Tampilkan postingan dengan label Lesbrary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lesbrary. Tampilkan semua postingan

Judul buku: Flambe
Penulis: Club Camilan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Kota dan tahun terbit: Jakarta, 2014
Genre: Novel Dewasa


Meski memakai konsep sama seperti buku Club Camilan sebelumnya yakni tiga penulis dalam satu buku, Flambe tidak membagi ceritanya menjadi tiga sub seperti sebelumnya.



Dengan tebal tiga ratus halaman, sampul berwarna lembut nan menarik dan bobot buku yang ringan ini nyatanya mempunyai tema yang berat sehingga masuk kategori novel dewasa.

Isu lesbian kental dibahas, Flambe menawarkan berbagai konflik yang terjadi pada homoseksual Indonesia. Gay yang berusia remaja, lesbian yang beranjak dewasa, pasangan lesbian dengan anak, lesbian yang punya profesi sebagai pendidik, perselingkuhan, lesbian dalam keluarga, coming out, juga orang tua yang harus menghadapi perbedaan orientasi seksual anaknya.

Buku ini merekam jejak nyata dalam bentuk fiksi tentang homoseksual dalam lingkungan di mana mereka hidup. Di mana tidak hanya lingkungan di luar dirinya yang bisa memicu konflik, dalam pergelutan dengan diri sendiri pun mereka gigih berjuang untuk hidup normal dan diterima masyarakat sekitarnya.

Konflik tentang cinta, semacam perselingkuhan, tentu memberikan dampak umum yang sama tak peduli itu pasangan lesbian maupun heteroseksual. Frey dan Langit setelah delapan tahun bersama kini mengalami goncangan yang sama, saat Langit tergoda oleh perempuan lain.

Karena semua tokoh berkenalan di titik yang sama yaitu Kafe Kuali, mestinya ada pasangan atau satu orang yang punya porsi yang lebih menonjol sebagai tokoh sentra. Tapi di sini rupanya penulis berhasil menggali masing-masing karakter yang ada dengan porsi yang cukup, sehingga novel ini menjadi hidup.

Dari Kafe Kuali tersebar pelanggan yang ikut mewarnai cerita di luar kafe.

Verna, ibu sepasang remaja kembar yang baru saja kehilangan suaminya harus menghadapi kenyataan bahwa salah satu anaknya homoseksual, selain harus belajar mengurus bisnis peninggalan suami.

Lalu Crissy, yang mengenal Kafe Kuali dari Ola salah satu pemasok kue kafe, mahasiswi yang ditaksir oleh sesama mahasiswi.

Seana, pelanggan yang ngantor di seberang kafe juga memiliki dilema khas lesbian. Sedang pasangannya, Gina, belajar membenahi diri sendiri dan anak didiknya dalam menghadapi penerimaan diri.

Cerita yang tak terlalu panjang dalam satu bab memudahkan pembaca untuk membacanya di waktu luang atau sambil mencuri-curi waktu. Gaya bahasa luwes dan dialog yang tak kaku juga memberi nilai lebih pada novel yang terbit Oktober 2014 ini selain tema yang humanis. 

Ada beberapa hal yang mengganggu kenyamanan membaca di antaranya adalah nama-nama tokoh yang sulit diingat dan cetakan huruf yang kadang seperti dobel (yang kami tidak tahu apa hal ini terjadi cuma pada buku yang kami beli atau pada buku lain juga terjadi). 

Pengenalan tokoh di awal cerita juga terkesan terburu-buru, belum tuntas menawarkan satu karakter sudah berpindah pada karakter lain.

Awal membaca, pindah dari satu bab ke bab berikutnya terasa membingungkan karena terlalu banyak informasi yang harus diserap. Hampir pasti satu buku tak cukup untuk menyederhanakan hidup beberapa orang yang tak menghadapi satu konflik saja, apalagi Flambe juga mengupas konflik di luar tokoh sentral. Namun, penulis berhasil memungkasi kisah dengan memuaskan.

Di beberapa bab awal penulis juga terlalu mengindahkan detail, sebagai contoh latar atau penjelasan karakter yang kurang perlu.

Setelah mengenal "dunia" dalam buku ini, plot mengalir dengan baik dan penulis dengan cemerlang membangun konflik.

Informasi tentang pengarang mungkin perlu ditambahkan, mengingat Flambe punya tiga penulis berbeda dari buku keluaran sebelumnya meski berasal dari klub yang sama.

Beberapa buku Club Camilan yang terbit banyak menceritakan lesbian yang punya energi positif. Semoga Flambe memberi energi positif tambahan, supaya mata masyarakat terbuka bahwa lesbian itu ada. Mereka nyata, sebagian besar hidup menyesuaikan diri juga berusaha hidup normal, memberi kebaikan di lingkungan sekitarnya. Sementara saat ini, hanya sebagian kecil dari lesbian-lah yang tampak bagai gajah di pelupuk mata yang timbul ke permukaan karena cerita buruk yang melingkarinya yang mungkin kebanyakan sudah dipelintir hingga terkuras habislah citra baik yang ada.


Selamat petang untuk jiwaku yang masih benderang.

Lama berantah, tak pernah cukup kata aku bisa gambarkan bifurkasi petualangan yang aku jalani tanpa kalian, sahabat dunia keduaku, itu yang selalu aku sebut.

Entah dinamai tersesat, menemukan orang yang salah di waktu yang tepat, atau menemukan orang yang tepat di waktu yang salah. Dua-duanya sangat memerah otak dan dayaku beberapa tahun ini.

Kalian pasti paham, mungkin masih teringat, betapa ngeyelnya seorang aku dalam mempertahankan cinta. Entah dilabeli benar atau salah. Aku merayu, aku merajuk, aku mencandai, aku mencumbu, aku menangis, dan aku menangkis. Kadang aku mengucap cinta untuk mendatangkan cinta, dan sering aku berucap benci agar bisa mengusir cinta.

Dan pada hitungan ke tiga puluh lima purnama aku jalani tanpa kalian, aku sibukkan diri menjadi seseorang lebih baik, lebih tepat dan lebih pantas dicintai. Harapku sederhana, seperti kalian semua mungkin. Kalau bisa yang kali itu akan selamanya.

 Tapi...aku kembali kandas. Aku runtuh pada satu judul: PENGKHIANATAN. Rasa sakitnya tidak pernah melebihi ini, kawan. Seluruh perjuangan, kengeyelan, darah, air mata, hancur jadi satu dalam sublim KESEPIAN. 

 Bukan tentang 35 purnamanya, toh aku pernah melewatkan lebih dari 60 purnama bersama seseorang terdahulu. Sudah kupertaruhkan semuanya, bahkan yang tersisa yang aku miliki...yaitu keluargaku. Sudah kuanugrahkan waktuku untuk bekerja sekeras mungkin demi mengukir bahagia dalam semyumnya. Sudah kuserahkan bahkan kepalaku dalam genggaman dia, hanya demi dia yang aku pikir selamanya. Dan betapa butuhnya aku menunjukkan bahwa aku TIDAK PANTAS DITINGGALKAN lagi.

Aku runtuh, sakit. Aku habiskan puluhan malam mengutuk diriku sendiri yang tidak mampu mempertahankan lagi, mengutuk kurangku apa lagi, menghukum diriku sendiri dengan tidak pantas makan enak, dengan memasukkan rokok sebanyaknya. 

Meski....aku masih bisa mendengarkan hatiku memohon tidak memasukkan narkoba dan alkohol pula. Masih baik pada diriku 'kan?

 Dalam detik sunyi aku coba mengerti esensi. Apa..kenapa..tak pernah cukup ribuan orang bisa menjawabnya. Kata hatiku semakin aku kesampingkan, diriku makin tak terarah tanpa siapa-siapa. Meledak.....dan....arrrgghh. 

 Allah baik, setidaknya meski sempat aku siksa dengan aku bungkam, tapi hatiku masih belum mati, meski dekat dengan sekarat. Detik-detik otakku sudah tidak mampu berpikir tiba. Masih, saat itu aku namai lonceng kematian. Karena aku sudah sangat-sangat pasrah, kulit ari jiwaku aku rasakan mengelupas semua, bening ucapku sudah tidak bersisa....mengerucut...dan mengerucut. HANYA PADA TUHAN SEMUA KEMBALI, HANYA PADA DIA HARUS AKU SANDARKAN.

 Dan rasa limbung itu sudah tiada. Aku kosong, aku nol. Aku melayang. Aku melenting dan jatuh ke tanah terdasar dengan perasaan sangat ringan bahkan untuk tersenyum. Melepaskan apa yg sudah Allah titipkan untukku dulu. Mempercayakan atas skenario selanjutnya. Dan....IKHLAS.

 Sejak saat itu aku sudah tidak mau lagi meraung raung. Aku sudah tidak sudi berderai air mata untuk pengkhianat, dan aku bisa mengatakan: AKU TIDAK PANTAS BERSAMA ORANG YANG TIDAK SETIA KETIKA AKU SANGAT SETIA PADANYA.

Makna pengkhianatan yang dulunya masih aku yakini juga karenaku dan membuat aku menjadi pengemis kesempatan untuk kesalahan berkali-kali yang tidak dia pertanggungjawabkan sendiri...lalu menjelma jadi ego dan power. Bahwa TIDAK ADA ALASAN TEPAT UTK PENGKHIANATAN...selain memang DIA BAJINGAN!
Aku tidak butuh dianggap sebagai orang baik yang harus mengatakan "AKU RELA ASAL KAMU BAHAGIA," atau "SEMOGA KAMU BAHAGIA DENGANNYA". Karena kata-kata itu akan merusak ego powerku, dan satu-satunya yg harus aku selamatkan adalah HATIKU. Yang tidak bersalah dan sudah sangat sering aku bungkam dengan tidak adilnya.

Sejak saat itu pula aku bisa berucap: SEKEDAR MENCARI ORANG SEPERTI KAMU, TERLALU MUDAH. AKU BISA PASTIKAN SGT MUDAH PULA AKU MENDAPATKAN ORANG LEBIH DARI KAMU. DAN (SEBALIKNYA) KAMU TIDAK AKAN BISA MENDAPATKAN YANG LEBIH DARI AKU.


35 purnama aku kembara...tanpa siapa-siapa di ranah ini. Dan aku bisa berkata aku sudah habis baca buku "SELF AWARENESS". Betapa sering karena kita melanggar norma, bahkan norma paling dekat yaitu KATA HATI kita. Betapa sering kita zalim pada diri sendiri atas kerja keras dan perbaikan yg dilakukan setiap hari. Dan betapa sering hal-hal tersebut membuat kita jauh dari kata IKHLAS menerima apapun HADIAH dari Tuhan, baik ataupun buruk. Padahal TUHAN sudah merangkai kita dengan amat sangat baiknya, sangat lembutnya.

Aku mungkin masih akan menangis,tersenyum...tapi aku akan terus membaca buku-buku lainnya di perpustakaan Tuhan. Kali ini aku pasti lebih melibatkan Tuhan. Sebagaimana aku minta petunjuk ke petugas perpustakaan. Buku yang mana sebaliknya aku baca terlebih dahulu dan baik buat prosesku?

Dan sebagaimana kita dulu waktu sekolah naik kelas. Kita masih akan bertemu dengan buku-buku baru, buku lama cukup diingat saja tanpa perlu kita ingat siapa nama pengarangnya 'kan? Hidupku lebih ringan karena aku sudah jauh lebih yakin bahwa ALLAH SEBAGAI GURU-ku pasti tetap membimbingku dalam membaca buku. Hubunganku dengan GURU-ku lebih intim, karena sekarang aku sangat MEYAKINI seburuk apapun proses membacaku namai lagi lonceng kematian, Allah Maha Hidup akan selalu memberikan aku GENDERANG KEHIDUPAN.

Baru, ikhlas dan hidup.
:) Baiknya Allahku.
----------------------------------------------------------------------------------------
Maap numpang login nya n1nna..:D
Salam kangen buat semuanya.
Semoga masih bisa menjadi inspirasi











Buku favoritku Bulan Mei jatuh pada novel karya Catherine Friend dengan judul A Pirate's Heart.

Mempunyai dua kisah cinta, Friend membawa kita berpetualang bersama para bajak laut yang dikepalai oleh Kapten Tommy dalam perburuan harta di tahun 1700an dan di masa kini perburuan harta karun yang mereka sembunyikan mempertemukan perpustakawati bernama Emma, dengan detektif swasta yang misterius.

Sejak peristiwa penyelamatan Tommy terhadap budak Jamaika mempertemukannya dengan Rebekah Brown, dalam perburuan kapal penuh harta bersama kapten bajak laut lain ia lebih memilih menyerang kapal pengangkut budak. Namun ternyata Rebekah tidak hanya merubah satu dari sekian prioritas yang dimiliki oleh Tommy.

Hidup bergelimang harta menjadi mimpi setiap bajak laut. Kenyataannya, kebanyakan dari mereka mati secara tidak terhormat baik di tiang gantungan ataupun di dasar laut sebelum bisa menikmati hasil rampokan mereka. Sering mereka mati muda. Demikian tertulis akhir tragis Kapten Tommy dalam surat Kapten Avery kepada ibunya, tapi dendam Avery belum selesai sampai di situ. Enam buku yang ditulis oleh Kapten R. Brown menjadi kunci misteri yang tengah berusaha dipecahkan oleh Emma untuk membuktikan bahwa peta harta karun Kapten Tommy nyata.

Mampukah Emma memungkasi petualangannya dengan akhir bahagia?

Novel ini 'enak' dibaca dan tidak menye-menye. Meski merasa aneh dengan cara mereka menemukan pulau misteri yang dicari-cari, hal ini tak mengurungkan niatku untuk menjadikan buku ini favorit di bulan kemarin.

Ditulis tahun 2008, buku ini menonjol di antara buku dengan tema bajak laut lesbian. Meski bukan buku baru, aku merekomendasikan membaca novel ini terutama bagi mereka yang menyukai bajak laut muda nan seksi.


Aku penggemar fanfiksi, seorang penulis favoritku membukukan buku She Came at Dawn setelah menuliskannya secara bertahap dan melakukan beberapa koreksi. Sebenarnya, fanfiksi bisa menjadi karya yang berdiri sendiri, mungkin yang punya ragam alternate universe punya kans paling besar untuk itu. Sebab bacaan bagus tetaplah bacaan bagus, banyak sekali penulis fanfiksi yang punya potensi besar untuk menjadi penulis lepas.

Katja Michael menulis She Came at Dawn (SCaD) tahun 2013, mewarnai kancah fiksi lesbian.

Banyak orang tak percaya cinta pada pandangan pertama, pun aku meski sudah mengalaminya dua kali. Katja mengambil tema ini pada tulisannya dan berhasil membuatku tersenyum-senyum sendiri, mengingat masa aku jatuh cinta pada pandangan pertama.

Di dunia ini segala sesuatu punya dua sisi, cinta tak menjadi pengecualian, sisi kejam dan sisi indah. Sering kali kita melihat sisi kejam cinta sebagai keindahan tersendiri atau sebagai kesatuannya.

Melissa bertemu Laila, yang mempunyai rambut seperti kegelapan malam, saat senja dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa dia sadari. Melissa punya segalanya saat Laila masuk dalam kehidupannya dan Melissa harus berjuang agar segalanya tidak porak poranda. Laila menyeruak seketika, di kampus Melissa, di mimpi Melissa, di kehidupan cinta Melissa. Keduanya menyukai Romeo dan Juliet, Melissa utamanya, keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama dan mabuk karenanya.

Dulu, ibuku selalu bilang, tak usah kuatir masalah cinta. Hal itu mungkin juga dikatakan ibu semua gadis, bahwa kita musti bertahan pada lelaki yang setara bibit, bebet, bobot.  Kesetaraan di jaman ini mungkin tak lagi mengenai hal itu. Dan bagaimana kalau kita beri referensi baru pada "kesetaraan" dengan tak melulu lelaki dan perempuan yang seimbang?

Bergabunglah dengan Melissa dalam memaknai kesetaraan dan cinta, and prove that mommy lied.