang dalam benjana rasa yang baru
Aku tidak percaya pada perempuan
Tetap hati ini tidak bisa berpaling akan sosok mereka
Anggun juga menghancurkan
Diam juga memporak porandakan
Manis juga sangat mengiris berserpihan
Tetap aku tidak bisa lepas dari mereka
Untuk merasakan sakit yang lebih dalam lagi
Dalam pelukannya
Perempuan
Apa yang membuat hati begitu bebal
membalut luka dengan serpihan-serpihan garam kenangan
menambah busuk ingatan yang tersisa
ingatan yang masih lama bertahan
dari semua yang sudah usai
di dalam raga ini,
hanyalah seorang yang berhati setipis bulu
tidak berani menghadapi apa yang telah terjadi
ataupun yang akan lewat
hanya berani menantang,
lewat nyalat mata yang beku
bergemeretak miris pecah
dan jiwa yang memberontak
menyalahkan raga yang terdiam kaku membisu
ingin rasanya melepaskan diri sejenak dari raga
yang terlalu sombong untuk berserah pasrah
menyejajarkan badan dengan bumi
begitu nyala
masih luka ini berbalut
terlalu
sampai jiwa enggan tuk berbagi dengan raga
A message left in the answering machine
play a sound of grieving from a little girl
she's been looking the life in the other side
where everything seems so hard and out of her thought
she call up in the middle of the night
telling that the past always haunt her wherever she hide and walk
she couldn't take it anymore
that everything seems so dark
force her to cry and break down
accepting all the wound and hurt
feeling that still burning in her heart
hoping for the breeze swept the mourn
wanting the answer
just waiting for the answer that unspoken
only reality that a little bit bump her hardly to the ground
just be strong my girl
just be brave
you've been surviving
and you will
now and then
Whenever i got sorrow
i feel there is someone
that laugh over my pain
whenever i got happiness
i feel there is someone
that laugh over my joy
whenever i got cheer up
i feel there is someone
that laugh over my life
whenever i got worried of my life
i feel there is someone
that laugh over my chicken shitt
whenever i got confident in my day
i feel there is someone
that laugh over my ego
whenever i got consciousness in faith
i feel there is someone
that laugh over my trully will
whenever i got pain
i feel there is someone
that laugh over my wounds
whenever i got numb myself
i feel there is someone
that cry over my dead body
whenever i got silent
i feel there is someone
that cry over my poor mind
whenever i got dumb
i feel there is someone
that cry over my ass
whenever i die
i feel there is someone cry over my frozen soul
i see cry and laugh
over my beautiful ordinary life


.jpg)
