Di tengah kesibukan yang tidak kenal kompromi akhir-akhir ini, membuat saya tidak sempat menulis. Dan siang ini saya kembali terpecut oleh twitter niken. Entahlah, untuk menulis sepertinya tidak lagi semudah dulu. Gagu. Kata-kata tidak lagi mudah tertata kecuali kalimat formal yang menjenuhkan. Terbiasa dengan laporan yang berisi kalimat pasti membuat kalimat yang aku tulispun tidak lagi berdiksi. Bagaimana tidak, setengah tahun terakhir kami seperti dikejar anjing yang sekian bulan tidak makan. Setitik saja peluang dengan sedikit hal yang terlalu menguntungkan, kami kejar dan harus kami jalani dengan pengorbanan waktu, pikiran dan energi yang panjang.

Bicara tentang Ibu, selalu mengingatkan saya tentang masa di mana saya melihatnya pagi-pagi menangis di dapur. Ibu yang menangis dan mengadu ke Yangtri (Eyang Putri) dengan cerita yang saya belum mengerti sampai kemudian bapak keluar dari kamar dengan diam. Keluargaku memang aneh, ibu yang dominan dalam segala keputusan-keputusan dalam keluarga, dan bapak yang tidak pernah bicara dengan kami kecuali masalah raport dan sekolah. Pun ketika masa itu terjadi, bapak adalah sosok lelaki yang kami tidak cukup kami fahami.

Sampai saya dewasa, hubungan antara kami sebagai anak dan orang tua tidak lebih dari memenuhi kewajiban dan tuntutan tanpa mereka tahu apa yang kami inginkan. Saya ingat sekali dulu ada kebiasaan yang ternyata kami bertiga (saya tiga bersaudara) sama-sama lakukan. Menyimpan cerita dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kami dalam sisi afeksi dengan saling menjaga. Mencari teman-teman yang akhirnya menjadi teman kami bertiga diluar keluarga. Kami terbiasa melarikan diri dari rumah yang sepi dengan lebih akrab dengan anak-anak tetangga di sawah, pekarangan, sungai, kebun belakang rumah, mengembala kerbau, bahkan mencuri tebu.

Ya, sosok Ibu buat kami bertiga seasing bapak. Ibu lebih sibuk dengan mengurus orang-orang yang bekerja di sawah. Bapak buat kami seperti seorang yang memberikan seluruh hidupnya dengan pengabdian total pada negara. Seluruh waktunya tersita di depan kertas-kertas. Seorang guru yang total tapi lupa mendidik anak-anaknya.

Masa pertumbuhan oral saya diisi oleh perempuan-perempuan hebat yang tidak pernah hilang dari ingatan saya. Empat perempuan yang saya sebut IBU. Saya merasakan kehangatan pelukan, kasih sayang, menemukan pemenuhan rasa lapar dari ASI empat perempuan. Mbok dan Emak memang tinggal di samping rumah induk kami. Mereka dua keluarga yang biasa disebut rewang, bekerja pada Eyang. Kata Yangkung (Eyang kakung), orang tua mereka dari dulu sudah menjadi orang-orang kepercayaan keluarga kami, karenanya mereka mendapat rumah di pekarangan dekat rumah kami. Mereka juga bagian dari keluarga. Di saat ibu sibuk mengurus orang-orang yang bekerja di sawah dan di gudang tembakau sampai sore, saya bergantian menyusu Mbok, Emak dan Iyung. Saat belajar berjalan dari sekian kali terjatuh dan menangis kesakitan, saya mendapatkan semua itu dari Iyung, Mbok dan Emak. Sisanya sedikit, dari Ibu.

Sampai ketika saya memasuki sekolah Taman Kanak, Ibu tetap asing berada di kelas. Sementara anak-anak lain ditunggui oleh Ibu atau keluarganya, saya sendirian menghadapi orang-orang baru atau anak-anak kecil seumuran saya sebagai pemerhati. Sampai saat ini, saya benci kemampuan komunikasi saya yang payah. Menjadi pengamat yang tekun seperti bapak sangat bukan keinginan saya. Saya tidak pernah ingin seperti bapak. Buat saya, bapak tidak pernah benar-benar memiliki fungsi dalam keluarga kami selain menanamkan sperma dan membuahi ibu kemudian kami menjadi ada. Kehangatan darinya pernah saya rasakan ketika saya masih kecil, itupun samar. Seingat saya, kami dulu pernah menjadi sangat dekat bahkan dibandingkan dengan Ibu. Saya ingat pernah di malam sebelum saya terlelap, saya berada dalam rengkuhan hangat dekapan tangannya yang kokoh. Suaranya yang berat menyanyikan “Kijang Talun” sambil menimang saya di dekapannya. Atau ketika saya demam tinggi, dia kebingungan mencarikan dokter sampai ke kota yang jaraknya puluhan kilometer dari rumah kami. Tapi hubungan kami memburuk ketika saya mulai sekolah. Kami hampir tidak pernah berkomunikasi kecuali masa penghakiman di saat menerima raport. Dia akan mendudukkan kami bertiga dan memarahi kami karena nilai-nilai mata pelajaran yang dianggapnya buruk, bertanya kami akan ke SMP mana, SMU mana, ambil IPA atau IPS, kuliah di mana, bekerja sebagai apa? Don't you think he's freak? Saat saya masih SD saya diharuskan berpikir sejauh apa hidup saya ke depan. Komunikasi yang hanya satu tahun sekali diisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya harus kami pikirkan sepanjang tahun.

Ibu, perempuan ini tidak kenal lelah menjalani kehidupan. Dia sosok yang membuat saya memiliki sisi berbeda, kekuatan untuk survive dan tidak berhenti berusaha. Sebagai perempuan yang sisi kepekaan emosionalnya tinggi, dia yang waktu itu memilih tidak meneruskan sekolah setelah SRnya selesai, mengambil kursus-kursus bekal pengayaan dirinya. Cakap memasak dan menjahit. Ketika muda, dia jatuh cinta dengan anak dusun yang saat itu hanya bekerja menjadi buruh sawah di keluarga eyang. Sayangnya eyang tahu, sampai kemudian ibu dipaksa menikah dengan bapak, berpendidikan dengan masa depan yang dianggap terjamin.

Saya tidak lagi banyak tahu apa yang terjadi dengan ibu karena sejak SMP kami sudah diharuskan kos meskipun jarak rumah dan sekolah tidak lebih dari 20 menit perjalanan dengan sepeda ontel. Pulang satu atau dua minggu sekali, menikmati kesendirian di hari sabtu minggu dengan menonton TV atau tiduran menghabiskan buku bacaan di kamar gelap membuat saya semakin jarang mau pulang. Dari dua minggu sekali, intensitas pulang saya bisa sampai bulan. Saya hidup untuk diri saya sendiri. Menikmati merasakan cinta monyet tanpa siapapun yang bisa saya ajak berbagi cerita, mengejar kakak tingkat sampai terdampar di Surabaya tapi kemudian dia memilih menikah.

Saat itulah saya bertemu adik tingkat yang kemudian menjadi teman hidup saya selama dua setengah tahun.

Di saat pulang ke rumah keluarga kami, mereka tahu kedekatan kami hanya sebatas adik kakak. Sampai kemudian dua setengah tahun perjalanan kebersamaan kami, denial saya bahwa hubungan kami salah membawa saya pada situasi yang cukup sulit, sampai saya terkapar karena thypus. Saya pulang ditemani koko Sony yang adalah sepupu saya, kebetulan kami kuliah di kampus yang sama. Si adik tingkat tidak menemani saya pulang. Saat saya dirawat di rumah sakit selama dua minggu meninggalkan semua yang ada di surabaya, saya merasa tidak tenang. Ibu yang saat itu menemani saya di rumah sakit, seperti mengerti bahwa sakit saya bukan sebatas fisik, tapi lebih karena psikologis. Saya memaksa kembali ke surabaya dalam kondisi yang belum benar-benar pulih.

Sesampai di surabaya, saya dikejutkan dengan orang yang menempati posisi terpenting dalam hidup saya sudah memilih melanggar komitmen kami. Dia bukan saja berkumpul dengan komunitas yang saya tidak pernah mau mengenal, komunitas lesbian yang menurut saya jelas salah meskipun hubungan kami berdua terkategorikan sama, salah. Dia sudah memiliki orang yang dengan bangga dia sebut pacar. Perempuan yang lebih matang dalam menentukan pilihan hidup sebagai seorang lesbian. Saya ingat Ibu saya, yang dalam keadaan apapun hatinya, tetap bersetia dengan bapak. Beberapa hari saja saya mendengar dan bersamanya, saya tidak kuat. Setiap hari dia hanya membicarakan pacarnya, bahkan bercerita bagaimana dia bercinta dan selingkuh dengan mantan pacarnya di rumah mereka. Ah, saya tidak sekuat Ibu. Kesabaran dan kesetiaan saya teruji gagal. Saya memilih pergi mencari ketenangan hidup saya sendiri.  

Malam terakhir sebelum saya memutuskan pindah, saya memohon kepada si adik untuk menemani saya sebelum (mungkin) kami tidak akan pernah lagi bertemu. Tapi dia memutuskan untuk pergi ke kos kami yang lama, katanya ada acara dengan teman-teman kos kami. Pagi, saya menerima telephone dari nomer si adik, bukan suaranya. Tapi ada latar suara tangisan, ya tangisan si adik. Saya bingung, suara laki-laki di telephone bilang, si adik kecelakaan dengan seorang perempuan, kondisinya parah dan saya harus ke lokasi. Saya memakai hijab dengan cepat tanpa mandi.

Sesampai di tempat kejadian, saya melihat motor pacarnya si adik rusak parah di depan rumah. Saat saya masuk rumah, si adik yang telentang memanggil-manggil nama saya sambil tidak berhenti menangis. “Sa..., sa..., maafin aku sa..”.  Saya meraih tangannya yang menggapai, mengenggamnya lembut dan mengelus kepalanya.

Kemampuan finansial saya yang masih payah karena hanya bekerja selingan di warnet dan bekerja freelance di perusahaan riset pemasaran membuat saya harus malu. Saat melihat si adik dan pacarnya kesakitan, saya tidak lagi punya pilihan selain menelephone Ibu, meminjam uang untuk membawa mereka berdua ke rumah sakit. Dan perempuan itu tidak banyak bertanya selain, “Keluarganya adek nggak kamu telephone? Yawis Ibu transfrer, minta nomer rekeningmu”.

Dengan uang pinjaman dari Ibu saya membawa mereka ke rumah sakit terdekat, memaksakan pulang lebih awal karena ketidakcukupan biaya. Merawat mereka di kamar sempit kos kami, membetulkan sepeda motor yang rusak parah, memasakkan makanan, mencucikan baju, dan menyela waktu untuk tetap bekerja, mengabaikan kuliah semester akhir yang tidak lagi terpikirkan.

Di malam yang panas karena mendung dari sore tidak juga menurunkan hujan, saya kelelahan. Saya pamit tidur ke si adek dan pacarnya yang masih melihat TV. Di saat masih setengah tersadar, saya mendengar suara desahan, awalnya pelan, tapi kemudian semakin jelas. Tidak kuat menahan diri, saya bangun dan melihat dengan marah pada mereka berdua, melangkah ke gantungan baju, menyambar baju yang layak dipakai untuk keluar dan berjalan cepat ke kamar mandi.  Saya kembali ke kamar mengambil dompet dan kunci motor.

Kejadian ini benar-benar membuat saya terpuruk. Saya tidak lagi mau bertemu mereka berdua, saya memilih pindah ke kos baru. Kesendirian membuat saya tidak menjadi lebih baik. Setiap jalan dan tempat mengingatkan saya pada si adek. Di saat saya harus menyelesaikan skripsi, saya malah kehilangan pikiran sehat saya. Ketidakmampuan mengendalikan diri membuat saya bersikap impulsif. Saya merasa perlu keluar dari kota penuh kenangan yang membuat saya tidak berhenti dari rasa sedih dan kesakitan mengingat malam terakhir kebersamaan kami. Dengan nekat, saya naik kereta ekonomi ke Jakarta. Sesampai di gambir, saya menelephone om yang tinggal di Koja, meminta dijemput.

Kedatangan saya yang terduga dan kondisi saya yang terlihat kacau membuat om curiga, dia menelephone keluarga saya. Malamnya, paklek (adiknya ibu) sudah ada di Koja menjemput saya. Saya dipaksa pulang. Esoknya ketika di bandara saya kabur, nekat, saya hanya ingin sendiri. Saya kabur di adek yang saya kenal lewat media sosial di Binus. Setelah satu mingguan disana, saya mulai merasa ada yang salah, setiap hari memimpikan Ibu yang menangis. Aneh buat saya karena selama ini kami tidak pernah dekat. Ikatan emosional seperti ini harusnya tidak pernah ada dalam cerita sejarah perjalanan keluarga kami. Bahkan disetiap aktivitas saya, kemudian selalu terbayang ibu.

Penasaran, saya menelephone ke rumah. Ketika telephone terangkat, kakak kedua saya yang menjawab, “Halo, kamu di mana? Bajingan kamu! Pulang Na, ibu sakit”. Saya tertegun, dengan telephone masih tersambung, dan terdengar suara kecil perempuan menangis, itu suara ibu saya. “Aku cuma pengen sendirian dulu, lagi nggak pengen di Surabaya, mas”. Telephone berpindah, suara ibu menjawab, “Kamu pengen opo nduk? Genyo kok gak pengen neng Suroboyo? Pengen pindah Jakarta? Pengen kuliah neng kono? Ibu salah to nduk? Ibu salah...”  

“Mboten buk, aku cuma lagi pengen di Jakarta sebentar. Pengen menenangkan diri dulu, nanti pulang”

“Yawis, jangan tinggal di orang yang ibu nggak tau. Tinggal di bulek Sih ya, biar dijemput dek Putut”.

“Nggih buksudah, ibu jangan nangis, aku nggak apa-apa kok”.

Percakapan singkat itu membawa saya memahami sedikit tentang ibu. Memahami bahwa kami memiliki kebisuan yang salah selama ini. Ikatan antara kami berdua bungkam karena ketidakbiasaan kami saling berucap.

Dua minggu kemudian, ketika kaki saya menapak pintu rumah orang tua saya, pemadangan mengejutkan membuat saya tidak bisa menahan air mata. Kakak kedua saya bersimpuh di lantai melihat saya masuk kerumah, dan ibu saya menjerit pingsan begitu saya masuk.  Ada banyak keluarga besar saya di sana yang tidak bisa jelas saya lihat selain ibu yang dibopong bapak dan kakak pertama saya, dan, suara tangisan kakak kedua saya yang melihat dan bilang, “Aku wes ngiro, aku wes ngiro...”.

Setelah keadaan agak tenang, dan ibu mulai terlihat cerah dengan saya terus ada di sampingnya menemani tiduran, kami mulai berbicara. Ibu memeluk saya, dalam pelukannya dan tangannya yang kasar itu saya menemukan ketenangan dan keberanian. Ke mana saja kami selama ini?

“Enek opo to nduk?”

Saya menangis, semakin erat memeluk ibu.

“Cerito o, ben ibu ngerti”Perempuan yang tidak pernah saya rasakan kehadirannya itu juga menangis.

“Ayo to nduk, cerito, ibu ora ngerti nek awakmu ora cerito? Opo’o? Bapak opo ibu seng salah?” Suaranya semakin tersendat ditelan suara tangisnya.

“Aku sama ditha bukan adek kakak bu, kami sudah lebih dari itu. Aku dosa bu, aku udah kayak suami istri sama Ditha bu. Ditha sekarang ninggalin aku karena aku menjaga jarak”

Ibu diam, hanya memelukku dan (mungkin) mencerna kata-kataku.

“Ibu seng salah”

“Bukan, bukan salahnya ibu, aku seng dosa”

“Bukan, ini salahnya ibu”.

“Kenapa jadi salahnya ibu? Yang jalanin aku bu, yang lakuin aku”

“Salahnya ibu”

Pembicaraan itu tak lagi berlanjut, hanya pelukannya yang menenangkan. Membawa kami menyelami kemungkinan tanpa tahu apa yang perlu disalahkan.

Setelah saya kembali ke Surabaya dan memulai lagi semua dari awal, komunikasi kami semakin menemukan arah. Sering bertelephone dan mulai terbiasa bilang kangen. Bahkan, bapak juga mulai ikutan bersuara di telephone meskipun datar tapi mulai menunjukkan perhatiannya.

Ibu, seperti apapun beliau dalam ingatan kita, bukan lagi sejarah yang bicara, tapi ikatan yang tidak terpahami siapapun.

 

karena itulah kau selalu membuatku rindu, bu

karena bagaimana pun waktu berlalu

hingga mana pun jauh mengantar langkahku

tak pernah ada yang menamai rindu milikku

sesempurna kau menamainya

dan membuatnya akan selalu menjadi milikmu

hanya milikmu



karena itulah kusebut engkau rumah, bu

satu-satunya tempat di mana aku ingin selalu pulang

untuk sekadar menengok ruang masa kanak-kanakku

atau mencoba menitip hari-hari di masa depan

engkaulah yang akan selalu menjadi rumah itu,



ya, cuma engkau yang bisa menjadi rumah itu

meski mungkin perjalananku sudah lebih jauh

lebih jauh dari jejak kali pertama kau mengajariku

meski mungkin sudah begitu banyak huruf yang aku baca

jauh lebih banyak dari eja yang pertama kali engkau lukiskan

telah banyak pula mungkin lagu yang aku nyanyikan

jauh lebih banyak dari lirik yang pernah engkau bisikkan

tapi, engkaulah yang akan selalu menjadi rumah itu,

tempat hati selalu bisa berteduh

tempat segala kisah selalu bisa menetap

tempat mimpi kanak-kanak menyicipi cinta dan menjadi besar

juga tempat masa depan berebut doa dan menyemai harapan



karena itulah kau miliki segala cintaku, ibu

karena aku tahu dalam setiap langkah perjalanan jauhku

ada doamu yang menyerta cahaya

yang tidak hanya menyala saat gelap

tapi, selalu memberi arah saat terang terlalu menyilaukan



dan karena itulah kau selalu membuatku rindu, bu


Tema bulan Juli adalah lelaki terindah.




Sejujurnya saya bukan orang yang dekat dengan orang tua, terutama ibu. Sempat saya sangat membenci ibu. Waktu itu (mungkin tidak sengaja karena emosi) ibu mengatakan  kata-kata kepada saya, kata-kata yang seharusnya tidak pantas dikatakan seorang ibu kepada anaknya. Untuk beberapa waktu, hubungan saya dengan ibu yang sudah renggang menjadi semakin berjarak. Saya tidak mau lagi menyapa, meminta tolong ataupun menolong ibu.

Tiba-tiba saja bapak bertanya padaku, "Kenapa kamu tidak menyapa ibu?" 
Awalnya saya hanya diam tak berkata apa-apa, tapi bapak bertanya terus sampai akhirnya saya ceritakan kata-kata yang dilontarkan ibu pada saya. Dengan bijak bapak mengatakan, "Mungkin ibu khilaf dan emosi." 
Ada benarnya apa yang dikatakan bapak bahwa saat itu, mungkin ibu khilaf dan emosi. Tapi saya tetap enggan memulai menyapa atau mengajak bicara ibu sampai akhirnya ibu sendiri yang mulai menyapa dan mengajak bicara. Kedengarannya saya sangat egois dan tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi saat itu salah satu penyakit hati (kemarahan) sedang menjangkiti saya. Dan perlu di ketahui bahwa ketika amarah sudah menyelimuti hati maka mata dan juga pikiran pun akan ikut terbakar amarah.

Sejak kepergian bapak yang tiba-tiba, hubungan ibu dan saya mulai membaik.

Ibu sering bercerita tentang pesan yang selalu disampaikan nenek, tentang bagaimana bersikap terhadap orang tua. Jadi, saya akan mengutip sedikit tentang pesan nenek kepada ibu. Begini pesannya, "Jika ada orang tua marah, jangan dibantah atau dilawan dengan kata. Diam, diam, dan diam. Nanti jika suasana hati sudah sama-sama dingin barulah dibicarakan baik-baik", hanya itu pesan nenek, tapi saya juga punya pesan lain supaya kita bisa dekat dengan orang tua terutama ibu:
1. Buat orang tua (ibu) bahagia dengan cara membelikan makanan kesukaannya
2. Temani ngobrol, walaupun kita tidak suka ngobrol dengan ibu. Setidaknya jadilah pendengar setia obrolannya, lumayan daripada nonton tv yang acaranya hanya sinetron yang tidak berguna
3. Mengantar ibu ke pasar, lumayan kan bisa minta dibeliin jajanan pasar
4. Selalu ikhlas dalam mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan oleh ibu.

Hanya 4 hal di atas yang tidak sengaja saya lakukan hingga membuat ibu kembali dekat dengan saya. Walau dekat tapi sebenarnya masih ada tembok besar yang memisahkan saya dan ibu hingga saya tidak pernah menceritakan apa pun tentang diri saya kepada ibu.



I’ve seen a betrayal, un-trusted ego and unfair love story
Whatever is that, just like watching a broken record
It just planted in the mind
Never thought these gonna be an alarm
To build a house of glass to keep the caution
Create a fragile and vulnerable sense
And when the moments of broken happened
Just like a mirror
It gives a reflection just like happen years ago up to now
I guess, I’m just the lucky one
Who can share this experience of a broken feeling
Some kind of shattered, scattered and dumped
I’ve just known, how it felt
When someone you trust and you give your life on
Walk away and give you nothing in return but aches
Mother, if these are the feeling represented yours for all this time
Coz' I’ve been pray for you to take and replaced all of your wounds
And give it to me as a gift
I never thought this is the feeling
Now I know the feeling
Just watch you in tears and break down
In the middle of the night, you were trying to banish all the aches
I numb and I was just a child
If these feeling that I feel right now, I broken down to someone else
And then make you keep stronger...
Then I would not complain
Coz' I’ve been pray before
And this is now, a mirror of you
Who just torn apart only for a small aches
But feels like, I take all your aches
If it makes you hang on
Then I would not complain that I just feel a broken hearted overwhelming
These just a reflection of a broken feeling of you, Mother



Ketika berjalan di tepi pantaidi antara batas pasir putih dan riak gelombang yang menggapai lembut tapak-tapak kaki berjalan 
Aku berpikirseandainya hidup ini berjalan seperti ini.

Ketika peristiwa yang sedang terjadi ataupun sudah berlaluterhapus dengan lembut oleh air laut 
yang menggapai tepian pantai yang bergelanyut di antara kaki-kaki. Memberikan rasa lembutbukan rasa yang sangat menyakitkan dan merobek daging yang melekat di tulang ini.

Tiap waktu aku akan berjalan di antara batas pasir dan riak gelombang pantaibercerita tentang semua yang terjadi dalam hidupkurasa yang ada untuk orang-orang yang aku sayangi dan aku cintai.
Bercerita tentang wajah-wajah yang berseri dan tertawa riang dengan tatapan mata yang bersahaja,
menyinarkan kasih sayang yang tiada syarat. 
Dan kerut wajah yang menunjukkan kekuatiran ketika ada sesuatu hal buruk terjadi. Ataupun rasa marah 
karenaketakutan akan sesuatu buruk yang akan terjadi pada orang-orang yang kita sayangi untuk lebih  
berhati-hati dalam melangkah.
Rasa bangga akan orang yang kita sayangi dan cintai ketika bisa membuat hidup ini berarti  
meski hanya bisa membuat tersenyum saja.

Aku tidak akan mempemasalahkan pada pantai dan riak gelombang yang selalu menghapus kenangan-kenangan dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupku lewat tapak-tapak kakiku yang memudar seiring dengan  
air yang menyentuhku lembut. Apapun yang terjadiaku yakin ini semua adalah “lakon” yang harus aku jalanitetap terus berjalan dengan kenangan-kenangan yang menyakitkan ataupun manisPeristiwa-perisiwa yang menyedihkan dan mengiris hatiperih.

Jangan ada “eluh” yang menetes di pelupuk matakarena itu akan menghambat dan memperberat jalan keikhlasan untuk  
orang-orang yang berpulang menuju kedamaian abadiTapimasih aku ingin memeluk dan menciummu  
ebih sering dan selalu setiap hari. Dan masih ingin aku dipeluk lewat tatapan mata  yang syahdu  
dan senyum kedamaian lewat pandangan matamu, aunty.

Coretan-coretan kehidupan telah kamu isi dalam lembaran-lembaran “kertas”kuketika semua akan mengarah dalam bab isian dan penutupkamu serahkan pena 
 kehidupanmu kepada Yang Di Atas.
Begitu indah kamu mengisi hari-hariku dan lembaran-lembarankutanpa sempat kuberpikir ini adalah akhir dari segalanya dan aku harus melangkah sendiri. 
 Lewat senyum abadimuseakan berkatateruskan jalanmu dan aku akan melihat dari atas sini.

Apapun itu… apapun itu… aunty aku bisa melihat dan merasakanmu dari sini.  
Aku sayang dan mencintaimu, aunty.



Aku mungkin diam
tetapi bukan seperti
diamnya batu-batu yang memiliki ketabahan permulaan
barangkali
Ibu merahimkan aku dari
kesakitan atau kasih sayang, siapa yang tahu?
Aku belajar mengaji
masih dari tegaknya alif
belum seperti bejana yang selalu
menerima airmu tanpa pernah penuh
Ibu melahirkan aku dari
derita atau tenunan cinta, siapa yang butuh mengaku?
Katakanlah aku Malin
dikutuk selalu berlayar sebagai batu
Maka lepaskan aku sebagai anak panah
yang kau lepas atas nama keharusan, apapun
Sesiapa tak perlu bertanya:
Siapakah yang akan pulang?
Aku yang rindu padamu
atau aku yang sekedar bertamu padamu

15.10.2012

Foto: Batu Malin Kundang


Di jaman modern ini, relasi antar anak dan ibu telah jauh berkembang. Semua menjadi warga dunia yang hampir sewarna, sehingga saya pikir relasi-relasi antara Ibu – anak jauh lebih terbuka daripada dekade lalu. Relasi dalam keluarga tersebut memang tidak serta merta akan berubah karena ada nilai agama dan tentu adat ketimuran. Relasi orangtua Ibu – anak dalam agama pun menempati suatu patron yang jelas. Kita lihat kedudukan ibu dalam Islam begitu dihargai, kemudian dalam Katolik ada Bunda Maria, dalam Budha ada dewi Kwan Im dan sebagainya.
Sebenarnya sejak di dalam rahim kita telah menjalin relasi dengan orangtua terutama dengan ibu. Anda bisa bayangkan kita yang hanya sejumput mani kemudian menjadi daging, diberikannya ruh, mengalami perkembangan otak, syaraf dan tubuh ada di rahim. Makanan, udara, nutrisi didapatkan janin dari asupan sang Ibu. Hal-hal psikis, seperti kondisi emosional Ibu, sentuhan bahkan suara-suara katanya dapat dirasakan dan didengar oleh sang janin. Begitu kita keluar saat diputusnya plasenta, maka yang kita cari adalah payudara Ibu. Kehidupan.
Dalam bukunya, Side by Side: The Revolutionary Mother-Daughter Program for Conflict-Free Communication, Dr Charles Sophy mengatakan, pada dasarnya ibu dan anak perempuan menginginkan hal yang sama: cinta, pengertian, dan penghargaan. Mereka berdua saling menginginkannya dari satu sama lain. Ibu menginginkan cinta, penghargaan, dan pengertian dari anak yang dilahirkannya ke dunia. Anak perempuan menginginkan hal yang sama dari perempuan yang memberikannya kehidupan.

Bukankah kita demikian sahabat?

Tak banyak kita lihat hubungan antara ibu dan anak perempuannya begitu bahagia, karena terdapat pula hubungan keduanya yang tidak baik dan bahagia. Lalu, mengapa hubungan antara ibu dan anak perempuannya bisa serumit itu? Psikolog lainnya, Lesley Miles menyatakan, bahwa hal tersebut disebabkan sang ibu terkadang memiliki kesulitan untuk membedakan apa yang harus dilakukannya untuk anak laki-laki dan perempuannya.
Biasanya, anak perempuan cenderung lebih dekat dengan sang ayah dan anak laki-laki lebih dekat dengan ibunya, namun tidak menutup kemungkinan bagi sang anak untuk dekat dengan keduanya. Menurut Lesley, biasanya hubungan ibu dan anak perempuan bisa saling mengidentifikasi secara kuat dengan menjadikannya inspirasi satu sama lain, dan hubungan ini lebih sering diisi dengan ikatan emosional yang lebih dalam.
Satu hal yang bertentangan bagi anak perempuan yaitu aspirasi sang ibu. Seorang ibu tentu ingin anak perempuannya mengikuti tradisi yang konvensional, namun di sisi lain ibu juga ingin anak perempuannya memiliki karir yang sukses dan menjadi profesional. Apa yang dikehendaki sang ibu itulah yang biasanya menjadi pertentangan, dan terkadang membuat anak perempuan menghadapi kebingungan, apa yang sebenarnya diinginkan oleh sang ibu.
Lesley mengungkapkan, saat ibu memasuki usia 30-40 tahun, anak perempuannya akan memasuki usia remaja, dan seringkali timbul ketidakcocokan antara keduanya yang bisa menimbulkan masalah diantara keduanya. Selain itu, masalah yang ditimbulkan bisa dipicu karena ketidaksamaan pemikiran keduanya atau ekspektasi yang tidak realistis satu sama lain.
Saya sangat iri dengan saudara dan sahabat yang mempunyai hubungan baik dengan ibunya. Bahkan seperti sahabatnya sendiri. Saat ini bisa dikatakan saya tengah membangun relasi dengan Ibu. Saya jarang menulis tentang Ibu. Tulisan saya tentang orangtua saat saya berseragam putih abu-abu, membuat kami, saya, ayah dan Ibu saya berbicara panjang lebar yang berakhir Ibu menangis, ayah meninggalkan ruangan dengan kesal dan saya membisu penuh kemarahan. Saat itu saya menulis untuk artikel majalah sekolah dengan judul: Aku Tidak Butuh Docmart. Inti tulisan itu adalah kritik pada Ibu yang selalu membelikan sesuatu yang ngetrend saat itu (ehmm saya generasi 90 tahu kan docmart) padahal  saya tidak membutuhkan.
Setelah insiden itu, saya tidak pernah menulis tentang Ibu kecuali satu puisi yang malahan saya dituduh Malin Kundang oleh pesohor puisi. Namun di  usia saya yang mulai menua ini saya hanya mampu memahami satu hal untuk Ibu, sebejat-bejatnya saya, saya  harus mampu bersikap baik dengan Ibu saya.
Saya akan membagi sedikit tips dengan bagi sahabat-sahabat yang sulit membangun relasi dengan Ibu :
  1. Sadari saja ibu tidak akan bisa digantikan oleh siapapun, kalau sahabat bisa demikian menyayangi partner kenapa kita tidak bisa dengan Ibu? Mulai dengan senyum tulus dan stop apriori
  2. Berbicara rutin, semakin tua kadang orangtua semakin sensitif, percakapan biasa-biasa saja/remeh dari kita bagi beliau dianggap suatu perhatian. Kita yang menelepon partner bisa lama kenapa dengan Ibu tidak ?
  3. Menceritakan hal-hal lucu, tertawa sudah tentu sehat.
  4. Mengajak sahabat ke rumah, kadang seorang Ibu iri terhadap sahabat kita, seringkali generasi tua menganggap anak-anaknya lebih terbuka ke sahabat (meskipun iya), tetap upayakan bahwa Ibu adalah penting bagi kehidupan kita. Suksesnya kita tidak dianggap melulu dari segi finansial, tapi juga karena kita memiliki sahabat yang berarti.
  5. Beraktifitas bersama, meski itu dimulai dari sekedar nonton sinetron bareng (silahkan pilih mau belanja, ke spa, makan di luar atau liburan bareng)
  6. Berhati-hati memilih perkataan saat menanyakan siapa pasangan anda. Nah untuk terakhir ini memang suatu pilihan. Jujur itu beda tipis dengan tidak berkata apa pun. Menurut saya coming out memang masih menjadi momok bagi saya. Ada yang bisa membantu saya?


Tema bulan Juni adalah "How to be BFF with your mother"


Sabtu sore, 18 Mei 2013, langit Surabaya yang mendung dan hujan gerimis yang mendera kota pahlawan tak menyurutkan semangat arek Suroboyo merayakan International Day Against Homophobia and Transphobia (IDAHOT) yang jatuh pada tanggal 17 Mei.


Surabaya rutin merayakan IDAHOT tiap tahun. Kali ini disponsori oleh GAYa Nusantara (GN), Youth Voices Count (YVC) dan RRI Pro 2 95.2 FM. Acara diadakan di Color's Pub and Restaurant pukul 18.00 sampai 22.00 WIB.

Berbagai acara hiburan disajikan, menyemangati perayaan hari melawan ketakutan yang tidak rasional terhadap homoseksual dan transseksual. Berbagai brosur dibagikan, juga pin, dan sosialisasi lembaga-lembaga sosial untuk LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transseksual), diantaranya tentang website ISEAN.

Yang hadir beragam, mulai perwakilan mahasiswa dari Universitas Airlangga, lembaga sosial untuk penanggulangan NARKOBA/HIV-AIDS dan pendampingannya, IGAMA (Ikatan GAYa Arema), komunitas-komunitas LGBT Surabaya , sampai GAYa Celebes yang jauh-jauh datang dari Sulawesi.

Di puncak acara peringatan ini dijelaskan dan ditayangkan program-program yang sebelumnya telah dilakukan untuk memerangi homophobia & transphobia, diantaranya adalah Goes to Campus, Diskusi dan Pemutaran Film, dan Edutainment. Salah satu edutainment yang menarik adalah pemutaran video yang dibuat berdasarkan penelitian oleh Setia Perdana. Juga penjelasan tentang sejarah homoseksual di Indonesia oleh pakar sosiolog, Dede Oetomo, yang mengungkap beberapa keunikan yang salah satunya adalah Indonesia lebih dulu mencabut homoseksual dari daftar penyakit daripada WHO (World Health Organization). Lainnya, ada Andreas yang mengenalkan YVC, mengajak kaum muda LGBT berperan aktif membantu sesamanya.

Untuk meyakinkan bahwa kampanye ini diindahkan oleh penonton, Edyth dan Azis selaku pemandu acara membagi hadiah bagi yang bisa menjawab pertanyaan yang mereka berikan. Acara pembagian hadiah berselang-seling dengan acara hiburan, salah satunya adalah operet ala X-Factor yang membuat penonton terpingkal-pingkal.

LGBT menyentuh semua lini kehidupan, mulai dari kaum terpelajar, mereka yang junkies, bapak-ibu rumah tangga, sampai siapapun yang berada di pelosok negeri. Sering, stigma menempel erat di jidat kaum LGBT. Mereka menerima perlakuan yang tidak menyenangkan, mulai dari yang sopan tapi menyakitkan seperti sebuah siulan nyinyir sampai dilempar batu atau diludahi. Hal ini memberi pengaruh pada diri LGBT terutama kaum mudanya, dan hal ini menjadi masalah yang mesti dipecahkan tidak hanya kebisuannya, juga harus diberikan jalan keluar tanpa melanggar hak asasi siapapun.

Kecenderungan untuk bersikap buruk kepada LGBT ini bisa membuat nyali mereka ciut, menyembunyikan orientasi seksual mereka dengan harapan mendapat perlakuan yang lebih baik meski menyiksa diri sendiri secara nonfisik sering dilakukan kaum muda LGBT. Supaya terhindar dari cemooh, bully atau gencet, bahkan kekerasan fisik sampai ancaman-ancaman dibunuh. Menimbulkan kekerdilan dan rasa benci terhadap pergolakan yang terjadi pada diri sendiri.

Karena itu, IDAHOT kali ini, mengkampanyekan cinta terhadap diri sendiri. Love yourself...shout loud! Mengajak LGBT pada umumnya dan LGBT muda khususnya untuk menelaah dalam diri, merayakan kesadaran seksual yang beraneka ragam dan membuka cakrawala pengetahuan bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa senantiasa ada yang mengulurkan tangan untuk membantu berdiri saat jatuh terduduk setelah terpeleset berbagai masalah di sepanjang jalan.

Supaya LGBT bisa berjalan dengan dada tegap, melampaui dan mengatasi berbagai persoalan yang menimpa, memberi lebih daripada menerima, diakui dan disamakan haknya sama seperti manusia lain. Supaya seperti semua itu, LGBT harus belajar mencintai diri sendiri lebih dulu dan tak ragu meneriakkannya pada dunia.

Love myself...shout loud!



Aku akan memberi tahu suatu rahasia, ingat ini rahasia, jangan sampai orang lain tahu. Sebenarnya aku tidak punya ide ketika harus menulis tema bulan ini, tapi aku akan bercerita, jadi dengarkanlah.

Masa itu :
pada suatu masa datanglah seorang perempuan padaku dengan senyum yang sangat dipaksakan, kusut dan tanpa gairah. Seorang lelaki telah membuatnya terbang tinggi ke langit ke tujuh sekaligus membuatnya jatuh tersugkur hingga berdarah. Tanpa disadari air matanya mengalir, dengan tersenyum dia mengatakan, "Duh, air mata ini kok tidak mau berhenti, sih?"
Aku tersenyum dan berkata, "Krannya dol kali, makanya gak mau berhenti."
 
Dia pun tertawa sambil menyeka air matanya, "Dua kali aku suka dengan seseorang, dua kali pula aku harus seperti ini. Aku capek, apa aku sama cewek aja biar tidak seperti ini lagi?"
Aku tertawa keras, hingga air mata keluar, mendengar celetukannya.
"Kok ketawa, sih? Aku serius ini. Gimana, ya, rasanya kalo sama cewek?" katanya setelah aku berhenti tertawa.
"Gagal dengan dua orang bukan berarti kamu harus ganti orientasi seks," kataku kemudian. "Semua ada waktunya, mungkin mereka berdua bukan orang yang tepat buat kamu dan bukan berarti juga dengan jalan sama cewek kamu tidak menemui hal yang seperti ini lagi."
Kami hanya terdiam tanpa ada sepatah kata lagi.

Masa sekarang:
Waktu telah membuatnya berposes, dia sudah lebih tenang dan berseri walau belum sepenuhnya bayangan lelaki milik orang lain itu memudar dari pikirannya.
"Thanks, selama ini udah nemenin aku menangis," katanya sambil tersenyum. Aku mengangguk dengan tersenyum.

Kesimpulan:
Teman merupakan obat mujarab ketika kita berada di kondisi terbawah. Datangi teman, ungkapkan semua yang ada di hati dan pikiran, jangan pernah berpikir teman tidak layak tahu akan kesedihan kita. Teman sesungguhnya akan terlihat di saat-saat terbawah kita dan akan menemani kita berproses untuk menjadi yang lebih baik.

Cerita di atas hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan cerita, ya, salah sendiri kok bisa sama.

Nambah Berita: keluarga sebenarnya obat mujarab juga, sih, tapi jika tidak nyaman bercerita ke keluarga, ya, so, datangi temanmu. You're not alone.



Untuk move on dari suatu kedukaan (putus cinta, kematian, kegagalan, dan sebagainya) tidak semudah membalik telapak tangan. Saya tahu, jika hari ini Anda merasa sangat sedih, rasanya tidak mungkin kesedihan bisa berlalu begitu saja. Semua butuh proses, termasuk move on.

Seorang psikiater bernama Elizabeth Kuebler-Ross pernah menulis bahwa ada tahapan-tahapan dalam menghadapi kedukaan. Tahapan-tahapan ini tidak bersifat kronologis, dalam arti tidak semua tahapan terjadi pada semua orang dan tidak pula tahapan-tahapan ini sesuai dengan urutannya. Tahapan-tahapan tersebut adalah:
Penyangkalan (Denial) – “Ini tidak mungkin terjadi. Aku tahu dia masih sayang sama aku.” Atau, “Oh, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.” Penyangkalan ini seakan-akan merupakan benteng yang Anda bangun untuk melindungi diri Anda sendiri.
Marah (Anger) – “Ini tidak adil.” “Kamu jahat!” “Aku salah apa?” Pada tahap ini, manusia telah menyadari bahwa ia tidak dapat terus menyangkal keadaan. Sayangnya pada tahap ini banyak terjadi hal-hal negative yang mungkin akan disesali saat kedukaan ini sudah berlalu.
Menawar (Bargaining) – “Aku janji aku akan berubah.” “Aku akan melakukan apapun biar kamu balik sama aku” Tahapan ini mengandung harapan untuk menghilangkan penyebab kedukaan.
Depresi (Depression) – “Aku sangat sedih. Ini perasaan yang buruk sekali. Rasanya ga tahan!” “Aku kangen sama dia. Aku tidak bisa hidup tanpanya.” Di tahapan ini, manusia sering menangis dan merana. Menariknya, Kuebler-Ross tidak menyarankan orang lain untuk menghibur seseorang yang sedang berada di tahapan ini. Menurutnya, ini adalah waktu penting untuk berduka sepuasnya yang harus dilalui.
Penerimaan (Acceptance) – “Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja.” “Ini sudah terjadi. Hubungan kami memang harus berakhir.” Ini merupakan tahapan terakhir.

Bono, vokalis U2, pernah mengatakan, ”Music can change the world because it can change people.” Saya pun percaya, musik dapat membantu Anda untuk bisa move on. Musik dapat membantu anda berubah untuk keluar dari kesedihan dan menjadi orang yang lebih kuat.

Dalam hal ini, saya membagi musik menjadi 3 bagian, yaitu:

1)  Music of “The World Ended Tomorrow”
Better That We Break – Maroon 5
Nothing Last Forever – Maroon 5
Won’t Go Home Without You – Maroon 5
Another Day – Lene Marlene
Paradise – Coldplay

Lagu-lagu di atas adalah contoh untuk tahapan Penyangkalan, Menawar, dan terutama Depresi. Dengan liriknya yang menyedihkan dan nada-nada yang menyayat hati, maka tidak heran saat mendengarkan lagu-lagu seperti ini mengakibatkan hati Anda seakan-akan diperas sampai Anda menangis. Tidak apa-apa. Menangis itu perlu. Menangislah sampai puas.

2)  Music of “Fuck The World And Fuck You!”
In The End – Linkin Park
Stricken – Disturbed
Freak on A Leash – Korn
Somewhere I Belong – Linkin Park
Voices – Disturbed

Sedangkan ini, adalah contoh lagu-lagu yang tepat ketika Anda sedang berada di tahapan Marah. Alunan musiknya keras, kencang, berenergi! Lumayan untuk menghabiskan energi Anda agar tidak meluapkan kemarahan secara membabi-buta. Dengarkan saja lagu-lagu seperti ini, atau sambil ikut menyanyi atau berteriak-teriak. Luapkan kemarahan Anda sampai puas. Ini lebih baik daripada kemarahan Anda dilampiaskan dalam hal-hal yang dapat merugikan orang lain atau Anda sendiri.

3)  Music of “Life Is Good”
The Heart Of Life – John Mayer
Details In The Fabric – Jason Mraz
No More Cry – The Corrs
The Show – Lenka
Don’t Worry Be Happy – Bobby McFerryn
Haven’t Met You Yet – Michael Buble

Ini adalah contoh lagu-lagu dengan irama menyenangkan. Liriknya pun dapat membuat Anda tersenyum dan melupakan tentang sakit hati Anda. Ini adalah lagu-lagu yang tepat, yang baru bisa Anda nikmati jika sudah berada dalam tahapan Penerimaan. Jika Anda sudah berada di sini, Selamat! Anda sudah bisa move on dan sudah bisa berpikir sehat, bahwa dunia yang masih penuh harapan terbentang di hadapan Anda.