SING TEKO
Labels
- 2014 (26)
- 2015 (13)
- Agustus (3)
- April (4)
- Arthafreya (1)
- Bahasa (1)
- Bakti Sosial (2)
- Bullying (1)
- Cerita Pendek (2)
- Cinta (4)
- Cook (3)
- DE-NL-ERS (30)
- Desember (1)
- Dream (5)
- Efi (2)
- Erna (15)
- Februari (6)
- heningswara (20)
- Ibu (6)
- Januari (7)
- Juli (1)
- Juni (2)
- Kepada Rangga (1)
- Kontemplasi (26)
- Laki-Laki Terindah (3)
- LDC (24)
- Lesbrary (4)
- Liburan (1)
- Logo (1)
- MadRann (83)
- Maret (4)
- Maybe Yes Maybe No (3)
- Megha (7)
- Meghi (1)
- Mei (3)
- Mengeksekusi Hubungan yang Melelahkan (1)
- Merdeka (3)
- Meta (1)
- Mimpi (3)
- Missing Her (3)
- Move On (5)
- n1nna (1)
- Nadia (1)
- Neni (5)
- Niken (49)
- November (1)
- Oktober (2)
- Opini (1)
- Pahlawan (4)
- Puisi (94)
- Pusing (6)
- Rara (2)
- Resensi (7)
- Safe Sex (2)
- Sahabat (24)
- Self Awareness (3)
- September (2)
- Special Case (15)
- Tips (10)
- Vany (2)
Entri Populer
-
I’m tired not to not think about it About you and all your overwhelm words about her Say that you being egoistic to your self for loving h...
-
Judul buku: Flambe Penulis: Club Camilan Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Kota dan tahun terbit: Jakarta, 2014 Genre: Novel Dewasa ...
-
You came to save me when I needed a wide shoulder to cry on You gave me the cheers when the loneliness came I never paid attention before ...
Kontributor
Menghilangkah aku?
Tidak, kisanak.
Aku sibuk dengan waktu, dengan proses, dengan jatuh-bangun yang aku namai perbaikan diri.
Aku masih sangat ingat di kamar spesialku di lantai dua, di rumah Jagir. Saat ada aku, n1nna, Aya, Megi. Saat gila bersama puntung rokok di ujung bayang bulan. Khayalan kami berpendar, meloncat kegirangan, berbusa, dan berucap apa saja tentang masa muda. Sampai kata-kata deNL ini terucap. Dan masih tetap dengan jiwa muda kita yang muluk-muluk, segala asa, segala rencana kita panjatkan hingga berarak pagi.
Detail-detail asa terus berusaha kita wujudkan. Baik dengan berempat maupun rame-rame. Revolusi. Rotasi.
Rectoverso! deNL tetap tumbuh dan tumbuh bahagia, aku saksikan dari jauh.
Dan meski bukan dengan wadah yang sama, naluri berjuangku masih sama, kawan. Meski dengan cara yang sangat berbeda, sebagian diriku masih sama. Aku tetap ingin menjadi sedikit penerang walau dalam sudut ruang tergelap.
Dan di ranah ini..deNL punya saudara bayi :) Kami menamainya SRIKANDI DEWATA.
"Love n Care," itu bukan cuma slogan. Karena aku berusaha membangun di tempatku, berpondasikan itu.
Wilayah cakupannya sangat kecil, tapi aku berharap bisa maximal. Sangat kecil karena dimulai dari diri sendiri. Kami berjuang saling memberikan ilmu melalui program pengajaran sesama member untuk meningkatkan kualitas dan kualifikasi diri. Baik secara ilmu pengetahuan, olah raga bersama, maupun beribadah bersama (dengan masing-masing subkeagaamaan).
Bisa maksimal karena kami berharap dengan meningkatnya kualitas dan kualifikasi diri kami semua. Kami mendapatkan penghasilan lebih layak....untuk bisa disisihkan lebih berbuat lebih dan lebih untuk mewujudkan CINTA selanjutnya yaitu pada masyarakat.
Di sini kami beruntung, karena lingkungan yang free membuat kami lebih leluasa dalam action berjuang. Banyak pejuang LSM serupa di sini juga yg saling mendukung.
Apakah aku memuja ke-straightless-an ini? Bukan. Sekali lagi aku tetap ingin menjadi sedikit penerang walau dalam sudut ruang tergelap. Mari perbanyak kebaikan, dibandingkan dosa yg sudah jelas, krn siapa tahu ini akan memperberat timbangan amalan baik kita, sehingga kita semua...para pejuang straighless ini...bisa lebih bermakna dan bertemu lagi di surga kelak (Amin).
Ini adek bayinya deNL. Info-info ya kalau mungkin ada yg bs kita kerjasama/ kolaborasi dlm karya dll ;)
Dalam jauh, aku masih terus mengamatimu...dan berjuang meski dlm cara berbeda. Ini salah satu perwujudanku sbg cinta dan peduliku (masih) buat DeNL :)
Lama berantah, tak pernah cukup kata aku bisa gambarkan bifurkasi petualangan yang aku jalani tanpa kalian, sahabat dunia keduaku, itu yang selalu aku sebut.
Entah dinamai tersesat, menemukan orang yang salah di waktu yang tepat, atau menemukan orang yang tepat di waktu yang salah. Dua-duanya sangat memerah otak dan dayaku beberapa tahun ini.
Kalian pasti paham, mungkin masih teringat, betapa ngeyelnya seorang aku dalam mempertahankan cinta. Entah dilabeli benar atau salah. Aku merayu, aku merajuk, aku mencandai, aku mencumbu, aku menangis, dan aku menangkis. Kadang aku mengucap cinta untuk mendatangkan cinta, dan sering aku berucap benci agar bisa mengusir cinta.
Dan pada hitungan ke tiga puluh lima purnama aku jalani tanpa kalian, aku sibukkan diri menjadi seseorang lebih baik, lebih tepat dan lebih pantas dicintai. Harapku sederhana, seperti kalian semua mungkin. Kalau bisa yang kali itu akan selamanya.
Tapi...aku kembali kandas. Aku runtuh pada satu judul: PENGKHIANATAN. Rasa sakitnya tidak pernah melebihi ini, kawan. Seluruh perjuangan, kengeyelan, darah, air mata, hancur jadi satu dalam sublim KESEPIAN.
Bukan tentang 35 purnamanya, toh aku pernah melewatkan lebih dari 60 purnama bersama seseorang terdahulu. Sudah kupertaruhkan semuanya, bahkan yang tersisa yang aku miliki...yaitu keluargaku. Sudah kuanugrahkan waktuku untuk bekerja sekeras mungkin demi mengukir bahagia dalam semyumnya. Sudah kuserahkan bahkan kepalaku dalam genggaman dia, hanya demi dia yang aku pikir selamanya. Dan betapa butuhnya aku menunjukkan bahwa aku TIDAK PANTAS DITINGGALKAN lagi.
Aku runtuh, sakit. Aku habiskan puluhan malam mengutuk diriku sendiri yang tidak mampu mempertahankan lagi, mengutuk kurangku apa lagi, menghukum diriku sendiri dengan tidak pantas makan enak, dengan memasukkan rokok sebanyaknya.
Meski....aku masih bisa mendengarkan hatiku memohon tidak memasukkan narkoba dan alkohol pula. Masih baik pada diriku 'kan?
Dalam detik sunyi aku coba mengerti esensi. Apa..kenapa..tak pernah cukup ribuan orang bisa menjawabnya. Kata hatiku semakin aku kesampingkan, diriku makin tak terarah tanpa siapa-siapa. Meledak.....dan....arrrgghh.
Allah baik, setidaknya meski sempat aku siksa dengan aku bungkam, tapi hatiku masih belum mati, meski dekat dengan sekarat. Detik-detik otakku sudah tidak mampu berpikir tiba. Masih, saat itu aku namai lonceng kematian. Karena aku sudah sangat-sangat pasrah, kulit ari jiwaku aku rasakan mengelupas semua, bening ucapku sudah tidak bersisa....mengerucut...dan mengerucut. HANYA PADA TUHAN SEMUA KEMBALI, HANYA PADA DIA HARUS AKU SANDARKAN.
Dan rasa limbung itu sudah tiada. Aku kosong, aku nol. Aku melayang. Aku melenting dan jatuh ke tanah terdasar dengan perasaan sangat ringan bahkan untuk tersenyum. Melepaskan apa yg sudah Allah titipkan untukku dulu. Mempercayakan atas skenario selanjutnya. Dan....IKHLAS.
Sejak saat itu aku sudah tidak mau lagi meraung raung. Aku sudah tidak sudi berderai air mata untuk pengkhianat, dan aku bisa mengatakan: AKU TIDAK PANTAS BERSAMA ORANG YANG TIDAK SETIA KETIKA AKU SANGAT SETIA PADANYA.
Makna pengkhianatan yang dulunya masih aku yakini juga karenaku dan membuat aku menjadi pengemis kesempatan untuk kesalahan berkali-kali yang tidak dia pertanggungjawabkan sendiri...lalu menjelma jadi ego dan power. Bahwa TIDAK ADA ALASAN TEPAT UTK PENGKHIANATAN...selain memang DIA BAJINGAN!
Aku tidak butuh dianggap sebagai orang baik yang harus mengatakan "AKU RELA ASAL KAMU BAHAGIA," atau "SEMOGA KAMU BAHAGIA DENGANNYA". Karena kata-kata itu akan merusak ego powerku, dan satu-satunya yg harus aku selamatkan adalah HATIKU. Yang tidak bersalah dan sudah sangat sering aku bungkam dengan tidak adilnya.
Sejak saat itu pula aku bisa berucap: SEKEDAR MENCARI ORANG SEPERTI KAMU, TERLALU MUDAH. AKU BISA PASTIKAN SGT MUDAH PULA AKU MENDAPATKAN ORANG LEBIH DARI KAMU. DAN (SEBALIKNYA) KAMU TIDAK AKAN BISA MENDAPATKAN YANG LEBIH DARI AKU.
35 purnama aku kembara...tanpa siapa-siapa di ranah ini. Dan aku bisa berkata aku sudah habis baca buku "SELF AWARENESS". Betapa sering karena kita melanggar norma, bahkan norma paling dekat yaitu KATA HATI kita. Betapa sering kita zalim pada diri sendiri atas kerja keras dan perbaikan yg dilakukan setiap hari. Dan betapa sering hal-hal tersebut membuat kita jauh dari kata IKHLAS menerima apapun HADIAH dari Tuhan, baik ataupun buruk. Padahal TUHAN sudah merangkai kita dengan amat sangat baiknya, sangat lembutnya.
Baru, ikhlas dan hidup.
:) Baiknya Allahku.
Salam kangen buat semuanya.
Semoga masih bisa menjadi inspirasi
Aku memang diam, tapi bukan bisu, tuli, ataupun lumpuh tanpa tindakan.
Dulu bisa dibilang aku sangat vokal pada saat siapapun anggota DENL ada masalah (sejak hanya berempat -aku, n1nna, Aya, Meghi...plus Megha menyusul). Aku merasa menemukan kawan "secara kebetulan" seperti Aya, n1nna, Megha (dan lainnya sampai sekarang), bukan sebuah kebetulan belaka. Sesulit apapun awalnya aku ketemu n1nna, se-mbulet apa ketmu Aya, dan se-males apa ketemu Meghi, tapi semuanya memang harus diawali dari sana. Aku masih nyambung, bahkan ingat dengan jelas detil-detil kejadian apa saja pada saat deNL hanya berempat, berlima, sampai banyak kayak sekarang.
Mungkin memang tidak banyak yang terceritakan secara langsung ke aku, tapi aku tetap tahu update sobat-sobat deNL (Tuhan selalu menunjukkan jalanNya). Aku memang tak lagi vokal seperti saat ak tahu satu persatu masalah kalian, karena pada saat ini anggota tidak lagi empat atau lima kepala. Ada beberapa kepentingan yang perlu aku tengahi dan bijak-i.
Jangan membenciku jika seolah aku tanpa tindakan (terlebih pada "barathayudha" barusan), aku cuma bisa bertindak atas apa yang bisa aku rubah. Aku tidak langsung berbicara pada R1, karena aku tahu bisa lebih menitipkan dia dengan tenang pada R2. Aku tidak berbicara pada N1, karena aku percaya dan kenal bagaimana totally N1, dan dia hanya butuh waktu serta proses buat kembali jadi N1 yang (sesungguhnya cukup) bijak. Aku tidak vokal menindak A secara frontal lagi, karena akan jauh lebih berhasil mengingatkan A secara becanda tapi mengena (ngaplok!!! heheheh). Ak jg tidak langsung menangani N2, tapi aku titipnya pengendaliannya pada A. Aku juga tidak lupa menitipkan V atas penghiburannya pada F. Guys, aku gak berinteraksi pada kalian langsung, tapi aku sangat peduli dan sayang pada kalian. Pada saat sikonku di pertengahan seperti kemarin, cuma inilah yg terbaik yang aku rasa bisa aku lakukan. Aku mengikuti saja kemana arus sobat-sobat kita, tanpa aku berusaha mengikuti salah satu pihak. Aku cuma aku, dan akulah deNL, di mana ketika (terutama) founders deNL ribut dan semua kalang kabut, aku harus tetap tahu bendera deNL akan kemana. Dan aku tetap bertahan, bersikukuh deNL TIDAK BUBAR! (meski beberapa telah melepas badge "deNL" dari kaos dan hati mereka).
Aku tidak diam, meski gak berkoar lantang lagi. Bukan karena "aku toh tidak ikut terlibat." Tapi aku teramat memikirkan perasaan kalian satu persatu, karenanya aku gak mau terlihat lebih mementingkan "perasaan si ini si itu". Biar aku bertindak dengan caraku untuk mempertahankan kalian dan deNL.
Mungkin ada anggota deNL yang sama-sama fanatik seperti aku, tapi mungkin juga ada yang cuma menganggap teman kongkow (karena belum mengalami kesulitan dan masalah bersama, atau kurang partisipasi ngumpul, dll)...tapi....
Aku percaya, menemukan kalian adalah menemukan berkah dan keluarga baru. Aku gak bisa menggambarkan seberapa bersyukurnya aku. Banyak kawan/group dalam "dunia ke-dua kita" yang aku kumpuli, tapi tetap saja tidak seperti deNL. Kita tidak bervisi, karena kita cukup sederhana pingin jadi manusia baik, itu saja. Kita tidak muluk-muluk pingin memperjuangkan nasib "dunia ke-dua" kita keseluruhan (mengingat keterbatasan daya dan penjagaan "nama baik") tapi kita cukup bisa menjaga solidaritas dan toleransi antar deNL. Kita bukan orang suci yang "anti" kata "COK" tetapi "COK YO COK", "MARI YO MARI"! Dan apapun sikon dan ganjalan inter group kita, ada salah satu aja yang butuh ngumpul bersama, kita berusaha profesional tetap ngumpul. Sadarkah kalian semua....disanalah letak kekuatan kita!
Aku percaya arus tetap akan terarah, gelombang akan tertata. Dan kita, akan kembali lagi bersama. Tidak perlu ragu mengatakan "fuck you", but "totally u're still be my friend, somehow". Dan inilah, jangkar sudah mulai diangkat, kita harus kembali ke arus sebenarnya, menjadi keluarga dalam "dunia ke-dua" yang saling membantu, toleransi dan inspirasi! Totally Refresh!!
So...untuk menghadiahi keberhasilan kita bersama mempertahankan deNL, aku kado kalian sebuah website yang lebih tertata, yah, pren... Silahkan urun apapun didalamnya, tapi akan ada aturan-aturan biar blog kita lebih inspiratif. Ada usulan lain??
Sebuah renungan, Semoga bermanfaat.
Ini cerita nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo, Direktur Fortis Asset Management yang sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, Beliau juga sangat sukses dalam memajukan industri Reksadana di Indonesia. Apa yg diutarakan beliau adalah sangat benar sekali.
Silahkan baca dan dihayati.
MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT sebuah renungan buat para suami... Istri dan calon istri juga boleh.
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia empat orang anak, di sinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama dua tahun, menginjak tahun ketiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari Pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas Maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar Dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan keempat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah. Pada suatu hari keempat anak suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu: semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata, "Pak kami ingin sekali merawat ibu. Semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir Bapak. Bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu." Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya, "Sudah yang ke-empat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua Bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat Bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian".
Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anak mereka.
"Anak-anakku... Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah... .tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian." Sejenak kerongkongannya tersekat, "Kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini. Kalian menginginkan Bapak bahagia, apakah batin Bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan Bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan Ibumu yg masih sakit?"
Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno. Merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata ibu Suyatno..Dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi narasumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa. Di saat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru. Di situlah Pak Suyatno bercerita.
"Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya empat orang anak yang lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama. Dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintai dia apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya, Apalagi dia sakit."
BILA ANDA MERASA BAHAN RENUNGAN INI SANGAT BERMANFAAT BAGI ANDA DAN BAGI ORANG LAIN,
MOHON DIPERBANYAK KE TEMAN, FAMILY DAN KERABAT ANDA LAINNYA. SEMOGA BERMANFAAT.
Datanglah di bilik ini, sebelum langkah tak bisa ku penggak
Datanglah, bawalah hatimu serta
Sebelum hari bermentari lagi
dan ufuk memanggilku pergi
Karena mungkin esok hari, kutak bisa lagi menjelma jadi pelangimu
Maka senja ini mungkin jadi penali....
Aku masih mencintaimu, dengan rasa yg menurutmu terkoyak
Aku masih bisa menambalnya....
Jika kau datang
Di satu senja, kunanti pelangimu
Seseorang harus datang malam ini....
Tak perlu dia memiliki tungku perapian....
Tak perlu korek juga.........
Cukup dia bawa satu saja batu....tapi dia mau menggesekkannya dengan bebatuanku..
Seseorang harus datang malam ini.......
dan MEMBAKARKU lagi
Aku telah lama beku,
dalam hati tak berantah, dan jiwa tak berselimut
bukannya ku tak bisa hidup sendiri
tapi aku butuh berbagi....dalam....dasar........palung hidupku
Dan telah kupertahankan rasa ini sebisaku
telah kukawinkan hatiku dengan hidupmu
sudah kusudahi tanda tanya akan sakitku.........
tapi kau tetap tak pernah menjengukku...........
Seseorang harus datang malam ini
dan MEMBAKARKU lagi
sama seperti kau mengalihkan rasaku pada sosok sebelummu
Toh ini semua masalah waktu
seperti kau menginginkan waktumu tak lagi kutunggu
Takkan kuhadirkan kakiku ke sana,
tak kan pula kuhadapkan mataku untuk melihatnya.
Aku akan dirasuki jutaan imaji mengenai dirimu dengannya.
Bagaimana kalian makan bersama, atau bercinta di atas meja.
Dan betapa seharusnya engkau tidak di sana,
maaf saya sedang tidak berselera untuk disiksa
Rainbow, pelangi......pada waktu kecil aku pernah menyaksikannya. Indah di mataku, serasa dekat, tapi pada saat ingin kusentuh justru sang pendar warna itu malah terbang mengikuti awan hujan yang berganti terang. Pada saat dia menghilang di ujung langit, aku hanya bisa tersenyum dan berharap kapan Rainbow akan datang lagi.
Beberapa kali hujan yang singgah di bumiku, Rainbow itu tak jua datang. Ah, lama nian kutunggu keindahannya, Rainbow terlalu sulit mengunjungiku. Bisikku dalam hati, "Tuhan ijinkan aku merasakan Rainbow sebenarnya dalam hidupku."
Dan sampai 15 tahun setelah aku melihat Rainbow pertama dalam hidupku, aku tak pernah lagi menyaksikan Rainbow. Dalam khayalku, Rainbow itu sangat indah, meski sekejap, dan keindahan adalah cinta, dan cinta memang tak bisa diukur dari lama tidaknya waktu. Karena cinta kecocokan jiwa, karena itulah bayangan tentang Rainbow cukup lekat di jiwaku. Andai aku bisa menemuimu, meski sekejap, kuingin ukir keindahan di sana!
Dan sampai 15 tahun kuberkhayal tentang Rainbow, sosok itu hadir. Ada tabir, ada suka, ada rasa, ada damai. Ada saja tembok teralis antara aku dan dia, namun aku tetap bisa menyaksikan sinarnya, sinar yang menempa kosong hatiku. Rainbow, betapa lama aku menunggu untuk menyaksikanmu lagi, dan kini kau telah menghampiri................dan seperti namamu: menghampiri untuk pergi lagi!
Jika aku bisa, sesegera mungkin 'kan kulukis segala warna, kupanjatkan di dinding langit hati kita, 'tuk merasakan hadirmu tak hanya sekejap saja. Rainbow, aku masih merindukanmu. Kapankah kau menjelma jadi lukisan jiwaku yang tak lagi menghilang???
Hari ini seorang sobat mengabarkan kedatangannya padaku. Ada rasa senang atas kedatangan si gigi kuda (begitulah Cece-ku menyebut julukan untuk dia...hehhehe). Ada percik rasa rindu bercengkerama dengan waktu dan debu, seperti dulu. Ada rasa hanyut mengingat bintang malam yang acap kami saksikan dari genteng rumahku, sambil berbagi apa saja. Kegilaan dia, topeng diriku, ataupun cinta rahasia antara HAN333 (gitu, yah, tulisannya??? Kurang lebih buat yang merasa, hehehhe).
Ada senyum mengingat fase-fase hubungan kami masing-masing......
~sejak dia sendiri sampai bertemu seseorang yang NO COMMENT LAH!
~sejak n1nna dan Aya sendiri sampai tersatukan
~sejak aku yang long distance relationship (LDR) dan menikmati masa akan LIVING TOGETHER
dan sekarang........
~sampai dia telah mengambil langkah pisah dari kekasihnya
~sampai Aya dan n1nna meski rela mengalah dengan jarak
~dan aku sendiri yang dengannya, THE GIRL IN MY LIFE, yang sampai sekarang tetap bertahan meski kembali dirintangi badai (The Storm called "DISTANCE", "MOTHER" oh My Lord, give us strength)
Berbagai kisah mengurai hidup kami masing-masing. Kami berempat, meski sulit sekali bertemu, tapi kami masih bertautan, bahkan sampai kini dia kembali lagi.
Rasanya sulit menerka, apa yang akan kita lakukan? Akankah kita kembali menghabiskan masa bersama kata-kata, menuliskannya di dinding malam tempatnya berdiam lagi, dan berpamit untuk berjanji esok bertemu lagi.......seperti dulu........karena kisah dan rasa yang sudah dan akan kita bagi tidak pernah dan belum habis (satu hal yang pasti, karena n1nna keplas, aku 'n Aya kena PR jadi joki pencari kos-nya dia lagi kayak dulu......tobat deh, jangan ke Bendul Merisi lagi....kqkqkqkqkq).
Kawan,
Meski kau dan dia sudah tak bersama, dan kembali hadir di antara kami yang masih bersatu (meski terhalang jarak), jangan mengiri lagi, kawan. Iri hati yang tak dibarengi kesiapan menata hati lagi, bisa menyebabkanmu kembali memilih orang yang kurang tepat membahagiakanmu (lagi...lagi...dan lagi).
Aku sedikit teringat kalimat n1nna waktu pertama dia membuka diri mengenal aku..."aku temani prosesmu, sebisaku."
Itu juga yg bisa aku lakukan, tak usah muluk. Kamu kembali ke sini, pasti ada alasan apakah kami cukup menjadi FRIENDS INDEED...
Tetap di sini, berbagi lagi bersama kami, meski tak benar-benar sama seperti dulu. Dan kami juga tak harus berpisah dengan pasangan kami hanya karena solidaritas denganmu.......tapi kami ada, di sini dalam sikon IN NEED kamu kami ada.
Semoga kamu bertemu seseorang lain, membuatmu baru (dan cukup sopan tidak mendorongmu menjadi anak burung durhaka yang meninggalkan sarang begitu saja, hahahhahaha... KIDDING 'N DON'T BE ANGRY!)
WHAT EVER....
Glitter Text @ Glitterfy.com
Malam sunyi, aku berkutat hanya dengan keyboard...dan layar penuh script. Ada suara lagu, selain denyit kipas angin dan sedikit bunyi roda motor pengendara lewat di depan rumah.
Aku terhenti sejenak oleh simfoni Mandy Moore dalam Only Hope-nya. Perlahan dawai hatiku bergetar...terkadang merinding, terkadang menderu. Aku ingat betul lagu itu, di masa itu. Ada aku....di sampingnya. Menunggu jam ekstrakurikuler (ekskul) tiba atau pulang saja. Cuaca sedang tak bersahabat, mendung menyeringai.
"Tinggal saja, ikut ekskul," ajaknya.
"Ok," cuma itu jawabanku, sambil mengamati dia memutar salah satu channel radio dari tape yang akan digunakan team-nya berlatih ekskul.
"Relaks dulu, yuk," senyumnya menjawab pertanyaan yang tak sempat aku ucap. "Mau ngapain?"
Dan diantara semua gelombang, dia berhenti pada satu yang memutarkan lagu........"ONLY HOPE"
"Duduk sini,"pintanya membimbing tanganku, inginkan aku duduk di sampingnya. Aku dan dia sama-sama duduk dengan janggut bertumpu pada dengkul memandang radio yang tak bergambar, seperti bocah kecil yang sedang terkesima memandang mainan baru. Bedanya, dia takjub pada lagunya, sedangkan aku takjub karena tak tahu apa yang dia takjubkan.
"Duh lagunya romantis, ya, mendung-mendung gini lagi. Sayangnya belum resmi punya pacar, " liriknya padaku.
"Makanya cari," jawabku singkat
"Sudah"
"Siapa dia?"
"Jadi kamu pikir kita bukan siapa-siapa?"
DHEGH!
Deretan kata itu tepat di hadapku, tepat tertuju! Tak ada kata-kata lagi setelahnya, tak ada pandang. Aku menganggap tahu maksud ucapnya, meski mengerti pun aku tak berani memperjelas. Meski aku sangat paham, tatapannya saat itu bukan sedang bercanda, atau mempermainkan."I WAS ACTING TO BE FINE!"
Meski dalam hati aku merasakan celah, merasakan hembusan rasa yang terbangkan aku, tapi aku kembali terjatuh. Lagi-lagi pada ketakutanku sendiri.
Aku kembali ke bumi! Tidak untuk memeluk dia memperjelas segala frase, tidak juga untuk berlari mengendap bersama atom-atom semen tembok AULA tempat dimana masa itu terjadi.
Aku tak maju, tak jua mundur. Sedangkan dia...apa yang dia rasakan saat itu???
"SO I LAY MY HEAD BACK DOWN.... 'N I LIFT MY HAND AND PRAY.... TO BE ONLY YOURS....I PRAY TO BE ONLY YOURS.... I KNOW NOW YOU'RE MY ONLY HOPE"
Masih sampai sekarang aku ingin menanyakan padanya... "AKU-KAH ONLY-HOPE saat itu?"
Dan mungkin sampai saat ini dia masih membenciku sejak saat aku tak memahami SIAPA ONLY HOPE itu.
Dan setelahnya, ada jarak.........dia dan aku. Dia menunggu? Aku takut maju!
Kenapa tidak dia yang memperjelas? -ucap egoku!
"Kenapa tidak aku yang mendului!" sangkalnya tak mau kalah.
Tali yang tak jelas, membuat layang layang terhempas, seperti hubungan kita saat itu!
Tiba-tiba kuraih handphone, ku gunakan nomor yang baru dua hari aku aktifkan.....ku kirim message padanya
"Trims, kamu dan salah satu script masa lalu kita sekejap membuatku tersenyum..............Script yang tak pernah habis, karena memang tak pernah dilanjuti meski hati kita berdua pernah mengawali."
Tak ada balas, dan aku juga tak mengharapnya, dari orang yang mungkin sedang striptease mereguk kenikmatan malam ini bersama pasangan resminya.
kuingin selalu denganmu
kemana saja kita berdua
seakan tiada terpisahkan
tapi tak mungkin saat ini, saat ini
sekarang masih banyak mimpi
dan keinginan yang belum tercapai
biarlah rasa rindu ini
tertunda ’tuk sementara
reff:
tak pernah kuragu padamu
atau curiga kau khianati aku
‘ku sangat percaya padamu
seperti juga kau percaya aku
pulanglah dulu ke rumahmu
bagi waktumu untuk yang lain
kuingin kau hanya untukku
tapi tak mungkin saat ini
sampai nanti
sampai bertemu lagi
sampai nanti
sampai bertemu lagi
-----------000--------------------------------------------
Ini lagu jadul,yang dulu aku hanya menyukai maknanya,tapi ak pernah sampai mencari downloadnya. Tapi sekarang, full strength aku cari file downloadnya kesana-sini, beberapa link blank alias unavailable untuk didownload!
Yup, lagu ini asyik banget, apa lagi sekarang aku mengalami long distance relationship (LDR) (dan mungkin siapapun yang juga sedang LDR), lagu ini TOP bgt. Aku merasakan ke-syahdu-an mendalam saat mendengarnya, dan entah mengapa kadang-kadang sikon sulit di antara kami yang membuat kami mudah marahan langsung mencair begitu aku mengingat lagu ini. Tuntutan-tuntutan dan egoisme rubah menjadi maaf dan penyesalan. Benar-benar pelipur lara. Dan gak cuma itu, lagu ini benar-benar spesial MEMUGAR HUBUNGAN kami.
Ada yang penasaran sama nada lagunya? Sippp.....akhirnya aku berhasil juga menemukan file MP3-nya! Ada yang mau???
Perasaan itu ada mulai aku bayi. Tahu apa rasanya cinta oleh anak berusia tiga atau empat tahun? Tapi pada masa itu aku nyata! Hidup di dunia penyutradaraan "film"-ku sendiri, dengan aku sebagai tokoh utamanya, memerankan percintaan! Parahnya, saat itu aku selalu merasa otomatis memilih peran mencintai perempuan (meski aku sendiri di sana menjadi perempuan!).
Apakah aku anak indigo? (Weleh, terpengaruh berita di TIPI-TIPI nih, kqkkqkqkkq)....Atau aku anak berlebihan? Atau justru berbakat?? (Berbakat straightless sejak kecil? Huh...cita-cita siapa ya???)
Lain cerita, lain peran. Tapi yang otomatis terpertahankan dalam "film"-ku itu selalu saja aku mencintai perempuan. TITIK!
Tapi memang aku sangat bahagia dalam peranku, sampai tidak sempat berpikir otomatisasi peranku itu siapa, sih, yang mengatur?
Aku juga sama, pernah mengalami masa pertanyaan, "apakah aku straightless?" "Mengapa bisa?" "Awalnya gimana, sih?".......bla bla bla......! Tapi kehidupanku tetap berjalan. Bahkan masa SD yang kulalui dengan amat cemerlang, yang membuat orang tuaku bangga ditanyai TIPS gmn sich bisa punya anak kayak aku? Baik, Pinter, gak nakal, gak suka jajan, dan selalu dapat biaya gratis, ideal banget, deh...... huah hoek hoek...............aku sendiri mual mendengar pertanyaan-pertanyaan itu! Karena diam-diam, aku adalah ketua kelas yang naksir sekretarisnya sendiri, yang manis, ramah, cerdas, berbibir sensual, dadanya mulai tumbuh membusung dan di tengah pelajaranpun aku pernah meremas-remas dadanya dan dia menyerahkannya!
Tentunya aku tak paham saat itu aku marasakan apa, aku cuma suka menyentuh dadanya, dia menginjinkan pula. Mungkin aku belum kenal nafsu, tapi aku menemukan kesenangan! Hebatnya, meski menjadi perempuan aku selalu bisa tebar pesona pada orang yang aku taksir dan selalu berhasil menjadi orang spesial di hari-hari mereka, meski masih hari-hari anak SD kala itu yang paling-paling tahunya hanya belajar, menyanyi, bercanda, dan beli baksonya Lek Pen! Aku tak kalah dengan lelaki dalam tebar kasih, buktinya tak sedikit yang cemburu tidak dapat perhatianku yang sebesar aku berikan pada I (sekretaris kelasku), bahkan ada juga yang GR akan sikapku.........dan terang-terangan bilang suka sama aku, CEWEK LHO! Dorongan apa untuk anak SD?
Entah gila atau tidak, tapi itu nyata! Dan aku, seperti kupu2, dalam tiga bulan pasti berganti idola atau incaran, kelas 6 SD saja kuhitung aku sudah suka pada 42 perempuan (dengan I tentu menjadi urutan pertamaku, dan aku hanya melakukan "grepe-grepe" itu ya cuma dengan yang aku nge-fans berat, yaitu I).
Tuhan baik, meski membiarkan aku terjerembab lebih lama (itukah istilahnya?). Kelas 1 SMP aku dipertemukan dengan LR, wanita berkulit kuning dari Palembang, teman sekelasku. Ketua OSIS yang cerdas, berwibawa, bijaksana dan entah saat itu aku sudah bisa mengerti dan menilai bahwa dia lelaki yang bisa menjaga harga diri! Bagiku dia perfect, dia bisa menyadarkan aku tanpa dia berbicara, seluruh bahasa tubuhnya sangat aku pahami. Dan aku belum pernah merasakan keindahan perasaan itu sebelumnya.
Segalanya keindahan itu terpenggal dengan kepindahan dia ke Palembang, saat kami pertengahan kelas 2. Untuk pertama kalinya aku menangis sejadi-jadinya, sakittttt sekali, melebihi sakitnya kepalaku yang dihantam pompa angin teman nakalku waktu berusia 2 tahun. Aku bergelanyut dalam rindu yang amat dalam pada LR-ku, membuat aku sering menelepon ke Palembang tanpa nama hanya demi mendengar suaranya. Aku tak sempat memikirkan perempuan lain.
Sudah sembuh dr Straightless?? Tidak, karena aku terkunci oleh LR! Perempuanku hanya 43 dan itu terhenti sangattt lama. LR yang istimewa tak bisa digantikan oleh J (yang kata teman-teman wajahnya manis kayak Cleopatra) yang suka sekali melihatku melintasi kelasnya, atau oleh R yg bilang "kalau kamu cowok, pasti 'dah aku cium bibirmu" atau oleh A yang sering berkata "kamu kok cewek, sih, jadi cowok donk 'n pacaran sama aku" atau oleh N yang tiba-tiba menggeser-geserkan buah dada besarnya ke punggungku dan aku hindari mentah-mentah, atau bahkan oleh D yang terang-terangan bilang "kamu mematahkan hatiku demi LR" sampai dia curhat perasaannya ke stasiun radio segala (aku tahunya juga dari sahabat D sendiri tentang kekonyolan ini) dan diakhiri dengan D nembak aku. Gak ngefek blas! Dalam pikiranku cuma LR!
Tuhan membuat aku terhenti, Tuhan membuat aku memilih tak sembarangan perempuan. 4 tahun aku menangis dalam rindu untuk LR (wherever you're, miss you). Sampai aku mengenal rasa berbunga-bunga itu lagi dari A, wanita pindahan Jakarta sekaligus sekretaris OSIS SMU-ku, dengan kisah hidup dan sifat hampir sama seperti LR. Tambahannya, dia lebih lembut dan keibuan (meski LR tetap yang paling spesial). A yang memberikan signal hijau bahkan dah nembak aku (tapi aku takut mengakui dan memilih membiarkan semuanya berlalu). Tapi A adalah pelangi bagiku, kedeketan kami yang hanya 3 bulan (lagi-lagi karena pindah ke luar kota) tetap bermakna sebuah keindahan untukku. Meski perasaanku padanya belum terlalu dalam, tapi dia berhasil mengunci hatiku selama 1,5 tahun, sebelum aku dekat dengan I di akhir kelas 3.
Jujur saja, LR,A, dan I (SMU-ku) adalah yang aku akui teristimewa bagi hatiku. LR karena pertama-nya. A karena "pelangi" kami. dan I karena ketegasan pendiriannya (yang tetap tak berani memulai hubungan kami meski dalam hatinya ingin). Pun begitu, di SMU ada saja perempuan-perempuan yang ngefans berat sama aku, sampai telepon ke rumahku tiap hari dan marah kalau aku hindari, ada yang selalu berteriak histeris melihat aku meski di kejauhan, ada yang terang-terangan menawarkan diri mengajari aku cupang di leher, ada yg terang-terangan memberi kado mawar dan coklat valentine yg berhiaskan bibirnya, dan D sendiri (teman SMP-ku) yang masih sering mengungkit penolakanku waktu itu (THAT'S ALL TRUE, GAK GR YOOOO!:)).
Apa aku salah bercanda dan membuat banyak orang GR? Padahal hanya orang yang sangat aku sayangi saja yang aku istimewakan. Guru BP-ku saja paham itu, sampai aku sempat dipanggil dan dikorek perasaanku ke I, yang tentunya aku jawab berbeda dengan sesungguhnya demi menyelamatkan kami berdua. Padahal...."I've tried to put her out of my mind, but the light in her eyes still shine".....itulah kenyataannya, bu.
Pada ketiga wanita istimewa itu (LR, A, I) aku layak berterimakasih karena mengajarkan banyak hal yang membuat aku paham rasanya menyayangi, berkorban, ketulusan, dan kegigihan dlm hidup. Mereka bertiga berlatar belakang sama, dan merekalah yang menjadikan aku punya spirit survive menghadapi sikon seburuk apapun. Sepahit apapun pengalamanku selanjutnya, tapi berbekal mengenal mereka bertiga, aku bisa melewati semuanya dengan baik, sehingga predikatku sebagai "BOCAH PERFECT" di dalam keluargaku tetap terjaga (meski aku juga tetap manusia biasa yang punya belang juga, termasuk straightless).
Tuhan mungkin menghadirkan keindahan yang menyakitkan, atau bahkan sakit yang indah, tapi yang aku pahami dan syukuri SEMUANYA TERJADI TEPAT WAKTU, itulah yg membuat aku "berdamai" dengan Tuhan atas ketidakterimaan masa mudaku yang dijadikan straightless sekaligus ditentang kehadiranku melalui kitab-Nya.
Tuhan mungkin tahu, dengan nafsu besarku (hhehehe, pengakuan???) jika tidak ada penghambat, maka nafsu itu sendiri yang akan menghambat aku mengejar nilai, cita-cita, mewujudkan harapan dan kewajiban. Makanya aku dijadikan seorang straightless yang pasti tidak akan pernah bebas menjalin kasih. Dengan kisah rumit menjadi straightless yang sering berujung kekalahanku/patah hati, aku selalu mengalihkan rasa sakitnya dengan membaca buku atau menyendiri sampai menemukan kesadaran baru.
Untungnya lagi, Tuhan memahat hatiku dengan harga diri dan kesetiaan setelah bertemu LR/A/I, dengan demikian aku menjadi straightless yang tidak free/HEDONIS. Dan rasa JAIM rupanya kehendak Tuhan juga, karena mungkin jika tanpa jaim, aku sudah jadian dengan salah satu di antara LR/A/I dengan pola hubungan tertutup, di mana aku mungkin tak mau mengenal kawan-kawan straightless lainnya dan belajar banyak hal hitam putih dunia dari mereka.
Mungkin tanpa sikap yang seolah hitam itu aku tidak bisa menjadi putih (perfect di mata keluarga), dan tanpa putih itupun aku mungkin tak termotivasi mengalihkan hitamku. Aku jadi belajar 1 hal lagi, hidup tetap perlu perimbangan, jika tak bisa menjadi benar-benar putih (perfect) setidaknya jangan tambah hitammu. Straightless ya straightless, tapi yang berguna bagi orang lain, jadi biar yang diingat orang dari kita tidak hanya keburukan straightless saja, tapi mereka juga masih ingat kita sebagai orang yang cukup menyenangkan. Dan kita berhak serta wajib membuat orang tahu, bahwa kita juga punya sisi baik selain sisi buruk kita.
Aku sangat percaya, semuanya indah pada waktunya, dan Tuhan selalu memberikan semuanya tepat waktu. Termasuk dihadirkan seseorang kini (Cece) yang menggenapi seluruh pelajaran hidup yang Tuhan ingin sampaikan padaku. Aku merasa KAU Cintai, TUHAN, dengan rasa yang amat besar. Terima kasih telah menitipkan kasihMu pada kehangatan mereka. (Cece-PLEASE STILL BE MINE)
Alkisah, di suatu perkampungan hiduplah seorang pemburu. Suatu hari dia naik ke bukit yang penuh batu cadas untuk menangkap rajawali. Sesampai di sarang rajawali, dia hanya menemukan sebutir telur. Daripada pulang sia-sia, telur tersebut dibawanya pulang dan diletakkannya di induk ayam yang sedang mengeram. Singkat cerita, semua telur yang dieramkan menetas, anak ayam muncul satu-satu, begitu juga dengan anak rajawali. Hari demi hari dilalui sang rajawali dengan perilaku ayam, karena dia mengira dirinya ayam. Ia mengais-ngais tanah, memakan cacing, bermain di selokan, dan segala perilaku layaknya seekor ayam. Suatu hari, rajawali dan anak-anak ayam itu dikejar-kejar musang, mereka lari terbirit-birit, dan bersembunyi. Di tengah-tengah kepanikan dan ketakutan luar biasa itu, sang anak rajawali menengadah ke langit, dan terlihat olehnya seekor burung rajawali dewasa terbang gagah membelah awan. Terlintas dalam benaknya, ia ingin terbang seperti rajawali itu, begitu gagah dan perkasa tampaknya, dan ia mulai mencoba mengepak-ngepakkan sayapnya katika tiba-tiba anak ayam lain berceloteh: "hey, sedang apa kau?? Kita ini ayam, bukan rajawali, dan ayam itu tidak bisa terbang, selamanya ayam tidak akan pernah bisa terbang "semangat anak rajawali pun surut dan cita-citanya mundur teratur, dan dia ikut bersembunyi bersama anak ayam lainnya.
Karena "ketidaktahuan", banyak orang melewati hidupnya dengan sia-sia. Sadari kemampuan diri sendiri, hati-hati terhadap 'nasehat' yang menghambat, kembangkan potensi 'Rajawali' yang ada dalam diri kita.
------------------------------0000------------------------------------------
Nah, terinspirasi hal tsb, aku pgn bikin blog kita gak cuma buat nulis (yang mungkin lama-lama jadi males dikunjungi karena merasa "yg lain mana lho...kok itu-itu thok? heheheh).
Jadi jadikan blog kita sebagai ajang unjuk bakat dana lahan cari duit.
Yang pinter desain, ya buka aja design-sevice online......yang suka nulis, kan bisa jadi jembatan kali aja ada produser mampir........yang suka lain lain....ayo...temukan cara kita (teman-teman yang kongkow di delta mungkin juga tahu). Konsep lebih lanjut? Yo ayo dibahas bareng.
NL JUGA MANUSIA, YG PUNYA BAKAT POSITIF.....AYO, TUNJUKIN GAYA MU ....HEUEHEHHEHEH
MASALAH AWALNYA....SETUJU GA?? KASIH COMMENT DUNKZ
Apakah kebetulan itu ada? Atau memang semua rencana itu sudah tersusun, tapi ditampilkan pada waktu yang tepat spesial sehingga yang mengalaminya merasa terlalu indah sehingga menyebut sebagai "KEBETULAN"?
Aku percaya dua-duanya, entah mana yang paling benar. Terlalu banyak kebetulan indah yang aku nikmati dalam hidupku. Salah satunya adalah KEBETULAN pada mantan pertama-ku.
Siapa sangka bahwa persahabatanku dengan RIRIN (teman sekelas 1 SMU-ku) mengawali kebetulan indah itu. Sudah sekitar 15 tahun aku menyembunyikan diri sebagai straightless. Betapa sulit membuat aku sama seperti kawan-kawanku lainnya tanpa rasa kaku. Aku pernah memacari 4 lelaki, bahkan dua di antaranya sangat nge-fans sama aku sampai tergopoh-gopoh mengejar ke rumah (aku saja kalau jadi lelaki, eneg duluan lihat tingkah perempuan seperti aku, hehehehhe). Hal yang sementara menyembunyikan tabirku sangat rapi, bahwa SEOLAH aku play girl......dengan beberapa lelaki tentunya. Tapi aku sesak juga terus dituntut berakting ikut menggoda lelaki sedikit keren yang melintas diantara Gank SMU-ku saat itu. Asing, sepi, dan sepo!
Aku tidak merasa benci lelaki, tapi kenapa aku juga tidak merasa suka pada mereka??? Konslet di mana? Itulah, dah bertahun-tahun aku berkutat tanpa jawaban, dan sampai pada titik aku lelah menyalahkan Tuhan. Terima saja semua ini, nikmati, dan jangan dibiarkan memburuk. Tapi, aku butuh seorang kawan, satu saja, di mana aku bisa bercerita padanya tanpa interupsi dan kernyit dahi, tentang duniaku yang berbeda dengan dia, tentang romantisme ku yang mungkin cuma bisa dia temui di novel atau surat kabar tentang straightless, tentang stabilitas pandangan bahwa aku ya aku bagaimanapun bentuk dan ke-abnormal-anku, dan meski begitu kami tetap bersahabat dekat. Dan Tuhan menjawab semuanya pada Ramadhan tahun itu.
Pagi tanpa kegiatan membuat Ririn bosan, dan satu-satunya hiburan dia adalah berkunjung ke rumahku (kami hampir tiap hari saling mengunjungi meski rumah tak dekat, lha wong ortunya sering "nanggap" aku sebagai hiburan). Ngowos, ngobrol sana-sini, sampai pada titik dia ingin menceritakan rahasia terbesarnya yang....bla bla bla (offline or online, rahasiamu tetap aman kok, sobat, hehhehe). Dan aku....dorongan Tuhan atau memang sudah waktunya atau entah karena apa...aku berkisah tentang STRAIGHTLESS-ku. Ketakutanku melihat perubahan sikapnya, sinisnya, jijiknya, tak pernah terbukti, bahkan sampai saat ini. (Thanks, Pren...). Jadilah RIRIN sebagai orang pertama yang mendengar "Behind the Scene"-ku.
Kumpul-kumpul siang hari dengan teman-teman AWKA beberapa bulan setelah Ramadhan itu, menjadi tonggak keduaku. Di mana menyisakan aku dan AULIA (AU). Kami sekelas sejak SMP dan satu yayasan (thanks alm. Bpk sunarto, Allah memberkati amal-amal beliau), kami dekat, termasuk dengan keluarga masing-masing, terlebih Bapak-nya Au suka mbanyol juga kayak aku, dan kami sering "duet" setiap kali berkunjung ke rumahnya. Dia baik, (saat sebelum kecelakaan) dia sangat arif dan tegas (sori, Ndhul, kamu kualat sama pak polisi yang mbok tabrak, ya? Heheh, tapi aku tetap sayang kamu kok walau sekarang udelmu sering pencheng, kqkqkkqkq). Entah gimana awalnya, kedua kalinya tabir itu ku, AULIA TAHU AKU STRAIGHTLESS! Alhamdulillah, semua fine, lancar, dan sama seperti RIRIN, AULIA-ku itu juga bs menerima aku apa adanya.
Meski setelah itu ada beberapa orang lagi yang tahu siapa aku sebenarnya (paling sebel saat jujur sama AWKA, WIDY pingsan dan IKA dengan entengnya nyangka aku suka sama kakak iparku sendiri cuma gara-gara clue: "Aku gak bisa memiliki orang yang aku cintai". Halah, aku dan AU mlongo!....Beghhh. Bandit, IKA.....sama teman gak cuma pelit uang tapi juga pelit berpikir jernih, uffff). Tapi RIRIN dan AULIA adalah kunci-kunci tabirku yang sangat spesial. Karena siapa sangka, perempuan pertama yang menjadi kekasihku bernama RIRIN AULIDA. Seorang model kuning nan seksi dari Kalimantan yang ber-nick MEMEY itu ternyata memiliki REAL NAME ...........RIRIN AULIDA. Seolah singkatan, dari RIRIN (orang pertama kunci tabirku) dan AULIDA (AULIA, kunci tabir keduaku). Tak benar-benar mirip memang, selisih satu huruf......tapi siapa sangka, RIRIN DAN AULIA membawa RIRIN AULIDA ke dalam hatiku??? KEBETULAN? ATAU SUDAH DIRENCANAKAN?
RIRIN AULIDA-ku, pemahat hati pertamaku, saat kamu baca ini, ketahuilah kamu pernah punya ruang spesial bagi hatiku. Satu yang kamu tak pernah tahu, kamu benar-benar kekasih pertamaku, dan maaf atas segala keluguanku yang membuatmu tak betah pada cinta super idealisku. Aku bukan Kahlil Gibran, dan kau bukan Maria kekasih Kahlil, yang sanggup meyakini wujud cinta tanpa pernah bertemu, karenanya kita memang benar-benar tak pernah berjodoh. Tapi terimakasih, kau mengajarkan aku realita, membekaliku pada jalinan selanjutnya setelah denganmu.
Satu hal yang pasti, cerita tentang RIRIN DAN AULIA...........kisah tentang RIRIN AULIDA sebagai anugrah pertamaku, itu memang nyata. Itu juga salah satu kebetulan dalam hidupku, atau bahkan keajaiban, yang sampai kapanpun kita tak mampu menghitung rumusnya, tapi sekali lagi...........ITU NYATA!
Dan kebetulan ini membuatku selalu tersenyum mengenangnya :)
Pagi ini badanku masih merasa remuk, letih dan "mbangkong" adalah salah satu kenikmatan hari Mingguku. Meski biasanya aku terbangun setiap ibuku menanggil, tapi kali ini aku justru terbangun oleh berita infotainment. Aku tidur, tapi sadar, Aku tak dengar, tapi mendengar. Ah...mbulet ae!
Layar televisiku diwarnai bunga dlm intro perkawinan SARAH AMALIA (mantan sstri Ariel Peter Pan). Sori, yo, aku bukan ibu-ibu PKK penggosip. Aku terbangun karena hal lain, bukan karena gosipnya. Seolah dalam setengah sadarku, aku melihat tanyangan itu. Istimewanya apa? SARAH AMALIA WAJAHNYA MIRIP I (Cinta terpendam ke-tiga-ku, kawan SMU). Itu thok.
Tiba-tiba aku teringat bahwa I dan pria-nya berencana menikah juga, tanggal 10 bulan 4 tahun 2009, tahun ini, kurang sebulan lagi? Ouw....! Wajah ayu Sarah sangat Mirip dengan I, lekuk hidungnya, senyumnya, putih mulusnya, dan jawaban-jawaban cerdasnya, mirip (aku memang menggilai perempuan tipikal cerdas dan mulus...wouw). Bedanya, Sarah tak istimewa, sedangkan I.....tahu sendiri lah.....! Dan hampir seharian berita itu muncul, seharian pula aku menghindari pertanyaan hatiku sendiri, ketika itu adalah 10 April 2009 nanti, siapkah aku???
Seorang kawan sangat yakin dia cuma menganggapku sahabat. Tapi mayoritas kawan lainnya meyakini perasaanku pada I berimbang juga, SHE LOVED ME, TOO. Bahkan foto kami berdua yg tak sengaja terambil oleh temanku yang belum tahu apa-apa tentang kami, cukup bisa membuat temanku tadi mencurigai ada benang intim antara kami, semesra itu, katanya! Satu persatu segala kenangan meluncur di mataku, ketika hujan, ketika aku sakit, ketika dia menungguku, ketika dia mengerjakan PR dan ujianku, ketika dia menemaniku lomba, ketika pertama kali dia menangis demi aku, ketika aku tidur seranjang dengannya dan hanya bisa berpelukan, dan ketika bibirnya hampir menyentuh bibirku dulu. Jaimku, ketakutanku, mungkin cukup bisa dijadikan biang kerok mengapa asmara itu tak pernah berlanjut. Meski bertahun-tahun aku masih saja menggodanya, tapi aku tak cukup berani menawarkan rasa itu, rasa anggur dalam hubungan, yang pahit dalam manis, dan manis dalam pahit.
Dan ketika masa itu tiba, bersama lelaki pilihannya, yang pasti jauh lebih berani daripada aku (terbukti berani melamar I), aku akan tampil atau bersembunyi? Mengapa masa itu cepat sekali datang? Mengapa kubertanya, toh inipun sudah kuduga. Apakah pria yang kau ajak datang ke acaranya Bapakku itu benarlah pilihan hatimu, bukan pilihan kebutuhanmu? Mungkin cintaku pada I tak kalah manis, tapi keberanian pria itu tak kalah tajam dan mungkin di sanalah kalahku. Kalah ya kalah....Aku pulang...
Toh menang juga untuk apa? Masa itu telah beda. Ribuan detik melukiskan kisah baru dan mungkin memang sebaiknya waktu tak pernah menunggu aku menyatakan semuanya padanya...yg sampai kapanpun tak akan terjadi. Aku mau yang pasti-pasti saja, dan itulah Cece-ku sekarang. Bersamanya, tak kurasakan kembang api yang menyala-nyala seperti aku bersamamu dulu, mungkin. Tapi bersama dia, aku menghaturkan kisah tentang masa depan, dengan nyala lilin yang terang berkesinambungan, tak benderang meloncat-loncat seperti kembang api kisah kita. Dan Cece sajalah yang bisa membangkitkan inisiatifku, menawarkan rasa dan masa depan, bukan kamu. Mungkin ketika kau mengenang euforia kisah kita, kau pasti setuju bahwa kita baik sebagai kenangan, tapi tak pernah cukup pada kenyataan. Masa muda kita kenangan dan masa depan kita adalah kenyataan, dan karenanya kita hanya bisa saling mengenang.
FLY AWAY MY ANGEL IN MY TEENAGE.....'N WELCOME MY ANGEL IN MY FUTURE.
Aku mantap menjadikanmu kenangan, tapi belum terputuskan akan datang atau tidak, pada masa itu nanti.
de NL World ultah ya? Yang ke sebulan (tersenyum sajalah, mana ada umumnya perayaan gitu, hehhhe). Wah mulai kapan?
Memangnya de NL World lahirnya kapan cih? Saat dibuat di CITO atau waktu mulai arisan?
Pentingkah sebuah tanggal? Mungkin iya (buktinya sampai ada yang menandai launchingnya dah sebulan, hehhhehhe), mungkin juga tidak.
Aku lebih suka menyebut kami sahabat NL atau de-NL-ers atau Founders. Bukannya tdk mau bersahabat dengan A/B/F, atau entah diadakan gender apa lagi. Tapi memang kebanyakan kami adalah orang-orang yang simpel, saking simpelnya sampai gak paham dan males memahami A/B/F. Aku welcome pada siapapun, apapun sebutannya itu. Toh sebutan itu cuma julukan, pada intinya aku, dia, mereka, dan mungkin kita semua sama, senasib dlm garis tipis!semua punya kisah,semua punya awal, dan semua mencintai obyek yang sama yaitu perempuan, meski kisah-kisahnya pasti berbeda. Tapi wajarlah, terpilihkan kawan-kawan yang hampir menyerupaiku, cocok, sharing dan berbagi layaknya saudara sendiri (I felt it, mostly when my pa 'n ma were in hospital... Amazing for having friends like them) dan jadilah ini "DE-NL-WORLD". Iseng sih....tapi kalau mau dilanjutkan bisa serius juga.
Tapi keseriusan itu dari mana dan akan bermuara ke mana?
Aku setuju blog ini diperbagus (kalau benar-benar punya waktu aku juga gatel utak atik), aku juga setuju sahabat-sahabat (founders) deNL juga pada urun rembug (rasa saling memiliki?), mungkin ..........aku juga setuju orang-orang lain apapun gendernya (masih dalam rangka GBLT atau LINES saja?) meramaikan blog ini. Tapi jujur aku tak pernah tahu ini akan sampai mana. Apakah blog ini benar-benar jadi rumah kedua kita? Atau blog, ya, hanya blog dan angin lalu.
Mungkin aku tipe orang yang tak siap atau orang yang menakuti perubahan (meski aku sangat menyukai perubahan yang positif). Termasuk perubahan akan blog ini. Positive thinking saja, blog ini berpotensi juga melesat seperti sang pendahulu SS (Swara Srikandi -saat itu yang sampai sekarang bahkan aku masih sangat mengingat lay out website-nya dan hampir semua larik puisi-puisi di dalamnya) dan sejenisnya. Kalau sudah melesat sih emang ada enaknya, sebuah kebanggaan juga, bahkan SS sampai bikin buletin (yang seorang sobat deNL minggu lalu sangat bangga memamerkan karyanya yang dimuat dalam buletin itu) yang itupun sempat terceletuk andai deNL juga punya buletin.(masalah klise, duite sopo, bulek...hehehhe) Tapi pada keadaan mencuat itu, sadar tidak sadar ada perimbangannya, sisi lain kita juga harus siap (kalau-kalau) someday kita tampil di koran atau majalah, radio, bahkan televisi (seperti Founder SS). Wah, enak dunk bisa ngeceng...hehhehe......tapi, siap terpublikasi gak???
Sadar-tidak sadar itu juga menjadi mata pisau bagi kita. Terutama dari sisi nama di keluarga dan tetangga, pekerjaan nomor dua mungkin. Siapkah?
Dan sudah sekompak itukah deNL beserta anggota-anggotanya? mengingat blog saja yang ngisi itu-itu saja, lainnya entah belum mengisi atau bahkan malah belum mengunjungi, weleh (saat ini sih). Dan apa benar de-NL-ers(huih....) punya pandangan masa depan dan cita-cita sama? Lebih tinggi pohon, anginnya lebih kencang, akarnya harus semakin kuat, bergitu juga Founders De NL jika "hal terbaik" itu terjadi pun harus musti kudu kompak. Betul? Tapi tunggu, untuk siapa? Demi apa?
Aku bukannya kehilangan solidaritas, tapi aku sudah lelah. Tak perlu diungkap satu persatu ceritanya, tapi intinya "idealisme terlalu sering menamparku"! dari situlah aku belajar sungguh perlunya perimbangan realistis. Tidak munafik, aku memang masih sama gilanya seperti dulu, mengejar peluang terkecilpun karena tetap ada rasio keberhasilan, tapi sekarang ini aku lebih suka maju pada peluang yang prospeknya diatas 70% dan pengalaman-pengalaman pahit hidupku membuatku peka melihat peluang dan menghitung sendiri rasionya. Dan bukannya aku tidak mau menjadikan blog ini booming, arisan kita menjadi arisan Straightless-ers, atau buletin kita melangit, tapi aku cuma tidak mau apa yg aku sudah perjuangkan sungguh untuk hidupku, pasanganku dan keluargaku berantakan.
Aku bisa merasakan sejak SD bagaimana susahnya mencari uang untuk sekolah dan sangu, aku mensyukuri tak suka jajan jadi sanguku itu bisa membuat bapakku pulang tanpa tanggungan membayar buku-buku ketika raport-an, menghabiskan waktu demi raport nomor satu dan biaya gratis. Masa mudaku terampas! Aku tak mau masa tuaku terampas juga kenikmatannya. Terlebih setelah seorang Cece mengajarkan aku lebih dekat dan mencintai keluargaku lebih dari sebelumnya, dan sekarang aku menikmati masa di mana banyak tanggungan atau kesusahan tapi tetap bahagia karena merasa mencintai keluargaku. Aku juga telah berjanji pada alm. Bapakku, aku akan melakukan apapun semaksimal yang dulu pernah bapak lakukan untuk membahagiakan ibu (aku masih ingat, setelah itu Bapak pergi dengan wajah teramat tenang dan damai...ALWAYZ LUV 'N PRAY FOR YOU, PA). Dan ketika semua usaha itu hampir berhasil, aku tak sanggup jika dibuyarkan hanya dengan pemberitaan "Suksesnya seorang LDC mengangkat deNL". Karena untuk tujuan utamaku, kebanggaan itu jelas tak sebanding. Aku sangat paham, hubunganku dengan Cece mungkin someday bisa jadi boomerang yang mengejutkan ibuku jika tahu, tapi rasanya masih lebih mungkin bagi aku untuk menghadirkan kenyataan tetap mencintai ibuku meski harus menolak pria pilihan beliau demi tetap mempertahankan Cece, daripada harus membuat beliau tahu apa itu deNL. Orientasiku telah berubah, aku capek memulai hal yang dulu sudah aku mulai, makanya lebih baik memperbaiki apa yang sudah ada. Toh keadaan keluargaku atau pasanganku, ya tetap keadaan manusiawi, yang tak akan perfect dan ada salah di sana-sini, tapi juga masih tergolong keadaan baik dan nyaman (setidaknya dalam koridor pemikiranku).
Aku pasti berusaha maksimal dalam semua hal, termasuk bersahabat. Aku berusaha maksimal untuk blog kita, arisan kita, curhat kita, may-song kita (Niken, bener ya tulisannya? hehehehe). Intinya aku berusaha maksimal jadi FRIEND IN NEED. Aku pasti senang menyaksikan keberhasilan sobat-sobat lain, yang mungkin bisa mengangkat deNL (kalau diinginkan terangkat). Tapi permisi, pada masa itu aku pasti mundur dan memilih menyimpankan senyum untuk deNL pada tatapan mata pribadi saja dan bukan publikasi, berdua atau beberapa orang saja bukan rame-rame, dan tetap bersahabat baik. Itulah mengapa aku memilih ketemuan tidak dengan sangat banyak orang. Aku memilih bangga jika lewat kesunyian bisa menginspirasi kawan-kawan menjadi lebih baik, daripada melecutkan deNL tapi jiwa-jiwa kita masih belepotan dan masih belum bisa lepas dari stigma HEDONIS (karena SATU BISA DIANGGAP MEWAKILI SEMUA). Ya itu tugas kita donk sebagai straightless untuk mengubah stigma tersebut. SETUJU! Tapi ketika tak semua orang bisa dan mau kita rangkul, apa tidak sebaiknya memaksimalkan orang yang ada?! Mungkin aku Gelap, tapi aku yakin bisa menerangkan Gelap jika memang Terang tetap dibutuhkan untuk menerangkan gelap lainnya.
Mungkin juga ketika deNL menjadi besar nanti juga ikut tergilas evolusi, yang baru menggantikan yang lama. Kesibukan, perasaan cukup sampai disini, kepindahan, menikahi lelaki, atau bahkan menikahi perempuannya sendiri dan living together abroad bisa menjadi alasan. SS saja yang lebih matang (dan dulu aku anggap leluhur kita, hehheheh) tak sanggup menahan evolusi itu. (Bravo kakak-kakak yang bisa living together dengan penuh cinta dan damai :))
Jadi mau kemana blog ini? Mau ke mana arisan kita? Mau ke mana kumpul-kumpul kita? Mungkin terlalu dini dibicarakan. Dijalani saja sambil menunggu perkembangan, dilakoni mawon.....jare wong Jowo. Tapi setidaknya aku sudah menentukan sikap untuk deNL atas kemungkinan "terbaik" yang bisa terjadi kapanpun. Dan kalau kemungkinan "terburuk" deNL begini-begini saja, akupun sudah memutuskan tetap bersahabat baik dengan founders deNL. YOU'VE GOT MY HEART, deNL. That's why I'll still be yours and our friendship I'll keep somehow.........although in other ways.
Ya Allah, hamba sangat merindukannya
Di antara sesal, kecewa, dan sakit
Mengapa hamba tidak bisa menyelamatkannya?
Mengapa Kau jadikan ini semua sebuah akhir tanpa pelajaran?
mengapa Kau pisahkan tanpa bertanya kesiapan?
Masih, sampai sekarang hamba bermimpi dia akan datang
mengobati perih yang terlanjur dalam
toh berkhayal memang tak butuh rasional
dan sering kali keajaibanMu datang di luar rasionalisasi
Hamba ingin mencium tangannya
hamba ingin membasuh dan bersujud di kakinya
hamba ingin membahagiakan dia lebih lama!
sekarang, hamba tak tahu harus berbuat apa
dia menjawab saja tidak
dengan apa kami bisa bersua?
Aku masih merindukanmu, meski kau tak hadir kala itu
Aku masih mengingat senyum hangatmu, harapku bakarku nyalankanku
Aku masih mencintaimu.........
walau rasanya sangat perih
dan antara percaya atau tidak rasa itu masih ada
bukan, bukan hanya karena masa itu saja
mungkin aku sedikit lelah atau memang sudah sangat lelah
mengikutimu aku mau........
tapi segala jalan hidupmu membuatku merasa setengah nyawa
mau tak mau meski kupahami
bertahan menjadi setan.......demi memalaikatkanmu!
terlalu sulitkah kita bertemu?
Sedikit saja, siramilah sukmaku............
Aku merasa asing....siapa dalam diriku. Kata-kata sudah tiada, dan untuk berucap pun acapkali malas.
Tiga bulan yang menghantam itu rasanya membuatku bisu tuli. Aku tetap tegak membujur, meski meruntuh.Aku tersenyum, walau tertusuk pendulum. Aku bahkan tak tahu sedang baik-baik saja atau sebaliknya. Mati rasa!
Parahnya, itu tetap berlangsung ketika ayam berkokok lagi. Kakak-kakakku, bahkan bunda tercintaku sudah bisa terbahak-bahak sambil bergaruk. Bersandar pada siapa? Tegakah aku membuat pertahanannya kembali jatuh,bahkan mungkin di atas puing yang belum benar-benar mengencang. Tapi apa yang mau aku sandari? Toh aku sendiri tak tahu apa yang terjadi dan yang aku inginkan
Satu-satunya hiburanku adalah ketika memandikan pahlawan perempuanku itu, atau ketika memijitinya, dia di atas kasur, dan aku di kolongnya. Dengan begitu aku bisa beralasan mengelus kakinya, bahkan sangat wajar untuk mencium kakinya. Ibu, aku butuh sedikit bantuanmu, analisamu bahwa aku hanya sedang terhenti dan bukan mati!
Begitu pula ketika berkumpul dengan teman-teman, aku lebih suka mengamati sekitar ketimbang terlibat obrolan yang maha serius. Atau skalian kopyor, aku menggoda sana-sini. Hal yang wajar, selalu kulakukan sejak kecil pada teman-temanku yang empuk jadi sasaran "buang hajat". Tapi godaan itu kosong, tak aku tak merasa euforia, tak merasa menang, ataupun bahagia! Parahkah?
Untung saja, aku bekerja di bidang seni yang sangat penuh tantangan, dan aku mensyukuri kebodohanku yang dulu tak punya komputer, sehingga sekarang adalah masa bermainku dengan script-script yang aku sangat tak paham tapi justru mengasikkan diolahnya. Aku sering terbangun, dengan rasa yang sangat kalut, entah karena apa dan oleh siapa, kerinduan pada apa aku juga tak paham. Melek mata itulah kugunakan bermain script, entah besok jadi apa, tapi aku tak membiarkan perasaanku kosong, walau seringnya malah script yg aku ketik adalah celetukan hatiku.Aku sedang mengalihkan, atau tepatnya menipu perasaanku, atau apalah, tapi aku puas. Sambil menunggu detik ninabobokkan aku.
Aku sedang acuh. Rasa ini untuk kesekian kali, tapi lagi-lagi aku tak paham jawabannya. Otakku mungkin sedang tidak center, udelku juga, atau mungkin semuanya. Aku ingin mengakhiri krisis ini.
Tapi hari ini sedikit ada pencerahan. Tamu bulanan yang absen hampir 4 bulan terakhir, sekarang nongol. Entah ada hubungannya atau tidak, aku cuma mau menyemangati diriku sendiri "aku sudah bisa menyelesaikan 1 masalah, lainnya pasti bisa selesai!"........
YA, MUNGKIN BENAR, JIKA DIRANGKUM MASALAH-MASALAH TERASA BESAR, PADAHAL MEREKA TERDIRI DARI 1 ATOM MASALAH-MASALAH KECIL. HANYA BUTUH WAKTU UNTUK MENGURAINYA, MENGIKHLASKAN APA YG TERJADI SAMBIL MENDANDANI SAJA YANG AKAN TERJADI. KALAU MEMANG HARUS SAMA-SAMA TERCEBUR LUMPUR, HANYA KITA YANG BISA MEMBELOKKAN MAU TERJUN KE JURANG LUMPUR ATAU HANYA TERCIPRAT SE-MATA KAKI.
Aku jadi teringat satu bait yg pernah aku baca.......
"TUHAN....BERILAH AKU KEKUATAN UNTUK MENGUBAH APA YANG BISA AKU UBAH, BERILAH AKU KEIKHLASAN UNTUK MENERIMA APA YG AKU TAK BISA UBAH....... DAN BERILAH AKU KEBIJAKSANAAN UNTUK MENGETAHUI PERBEDAANNYA"

