SING TEKO
Labels
- 2014 (26)
- 2015 (13)
- Agustus (3)
- April (4)
- Arthafreya (1)
- Bahasa (1)
- Bakti Sosial (2)
- Bullying (1)
- Cerita Pendek (2)
- Cinta (4)
- Cook (3)
- DE-NL-ERS (30)
- Desember (1)
- Dream (5)
- Efi (2)
- Erna (15)
- Februari (6)
- heningswara (20)
- Ibu (6)
- Januari (7)
- Juli (1)
- Juni (2)
- Kepada Rangga (1)
- Kontemplasi (26)
- Laki-Laki Terindah (3)
- LDC (24)
- Lesbrary (4)
- Liburan (1)
- Logo (1)
- MadRann (83)
- Maret (4)
- Maybe Yes Maybe No (3)
- Megha (7)
- Meghi (1)
- Mei (3)
- Mengeksekusi Hubungan yang Melelahkan (1)
- Merdeka (3)
- Meta (1)
- Mimpi (3)
- Missing Her (3)
- Move On (5)
- n1nna (1)
- Nadia (1)
- Neni (5)
- Niken (49)
- November (1)
- Oktober (2)
- Opini (1)
- Pahlawan (4)
- Puisi (94)
- Pusing (6)
- Rara (2)
- Resensi (7)
- Safe Sex (2)
- Sahabat (24)
- Self Awareness (3)
- September (2)
- Special Case (15)
- Tips (10)
- Vany (2)
Entri Populer
-
I’m tired not to not think about it About you and all your overwhelm words about her Say that you being egoistic to your self for loving h...
-
Judul buku: Flambe Penulis: Club Camilan Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Kota dan tahun terbit: Jakarta, 2014 Genre: Novel Dewasa ...
-
You came to save me when I needed a wide shoulder to cry on You gave me the cheers when the loneliness came I never paid attention before ...
Kontributor
Alkisah, ada Ksatria Otok yang dulunya pendekar pilih tanding
dari Padepokan Nggacor namun telah diusir karena kurang tapa dan menjadi tumbal
intrik mantan kekasihnya yang mendongkelnya dari padepokan itu karena sudah
bosan dan ingin berkuasa tanpa “kelilip mata” di depannya. Mantan Kekasih
Ksatria Otok ini bernama Hantu Thethek Melek dengan pukulan pamungkasnya Cangkem
Iblis.
Sayang seribu sayang, dengan pukulan Cangkem Iblis Hantu Thethek
Melek berhasil mengalahkan Ksatria Otok dengan telak. Hingga saat ini kelemahan Ksatria Otok ini adalah bila melihat wajah Hantu Tethek Melek, kesaktiannya
akan punah, perutnya akan mulas dan muntah-muntah hingga balsam yang paling
panas pun tak mampu mengobatinya. Maka Ksatria Otok yang keliatan culun ini pun
sesumbar, “Aku tidak akan melihat, bicara dan berurusan dengan kalian heee
orang-orang Nggacor, terutama kamu, Hantu Thethek Melek.”
Keadaan itu diketahui oleh teman-temannya yang kebetulan
menjadi pengembara bersamanya. Teman-temannya berusaha menyembunyikan dirinya
agar tak bertemu dengan Hantu Thethek Melek selama kesaktiannya belum kembali.
Bahkan teman sesama pengembara Ksatria Otok, Nyi Ngablak masih memanfaatkan kebaikan Ksatria
Otok agar menuliskan Kitab Seribu
Setan sebagai syarat kelulusan perguruan kondang di sebelah Kalidami yang
kumuh. Padahal bila guru Nyi Ngablak tahu bahwa tulisan Kitab Seribu Setan itu
dibuat orang lain, niscaya dia akan kena drop out alias dikeluarkan dengan
tidak hormat.
Ksatria Otok yang naïf ini berusaha menulis Kitab Seribu
Setan dengan bahan-bahan dari 3 Kitab Babon yang dimiliki Nyi Ngablak.
Sementara Ksatria Otok menulis kitab itu, Nyi Ngablak malah berindehoi dengan
pacar barunya Ki Tutuk Wolak Walik.
Sampai pada suatu saat Ksatria Otok mengerti bahwa ternyata dia hanya dimanfaatkan, dia kembali melarikan diri, kali ini dari Nyi Ngablak dan Ki Tutuk Wolak Walik. Dia melarikan diri dari mereka berdua karena Ki Tutuk Wolak Walik adalah sahabatnya yang telah punya gandengan tapi bukan Nyi Ngablak. Dia tidak mau mencampuri urusan asmara meski sebenarnya dia sempat dipisuh-pisuhi Ki Tutuk Wolak Walik di Facebook karena dianggap membunuh karakter Ki Tutuk Wolak Walik. Ki Tutuk Wolak Walik masih selamat karena Ksatria Otok belum punya niat memberi pelajaran orang yang dianggap sahabatnya.
Sampai pada suatu saat Ksatria Otok mengerti bahwa ternyata dia hanya dimanfaatkan, dia kembali melarikan diri, kali ini dari Nyi Ngablak dan Ki Tutuk Wolak Walik. Dia melarikan diri dari mereka berdua karena Ki Tutuk Wolak Walik adalah sahabatnya yang telah punya gandengan tapi bukan Nyi Ngablak. Dia tidak mau mencampuri urusan asmara meski sebenarnya dia sempat dipisuh-pisuhi Ki Tutuk Wolak Walik di Facebook karena dianggap membunuh karakter Ki Tutuk Wolak Walik. Ki Tutuk Wolak Walik masih selamat karena Ksatria Otok belum punya niat memberi pelajaran orang yang dianggap sahabatnya.
Sayang seribu sayang, dalam pelarian dirinya ini Ksatria Otok
ini lupa mengembalikan 3 Kitab Babon milik Nyi Ngablak. Meski sebenarnya 3
Kitab Babon itu bisa didapatkan melalui unduhan gratis. Ksatria Otok yang naïf,
ceroboh dan suka menghindari masalah ini memang apes. Nyi Ngablak yang malas
dan serakah berpasangan dengan Ki Tutuk Wolak Walik yang memang sudah dendam
dengan Ksatria Otok ini rupanya menyimpan niatan membalas dendam, tapi mereka tidak segera mengejar
dan menghajar Ksatria Otok agar mengembalikan 3 kitabnya.
Maka setelah pelariannya hingga di Kampung Sebrange Wong
Congok, baru saja ia bertapa kembali. Ia digeruduk oleh Nyi Ngablak dan Ki
Tutuk Wolak Walik. Namun kali ini Ki Tutuk Wolak Walik yang telah tahu
kelemahan Ksatria Otok, membawa Hantu Thethek Melek dan beberapa orang dari Padepokan
Nggacor agar Ksatria Otok gentar.
Berhasil? Tentu.
Berhasil? Tentu.
Dengan melihat wajah Hantu Thethek Melek, Ksatria Otok saja
sudah hampir muntah, hatinya mencelos dingin dan tangannya tak bisa merapal
suatu mantra. Meski Hantu Thethek Melek mengatakan datang sebagai teman, Nyi
Ngablak dengan sok innocent dan Ki Tutuk Wolak Walik dengan senyum mengembang,
meminta Ksatria Otok mengembalikan 3 kitab milik Nyi Ngablak.
Anehnya ketika Nyi Ngablak ditanya apa saja judul 3 kitab itu malah bilang lupa.
Akhirnya Ksatria Otok disuruh membuat perjanjian agar mengembalikan kitab-kitabnya atau membayar dengan kepeng. Syukurlah Kitab Babon itu ketemu satu dan kini Ksatria Otok sedang sibuk mencari kitab kedua.
Anehnya ketika Nyi Ngablak ditanya apa saja judul 3 kitab itu malah bilang lupa.
Akhirnya Ksatria Otok disuruh membuat perjanjian agar mengembalikan kitab-kitabnya atau membayar dengan kepeng. Syukurlah Kitab Babon itu ketemu satu dan kini Ksatria Otok sedang sibuk mencari kitab kedua.
Begitulah, Ksatria Otok memang tidak beruntung dengan
pertemanan apalagi percintaan.
(Suara pemirsa 1: OPO TUMON WONG NGGARAP KITAB SERIBU SETAN LUPA KITAB
BABONNYA?)
(Suara pemirsa 2: OPO TUMON JARE
KONCO TAPI NGGAWE SURAT PERNYATAAN DENGAN SUBYEK HUKUM TIDAK JELAS ?)
Entahlah.
Ketoprak di atas bila dipraktekkan baik sebagai Ksatria
Otok, Nyi Ngablak dan Ki Tutuk Wolak-Walik serta Hantu Thehek Melek dan Geng
Nggacornya adalah contoh dari bullying dan mobbing. Ksatria Otok korban bully,
sementara pelakunya adalah Ki Tutuk Wolak Walik dan pelaku mobbing adalah
Hantu Thethek Melek dan Geng Nggacornya.
Bullying adalah tindakan menyakiti orang lain agar dirinya
memiliki kuasa untuk mengatur orang lain. Tindakan menyakitinya bisa ditunjukan
dengan mengintimidasi, name labeling, gossiping, sampai ke tindakan fisik seperti menampar
ataupun memukul. Ada banyak alasan mengapa orang menjadi tukang bully dan tidak ada satupun alasan tersebut
yang bisa disepelekan.
Alasan
Orang Mem-bully
Menurut laman www.kawankumagz.com, ada beberapa
alasan orang mem-bully yaitu :
1. Karena biasa di Bully
Perilaku bully kebanyakan terjadi karena siklus.
Maksudnya, orang bisa menjadi kasar karena dia biasa dikasari oleh lingkungan
sekitarnya. Orang yang besar dengan sikap kasar seperti ini kebanyakan akan
tumbuh sebagai orang yang juga akan kasar terhadap orang lain.
2. Karena menjaga tradisi
Perilaku bully yang paling sering terjadi di sekolah
adalah tradisi mengerjai anak-anak baru pada masa orientasi. Di masa orientasi
ini enggak jarang perilaku bully yang dilakukan saat masa orientasi
menjadi tindakan kriminal yang merugikan nama baik.
3. Karena ingin berkuasa
Banyak hal yang dilakukan orang untuk mendapatkan
perhatian orang lain. Untuk mendapatkan perhatian banyak orang tersebut banyak
yang membuat dirinya lebih kuat ataupun berkuasa dari orang lainnya.
4. Karena iri
Banyak orang yang mengintimidasi ataupun memberikan name label kepada orang lain karena dia merasa iri
dengan kelebihan yang dimiliki orang lain. Kelebihan orang lain tersebut
membuat dirinya tidak nyaman, dan ketidaknyamanannya dia tunjukkan dengan sikap
kasar ataupun intimidatif sehingga orang tersebut juga merasa tidak nyaman
juga.
5. Karena kurang percaya diri
Banyak diantara orang yang tukang bully itu
justru karena dia memiliki krisis kepercayaan diri. Banyak dari mereka yang
mungkin terlihat tangguh dan berani saat mengerjai orang lain tapi justru
menjadi ciut ketika harus maju ke depan sendiri dan menjadi pusat perhatian. Makanya kebanyakan tukang bully biasanya
selalu berkelompok.
Jumat, 20 Maret 2015
|
Posted under:
2015,
Bullying,
Cerita Pendek,
DE-NL-ERS,
Maret
|
0
comments
Read more
Ada beberapa orang yang mati meninggalkan sesuatu
yang masih berasa setelah lewat sekian puluh atau bahkan ratus tahun; sebuah
perjalanan untuk ingatan masa hidup seseorang ketika sudah tiada. Namun tidak
sedikit di antara mereka yang menyisakan rasa getir ketimbang rasa lain untuk
diingat dalam sebuah cerita, cerita yang akan terus dikumandangkan tahun demi
tahun melawan waktu untuk bertahan namun pada akhirnya hilang tidak berbekas,
mati mengikuti ajal sang pemilik cerita.
Pagi itu setelah usai menyiapkan dagangan di
Parikesit, saya harus ke belakang untuk mengambil keperluan bebersih di teras
depan yang kami jadikan tempat berjualan. Di saat melewati ruang baca, saya
terhenti. n1nna menangis sesengukan. Semalam dia tidur di ruang baca setelah melalui
saat yang berat karena menerima berita teman dan rekan sejawatnya mengalami plasenta akreta pasca melahirkan.
Masih dengan
tubuh bergetar karena tangis, dia bercerita kalau temannya baru saja meninggal
beberapa saat tadi. Waktu di sekeliling saya seolah berhenti. Saya bahkan tidak
merasakan bisa bernafas dalam hitungan detik hingga akhirnya berhembus
seakan tidak mengenal henti. Selamat jalan siapapun engkau.
Saya memang
tidak mengenalnya secara personal, sejenak saya menyampaikan duka pada semesta
untuk mengantarkannya menjalani masa setelah kehidupan. Benarkah ada masa
setelah kematian? Ah, sudahlah, dia pasti sangat meyakini itu. Semoga semesta
menerima jiwamu untuk terus hidup di dalam setiap diri yang kau tinggalkan dalam
kenangan baik.
Saya bersedih bukan hanya karena kepergiannya,
tapi melihat n1nna yang menangis karena kehilangannya. Ya, hidup hanya berisi
tiga masa pertemuan, melewatinya melalui setiap masa-masa sulit bersama, lalu
pergi untuk mati atau pergi begitu saja karena memang tidak memiliki visi yang
sama dalam menyikapi hidup. Menurut apa yang diyakini sahabat n1nna, ia mati
dalam syahid setelah berjuang untuk melahirkan ditambah pula ia mengalami kematian di hari yang
diagungkan agamanya, hari jumat. Menurut salah satu hadis yang cukup sahih
periwayatnya: “Syahid ada tujuh macam selain gugur (terbunuh) di jalan Allah;
orang yang mati karena penyakit lepra adalah syahid. Orang yang mati tenggelam
adalah syahid, orang yang mati karena penyakit bisul perut adalah syahid; orang
yang mati terbakar adalah syahid; orang yang mati karena tertimpa bangunan atau
tembok adalah syahid; dan wanita yang gugur disaat melahirkan (nifas).”[HR.
Imam Thabaraniy]
Satu lagi duka saya terima baru saja beberapa jam
yang lalu, anak dari om-nya Niken, yang merawat keponakannya, meninggal karena
gagal ginjal.
Banyak kematian yang membuat saya belajar untuk lebih memaknai
hidup. Berlomba dengan sisi egois yang manusiawi melekat dalam diri saya untuk
terus berupaya menjadi lebih baik
Merasakan kesedihan karena hal yang seperti ini membuat
saya teringat dengan seseorang yang sedang memenuhi pikiran dan perasaan saya
akhir-akhir ini. Tentang bagaimana dia melalui hidup dan ketakutan saya. Beberapa
kali pertemuan yang singkat, saya secara perlahan mulai menaruh respek terhadap
dirinya bahkan angkat topi dengan wawasan yang dimilikinya, karena dengan
usia yang masih begitu muda mampu menjadi teman ngobrol ataupun diskusi yang
menyenangkan. Tapi sepertinya itu hanya sebatas pemahaman, bukan pengertian
yang kemudian dia bawa dalam penyikapan yang bijak dalam hidup seluas
pengetahuannya.
Ah, saya memang selalu terlalu berlebihan
menyikapi sesuatu. Tapi begitulah saya, melodramatis seperti hidup yang berisi pigura-pigura tentang banyak hal dan orang yang tidak pernah kita kira, harapkan bahkan
inginkan. Dua sisi dalam dirinya membuatnya selalu menyikapi banyak hal dalam
dua acara pandang yang kontradiktif. Menginginkan tapi juga tidak mau, mengagumi
tapi membenci, menghormati tapi sering mengatakan orang tersebut tidak layak
menjadi manusia. Bipolar membuatnya sempurna dalam ketidaksempurnaan.
Menyayanginya membuat kita harus bisa memahami
cinta yang tanpa syarat. Tapi ternyata itu menjadi sangat berat ketika saya
mengira cinta saya sudah tanpa syarat. Terbukti dua mingguan lalu mantannya
dengan santai bercerita mereka berhubungan intim lagi (setelah mati-matian
pertengkaran dengannya karena kelancangan saya bilang, “Kamu masih miliknya dia,”
membuat kami tidak bertegur sapa cukup lama), dia malah beberapa kali masih
bercinta dengan orang yang tidak dia inginkan tapi selalu bersamanya dalam
hampir semua aktivitasnya
Seiring berjalannya waktu, terlalu sulit untuk
menjawab pertanyaan apa yang sebenarnya saya inginkan darinya. Kesibukan demi
kesibukan seolah silih berganti mewarnai hari yang harus dijalani. Membumikan
mimpi tentang rumah singgah yang nyaman untuk pengembangan diri yang juga
memberikan banyak manfaat untuk sekitar. Bahkan ketika menulis ini saya
ikut berandai-andai, bahwa saat ini dia mungkin akan melihat bahwa
ketidaksempurnaan saya dalam menjalani hidup serupa juga dengannya yang tidak
memahami bagaimana menerima ketidaksempurnaannya.
Membaca tulisan ini mungkin sebagian orang akan
bertanya-tanya mengapa dia yang saya temui dan kenal dalam waktu yang relatif
singkat namun memberikan kesan yang mendalam hingga rela menuangkannya dalam beberapa
tulisan saya terakhir ini. Yah, itulah sosok dia yang masih saya kagumi dalam
ketidaksempurnaannya. Dia tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat orang lain
respek terhadap dirinya dan tulus melihat orang lain sebagai teman untuk
sekedar ngobrol, diskusi dan ngopi hingga tetes terakhir.
Seperti yang pernah dikatakan Sir Peter Ustinove, tidak ada gunanya mati jika anda tidak menghantui ingatan seseorang. Jika
anda tidak meninggalkan secercah rasa. Diabukan hanya meninggalkan secercah
rasa dalam kenangan perjalanan hidup yang saya jalani, sepertinya saya harus
lebih keras terhadap diri saya sendiri untuk mencintainya tanpa syarat agar
hidup saya (yang tidak pernah saya tahu kapan waktu akan berhenti) bisa membuat
tetap dalam batas yang saya bangun dengan susah payah selama ini. Menjalani
hidup dengan tanpa syarat, untuk membuat hidup lebih bisa saya tinggalkan dan
akan dikenang dalam kebaikan.
Mungkin saya salah satu orang yang menganggap
penting eksistensi saya di dunia. Hingga apa yang dipikirkan orang lain begitu
penting untuk saya. Tapi, buat saya ini bukan hanya tentang kenangan,
melainkan merubah ketidaktulusan yang sudah membusuk dalam setiap diri, hingga
hidup orang lain dianggap (hampir semua orang di dunia ini) bukan urusannya,
karena tidak penting dan membawa manfaat untuknya.
Untuk saya, hidup adalah
menghidupkan. Karena hidup terlalu singkat untuk hanya memikirkan dan
menjalaninya (hanya) untuk kepentingan dan kebutuhan diri (kita) sendiri.
Bulan menjelma sempurna di
langit, samar. Malam melarut dalam pusaran waktu yang menghening. Mungkin, ada
pula orang yang tak menemukan kata yang tepat untuk saling mengucapkan salam
tidur. Dan, katanya, bumi semakin menua--semoga ia semakin bijak.
Harap sampaikan pesanku kepada
dia yang merasa kehilangan,
"Perjalanan bukan hanya
tentang satu dua persimpangan. Dan, yakinlah, ketika kau tak bisa kembali ke
persimpangan yang terlewatkan, memang seperti itulah cerita dalam sebuah perjalanan:
menemukan dan melewati persimpangan. Satu-dua, bahkan tiga persimpangan. Dan,
setiap persimpangan akan selalu punya cerita. Kau hanya berhak mengabadikannya,
bukan memilikinya.
Kau tahu, seperti di dalam cerita negeri ajaib yang Alice datangi, 'Setiap jejak, setiap jalan, dan setiap persimpangan milik-Ku,' kata sang Ratu. Dan, begitulah adanya. Akan selalu ada bahagia dalam setiap persimpangan, jika itu yang kau cari. jadi, buat apa merasa kehilangan, toh kau tak memilikinya, bukan? Seorang bocah kecil saja tahu bagaimana rasanya ketika ditanya apakah ia merasa kehilangan ketika ia kehilangan sebuah mainan yang tak pernah ia miliki? Kau tahu, ia akan katakan bahwa ia tak pernah merasa kehilangan dalam hal itu--tentu saja begitu.
Setiap persimpangan, di
ujungnya selalu ada bahagia. Teruslah berjalan. Jangan hentikan langkah hanya
karena kau kehilangan satu-dua persimpangan yang telah kau lewati. lupakan
saja. Ada persimpangan lain di depan sana. Lalu, pilih persimpangan yang ada di
perjalananmu itu, tak perlu ragu. dan, percayalah: jalan bahagia selalu
bermuara di setiap persimpanganNya.
Lalu, mengapa kita harus takut kehilangan, sementara tak ada yang kita miliki?
Mengapa kita harus takut kehilangan, sementara tak ada yang kita miliki dan sang Ratu telah mengakui bahwa Dia-lah yang memiliki semua itu? Tapi, jika kau temukan alasannya, tuliskanlah. aku akan membacanya. Mungkin, hanya akan membacanya.
Begitulah saya selalu
menuliskan tentang keyakinan orang lain dalam menyikapi apapun yang sedang
menghangat bahkan membakar habis kehidupan. Seperti halnya “Je Suis Charlie”;
“Pertikaian antar suku di Papua”;
Berbagai pertikaian karena Keyakinan di seluruh dunia; Pembantaian
manusia karena RAS di seluruh dunia; dan yang juga tidak terselesaikan di
Indonesia, misalnya: Gerakan 30 September 1965”
Keyakinan, baik terhadap Tuhan maupun terhadap ideologi tertentu, adalah candu. Ia
menjanjikan jalan pintas dari persoalan yang tak terpecahkan:
“Berdoalah dan serahkan
segalanya kepada yang kita sembah.” Itu adalah sebuah jurus pamungkas dari
solusi persoalan yang tidak mampu kita selesaikan. Orang-orang yang putus asa
dan para pemalas sangat menyukai konsep itu.
Keyakinan melemahkan daya
juang. Ia membiarkan kita tergantung pada sosok sang Tuhan yang akan menjadi
jawaban dari semua masalah-masalah kehidupan yang pelik.
Keyakinan melemahkan mental dan
akal kita. Ia telah menyediakan jutaan hikayat keteladanan hidup para nabi
untuk kita contoh tanpa kita mesti bersusah payah lagi mencari kebenaran hidup
kita sendiri.
Keyakinan mematikan sejuta
kemungkinan mencapai jalan kebijakan. Ia telah mengharuskan kita menjalani cara
yang telah ditentukan oleh isi kitabnya. Kita dituduh sesat bila kita
menolaknya. Keyakinan adalah citra keangkuhan. Membuat penghakiman terhadap
orang-orang yang tidak mau mempercayainya.
Keyakinan adalah candu buat
para pemalas dan orang-orang putus asa. Ia menyediakan sekian banyak kemudahan
dalam menjalani hidup dan menjanjikan begitu banyak kenikmatan surga. Ia
membiasakan kita pada konsep dosa dan pahala. Menjadikan kita pamrih atas
setiap perbuatan baik kita.
Keyakinan adalah candu. Membuat
kita mabuk dan mencuri kesadaran kita. Lalu mengarahkan kita pada
kepentingan-kepentingan para penguasa.
Keyakinan adalah candu yang
meracuni hati nurani kita dan menjauhkan jarak kita dari sosok Tuhan yang
sesungguhnya. Tuhan yang tak menuntut apa-apa. Tuhan yang maha tersenyum pada
setiap tindak dan prilaku kita.
Keyakinan adalah candu yang
membunuh kita perlahan namun pasti. Yang akan membuat kita mati dalam sesatnya
pemahaman tentang hidup.
Keyakinan menciptakan Tuhan
yang berpihak.
Keyakinan menyembunyikan
rahasia terbesar Tuhan,
Bahwa sesungguhnya Tuhan tak
berKeyakinan.
Berkaitan
dengan tragedi yang menewaskan awak redaksi Tabloid Charlie Hebdo, tentu yang
pertama kali harus saya sampaikan adalah ungkapan dukacita yang begitu dalam
atas terbunuhnya yang dilakukan dengan cara-cara brutal.
Dari
mulai Pemimpin Redaksi Charlie Hebdo, Stéphane
Charbonnier, dan para kartunis di Tabloid Charlie Hebdo, ikut tewas dalam
tragedi yang sangat menyedihkan ini.
Mereka
dibunuh saat sedang menggelar rapat redaksi.
Serangan
dan aksi pembunuhan disaat para jurnalis ini sedang berkonsentrasi dalam
rapat redaksi adalah sebuah bentuk teror yang sangat terkutuk.
Di
sisi lain, saya tak sepenuhnya sependapat dengan karya-karya yang ditampilkan
Tabloid Charlie Hebdo selama belasan tahun. Di mana
kartun-kartun yang mereka tampilkan kerap kali merendahkan tokoh agama-agama
samawi, bahkan bila itu Islam sampai ke level Nabi Muhammad pun
mereka lecehkan. Melecehkan Islam, terutama melecehkan Nabi Muhammad atau
siapapun, bukan hal yang tepat dan bukan hal yang bijak, untuk diumbar dalam
kepentingan apapun dalam hidup keseharian umat meski itu non muslim di seluruh
dunia.
Saya
tak bermaksud durhaka pada agama manapun bila menyatakan dukungan terhadap
Islam, khususnya tentang perlunya seluruh warga dunia yang non muslim untuk
menghargai dan memberikan penghormatan terhadap agama lain, sebagai bagian dari
toleransi antar umat beragama dan kebebasan beragama. Dimana
kebebasan beragama itu, nilainya sama tinggi dengan kebebasan berekspresi dan
kebebasan pers.
Terlepas
dari keyakinan Ibnu Taimiyah dan Yahudi yang menghalalkan pedang untuk
menegakkan syariat yang mereka yakini, seharusnya sudah tidak lagi dibiarkan.
Kami adalah setiap diri yang mendambakan kebebasan berekspresi dan kebebasan berkeyakinan dalam arti yang sesungguhnya.
Tanpa teror.
Tanpa intimidasi.
Tanpa kekerasan.
Dan tanpa kesewenang-wenangan.
“Je Suis Charlie”
Jumat, 09 Januari 2015
|
Posted under:
2015,
Erna,
Januari,
Opini,
Self Awareness
|
0
comments
Read more
Sebagai perantau yang tinggal di Surabaya, saya cukup sedih
dan berempati kepada keluarga yang terkena musibah. Dan sedikit misuh ketika di
tengah musibah itu muncul akun yang “nyukuri” mereka tidak bersama kita lagi
hanya karena berbeda ras dan agama. Sungguh saya malu. Tapi hati saya besar
melihat, walikota Surabaya yang benar-benar hadir mendampingi para keluarga
korban. You’re awesome, Mam.
Sepuluh tahun lalu 26 Desember 2004, tsunami telah membuat
nyawa 250 ribu masyarakat Aceh melayang, lalu tanggal 28 Desember ini
diperkirakan seluruh penumpang berjumlah 155 orang dan tujuh awak pesawat 7 yang kebanyakan berasal dari Kota Surabaya meninggal
dalam perjalanan Surabaya-Singapura. Perjalanan yang harusnya penuh suka ria untuk merayakan tahun baru berubah menjadi duka cita bagi keluarga yang
ditinggalkan maupun masyarakat.
Saya percaya kematian bukanlah langkah terakhir bagi seorang
diri. Bahwa setelah mati ada kehidupan yang kekal. Dan kematian adalah
pelajaran terbaik bagi manusia.
Penyintas, survivor
yang tangguh kita harapkan muncul dari seluruh keluarga korban. Bahwa
kehilangan akan menimbulkan luka, trauma mendalam itu pasti. Meski adagium,
waktu yang akan menyembuhkan, sepatutnya kita selalu bersiap diri menghadapi
yang kita anggap terburuk di dunia ini.
Agama saya mengajarkan, beribadahlah seolah-olah besok akan
mati dan bekerjalah seolah-olah kita akan hidup selamanya, toh juga Tuhan
memberikan tiga misteri yang tak mungkin kita pecahkan hari ini juga. Yaitu
rejeki, jodoh dan kematian. Dari itu kita selalu diingatkan agar waspada
terhadap kematian dan membuat wasiat yang baik.
Waktu tidak akan pernah kembali, maka saya percaya berbagai
kehilangan atau belum tercapainya sesuatu dalam hidup ini merupakan kekayaan
batin bagi kita. Apakah kita memilih menjadi pecundang atau pejuang, apakah
kita memilih merasa cukup ataukah harus “ada” sesuatu lagi yang harus dicapai.
Apakah kita menjadi penyair galau seperti ……ahhh sudahlah atau bekerja keras
macam Basarnas ini.. Bahwa momentum itu sebenarnya, tidak hanya pergantian tahun
masehi, namun pergantian tanggal hari, ke hari. Dan sekali lagi saya mengingatkan pada diri
sendiri, ada sebuah perkataan dari Uswatun
Hasanah saya yaitu :“Hari ini harus lebih baik dari hari
kemarin, jika hari ini sama seperti hari kemarin kita adalah
golongan orang yang rugi, dan jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin kita
termasuk golongan yang celaka”.
Kehilangan Yang Bukan
Kehilangan
Kalau kita pernah membaca Kho Ping Hoo, saat kita menangis
karena kehilangan seseorang sebenarnya kita menangisi diri kita sendiri. Kita
menangis karena ego kita yang tak mau ditinggalkan. Menurut Ibnu al-Qoyyim
(cendekiawan muslim Abad 13), dunia ini ibarat bayangan, kejar dia dan engkau
tak akan pernah bisa menangkapnya. Balikkan badanmu darinya dan dia tak punya
pilihan lain kecuali mengikutimu.
Seperti teman-teman yang jomblo, gagal move on, itu hanya
karena egonya. Dia bahagia dengan kesakitan itu. Mau contoh... Ah sudahlah. Maafkan tulisan ini hanya bermaksud refleksi, bahwa ketika kita
kehilangan sesuatu, biarkan saja kesedihan datang. Karena dengan bersedih kita
masih mampu merasakan sakit dan air mata, dan itu manusiawi. Tetapi yakinkan
pada diri kita, bahwa kesedihan itu ada masanya, lalu kita mengenangnya sebagai
kaleidoskop. Perlu dikenang tetapi dengan penuh penghormatan dan kebahagiaan
bukan lagi kesedihan.
Tanpa mengecilkan yang sedang berduka, bahwa kehilangan atas
nama apapun telah menjadi kepastian di Buku Besar. Alasan-alasan kita untuk
menuntut agar kehilangan itu terkompensansi hanya sekedar meringankan beban
hati kita, bahwa demi kemanusiaan dan penghormatan terakhir untuk
almarhum/almarhumah, kita telah berjuang agar kehilangan itu tidak sia-sia.
Masih banyak musibah di dunia ini, perang, terorisme,
kejahatan atas nama apapun, dan symbol agama belum tentu menjadi solusi. Justru
seringkali menjadi pemicu pertikaian dan peperangan. Saya tidak menginginkan
bencana dan musibah lagi agar kita bisa merasakan apa itu waktu yang berharga,
kesetiakawanan, kemanusiaan. Sekali lagi, setiap kali kematian adalah pelajaran.
Maka di waktu yang penuh momentum ini, biarlah kesedihan,
kehilangan memeluk kita hari ini, dan biarlah besok kita merencanakan yang
terbaik tentu sambil tetap menyerahkan proposal itu kepada pemilik jiwa kita
yang sebenarnya.
Rabu, 31 Desember 2014
|
Posted under:
2014,
2015,
Agustus,
Januari,
Niken,
Self Awareness
|
1 comments
Read more
Judul buku: Flambe
Penulis: Club Camilan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Kota dan tahun terbit: Jakarta, 2014
Genre: Novel Dewasa
Genre: Novel Dewasa
Meski memakai konsep sama seperti buku Club Camilan sebelumnya yakni tiga penulis dalam satu buku, Flambe tidak membagi ceritanya menjadi tiga sub seperti sebelumnya.
Dengan tebal tiga ratus halaman, sampul berwarna lembut nan menarik dan bobot buku yang ringan ini nyatanya mempunyai tema yang berat sehingga masuk kategori novel dewasa.
Isu lesbian kental dibahas, Flambe menawarkan berbagai konflik yang terjadi pada homoseksual Indonesia. Gay yang berusia remaja, lesbian yang beranjak dewasa, pasangan lesbian dengan anak, lesbian yang punya profesi sebagai pendidik, perselingkuhan, lesbian dalam keluarga, coming out, juga orang tua yang harus menghadapi perbedaan orientasi seksual anaknya.
Buku ini merekam jejak nyata dalam bentuk fiksi tentang homoseksual dalam lingkungan di mana mereka hidup. Di mana tidak hanya lingkungan di luar dirinya yang bisa memicu konflik, dalam pergelutan dengan diri sendiri pun mereka gigih berjuang untuk hidup normal dan diterima masyarakat sekitarnya.
Konflik tentang cinta, semacam perselingkuhan, tentu memberikan dampak umum yang sama tak peduli itu pasangan lesbian maupun heteroseksual. Frey dan Langit setelah delapan tahun bersama kini mengalami goncangan yang sama, saat Langit tergoda oleh perempuan lain.
Karena semua tokoh berkenalan di titik yang sama yaitu Kafe Kuali, mestinya ada pasangan atau satu orang yang punya porsi yang lebih menonjol sebagai tokoh sentra. Tapi di sini rupanya penulis berhasil menggali masing-masing karakter yang ada dengan porsi yang cukup, sehingga novel ini menjadi hidup.
Dari Kafe Kuali tersebar pelanggan yang ikut mewarnai cerita di luar kafe.
Verna, ibu sepasang remaja kembar yang baru saja kehilangan suaminya harus menghadapi kenyataan bahwa salah satu anaknya homoseksual, selain harus belajar mengurus bisnis peninggalan suami.
Lalu Crissy, yang mengenal Kafe Kuali dari Ola salah satu pemasok kue kafe, mahasiswi yang ditaksir oleh sesama mahasiswi.
Seana, pelanggan yang ngantor di seberang kafe juga memiliki dilema khas lesbian. Sedang pasangannya, Gina, belajar membenahi diri sendiri dan anak didiknya dalam menghadapi penerimaan diri.
Cerita yang tak terlalu panjang dalam satu bab memudahkan pembaca untuk membacanya di waktu luang atau sambil mencuri-curi waktu. Gaya bahasa luwes dan dialog yang tak kaku juga memberi nilai lebih pada novel yang terbit Oktober 2014 ini selain tema yang humanis.
Ada beberapa hal yang mengganggu kenyamanan membaca di antaranya adalah nama-nama tokoh yang sulit diingat dan cetakan huruf yang kadang seperti dobel (yang kami tidak tahu apa hal ini terjadi cuma pada buku yang kami beli atau pada buku lain juga terjadi).
Pengenalan tokoh di awal cerita juga terkesan terburu-buru, belum tuntas menawarkan satu karakter sudah berpindah pada karakter lain.
Awal membaca, pindah dari satu bab ke bab berikutnya terasa membingungkan karena terlalu banyak informasi yang harus diserap. Hampir pasti satu buku tak cukup untuk menyederhanakan hidup beberapa orang yang tak menghadapi satu konflik saja, apalagi Flambe juga mengupas konflik di luar tokoh sentral. Namun, penulis berhasil memungkasi kisah dengan memuaskan.
Di beberapa bab awal penulis juga terlalu mengindahkan detail, sebagai contoh latar atau penjelasan karakter yang kurang perlu.
Setelah mengenal "dunia" dalam buku ini, plot mengalir dengan baik dan penulis dengan cemerlang membangun konflik.
Informasi tentang pengarang mungkin perlu ditambahkan, mengingat Flambe punya tiga penulis berbeda dari buku keluaran sebelumnya meski berasal dari klub yang sama.
Beberapa buku Club Camilan yang terbit banyak menceritakan lesbian yang punya energi positif. Semoga Flambe memberi energi positif tambahan, supaya mata masyarakat terbuka bahwa lesbian itu ada. Mereka nyata, sebagian besar hidup menyesuaikan diri juga berusaha hidup normal, memberi kebaikan di lingkungan sekitarnya. Sementara saat ini, hanya sebagian kecil dari lesbian-lah yang tampak bagai gajah di pelupuk mata yang timbul ke permukaan karena cerita buruk yang melingkarinya yang mungkin kebanyakan sudah dipelintir hingga terkuras habislah citra baik yang ada.
Rangga,
Aku telah menanyakan apa beda langit Jakarta dengan New York,
sejujurnya aku ingin menanyakan kamu selama 12 tahun apakah menjadi Gay
sehingga kamu mendiamkan aku.
Sejujurnya Rangga, aku tak pernah berubah. Cinta (cinta yang
bukan namaku Rangga) itu akan selalu ada. Aku pastikan itu, berapapun Purnama
berbeda di kota kita, aku selalu merasakannya. Detik yang berputar, mata yang
berbinar, dada yang bergetar, rindu yang mendenyar dan cinta yang penuh
keriaan.
Tapi ternyata itu bukan untukmu setelah 100 hari berlalu.
Adalah cinta yang mengubah jalannya waktu. Dan waktu memberikan pelajaran
terbaik, bahwa rindu tak boleh memaksa jarak, bahwa rindu tak boleh menghancurkan
hati. Sebab cinta tidak melulu puisi dan drama Rangga.
Waktu mengajarkan kesedihan yang harus dilalui tetapi tidak
menghancurkan, maka ia hanya perlu mengambil air mata saat BBM naik, sakitttt
rasanya BBM naik, berarti pulsa dan layanan internet akan semakin mahal untuk
menghubungimu.
Waktu mengajarkan rindu tak harus dimonumenkan, sebab rindu
bisa diganti dengan agenda-agenda modus PDKT yang asyik. Buku dan catatan
puisimu telah digantikan gadged, dan aku terus terang lebih memilih memainkan
game Monopoli atau Poko Pang yang lebih asyik. (Sebenarnya aku juga ngegame Football Manager tapi aku lebih
suka main sebagai player girl
sih,,,,).
Waktu mengajarkan cinta itu harus ada selama kita hidup tapi
nuntuk siapa saja bukan melulu untukmu Rang.
Itu terlalu egois, narsis untukmu dan terlalu masokis untukku. Please
deh Rangga, meski kamu ganteng, aku juga cantik, dan gak hanya cowok yang naksir aku, tapi juga cewek, waria dan
mungkin tantemu.
Waktu juga lebih mengajarkan aku, bahwa memiliki buku AKU,
itu sudah kuno Rangga. Aku lebih memilih buku Masa Depan Tuhan, Tetralogi Buru,
Pram Melawan! , Atau antologi keren Bicara (bukan) Pada Sunyi (masih bisa pesan
POD di admin grup ini Rangga, kontaknya 081358090388).
Maaf Rangga bila aku menemuimu di bandara, aku hanya ingin
mengucapkan selamat jalan dan aku bilang waktu tidak pernah berjalan dan waktu
tak pernah terulang. Kamu sangat tidak beruntung memilikiku Rangga. Dan aku
beruntung tidak memilikimu, sebab aku aku menemukan cinta yang lebih membuatku
kuat, bertahan dan tabah tanpamu.
Rangga, kamu yang keren, tubuh yang seperti Achiles, mata
coklat tembaga, hidung mancung, rambut cepak, bibir yang sangat manis , kau
adalah kecintaanku dulu. Sekarang aku punya Rara dengan tubuh yang seperti Dian
Sastrowardoyo, mata hitam, hidung mancung namun tipis, rambut bergelung sebagu,
dan senyum menawan dan rasa bibir seperti madu. Anak kami kini dua, kucing Persia
yang kuberi nama Rangga dan Raka, jantan dan kukebiri semuanya.
Aku juga tidak pernah pake Line Rangga, maaf ya,
promo-promonya selalu menyebalkan. Selalu promonya membuat aku antri di gerai makanan itupun pakai
syarat dan ketentuan berlaku. Please deh Rangga. Kamu yang mengajarkan aku,
menulis dan membacakan puisi di depannya itu lebih bisa diterima, daripada di
Line atau apalah, aku tidak tahu itu buatanmu sendiri ataukah copy paste dari status orang lain (kalau
status mengutip, ya tulislah mengutip dari siapa Rangga!!!)
Yang dulu mencintaimu Rangga,
Cinta
Selasa, 18 November 2014
|
Posted under:
2014,
Kepada Rangga,
Niken,
November
|
0
comments
Read more
Jancuk.
Kosakata tersebut tidak artinya. Namun bila anda di Surabaya, mengucapkannya dengan tekanan nada dan ekspresi marah kepada lawan bicara, maka
anda telah membuka konfrontasi.
Apabila ucapan ini diucapkan dengan senyuman pada sahabat anda misalnya, “Jancuk, suwe gak ketemu koen” maka anda
akan mendapatkan balasan “ Cuk, iyoi,”
mungkin bonus pelukan.
Lain lagi bila anda mengucapkan di depan orang yang lebih tua atau bos
anda, setidaknya ucapan “Lapo cangkemmu misuh?” dengan nada
tinggi itu adalah hal yang akan anda temui, atau malah bogem dan surat delik
aduan penghinaan di muka umum atau perbuatan tidak menyenangkan bisa anda
dapatkan. Kalau yang mendengar adalah para pemakai tagline Indonesia Milik Allah
akan mengelus dada dan beristighfar, mungkin.
Bahasa memang alat komunikasi yang unik. Pada suku-suku yang
mengutamakan atau belum bisa meninggalkan ciri-ciri kedaerahannya, pemilihan
kata terhadap lawan bicara adalah sesuatu yang penting. Misal, suku Jawa
ada tingkatan bahasa Ngoko adalah bahasa
pergaulan antar kawula yang satu level atau antar teman. Kemudian kromo adalah
bahasa yang digunakan untuk level masyarakat bawah kepada orang asing atau kepada
yang lebih tua, sedangkan kromo alus yang
digunakan untuk level masyarakat kepada orang yang sangat dihormati, misal orangtua,
pejabat dan sebagainya. Dan tentu pemakaian bahasa tersebut disertai bahasa
tubuh yang mendukung.
Orang kalangan bawah atau orang asing yang memakai kromo kepada lawan bicara yang dituakan
dengan bahasa tubuh mata menatap langsung atau tidak mundhuk-mundhuk akan dicap kurang beradab bahkan menantang. Ribet
ya?
Dalam peradaban yang semakin maju dan terbuka, bahasa lisan
terus memutus mata rantai bahasa daerah menjadi bahasa persatuan. Maka
istilah-istilah kedaerahan semakin juga dibonsai dan kadang hilang.
Produk bahasa lisan dalam kesenian dan kebudayaan semacam parikan/bebasan/cangkriman di daerah Jawa Mataraman juga Surabaya, kidungan di
Surabaya kian berada di area sempit semacam seremoni, festival atau upacara adat yang juga dipenggal
bagian-bagiannya. Belum lagi produk bahasa lainnya semacam tembang, geguritan semakin terkikis menjadi model-model campursari,
koplo(?).
Yang menjadi pembeda bahasa persatuan atau penunjuk identitas
siapa pemakainya adalah dialek pemakainya. Di Surabaya ada bahasa dengan
dialek/cengkok Madura, peranakan Tionghoa, asli Surabaya dan sekitarnya. Namun
itu juga akan berubah bila anda ke daerah tapal kuda Jawa Timur, seperti Jember,
Situbondo dan Banyuwangi. Peranakan Tionghoa berdialek Madura sangat banyak.
Mari kita pahami bahwa bahasa lisan adalah tidak tergantikan
dalam komunikasi. Lawan bicara anda akan mengerti tujuan anda berbicara apabila
anda dalam menyampaikan informasi sama-sama satu level tingkat penguasaan
bahasa, level yang sama pilihan kosa kata dan emosi yang sedang-sedang saja. Tentu sebagai komunikator yang baik pakailah bahasa
tubuh yang mendukung dan bahasa cinta agar lebih dipahami.
Begitulah pilihan kosa kata dalam bahasa juga akan membuat anda
memiliki referensi buku penyair dan penulis siapa yang paling anda sukai. Gaya tulisan
teenlit, gaya motivator, sastra tentu
sangat berbeda antar penulis. Dan percayalah pengagum karya novelis teenlit bukan berarti lebih najis dari pengagum
karya novelis macam Ayat-Ayat Cinta atau Tetralogi Buru. Itu juga bukan karena kesalahan
guru Bahasa Indonesia saudara , karena kita kurang membaca dan kurang menulis
saja.
Ada adagium, peradaban suatu bangsa dicerminkan oleh penyair dan sastrawannya. Bangsa dikatakan beradab bila terdapat tradisi menulis. Dan menulis dimulai dari membaca. Dan tentu saja membaca lalu menciptakan teknologi, begitulah yang dilakukan oleh saudara tua bangsa Tiongkok dan Jepang.
Bukti anda beradab
dan cerdas adalah bila berbahasa dengan membawa kejengkelan namun perkataan anda
tidak menimbulkan konfrontasi. Misal anda akan meminta kenaikan gaji kepada bos
agar selevel dengan UMR. “Bos kalau anda
tidak mematuhi Perda daerah tentang UMR berarti anda tidak cerdas lhooo.” Cobalah
di depan forum meeting, saya yakin anda tidak dipecat. Selamat mencoba.
Yay! Akhirnya jadi juga bikin liburan bareng.
Setelah rembugan alot, Jogjakarta menjadi pilihan buat acara liburan bareng deNLers.
Persiapan pun dilakukan. Hening dan n1nna yang sebelumnya menjelajahi Gunung Kidul menyarankan untuk menjelajahi Gunung Kidul lebih jauh karena melihat adanya potensi liburan seru di sana.
Walhasil, liburan asyik banget akhirnya beneran terjadi ^,^9
Setelah berunding, diputuskan menyewa microbus karena rencana berangkat tengah malam tanpa terikat jadwal. Berangkat hari Jumat hampir tengah malam tanggal 19 September kemarin, perjalanan Surabaya-Jogjakarta pun dimulai.
Tidak langsung menuju Gunung Kidul karena harus menjemput Neni dan Yaya, yang tinggal di Jakarta, di Stasiun Tugu. Setelah tiba dan menjemput, pencarian sarapan di kota pelajar ternyata gampang-gampang susah. Jauh-jauh ke Jogja, ternyata deNLers malah memutuskan makan pagi di Soto Koya Surabaya (njekethek) yang sejalan dengan arah ke Gunung Kidul. Diiringi dengan drama antri-mengantri WC karena rupanya deNLers ini punya kebiasaan sehat untuk buang air besar pagi hari, sampai dirasani orang-orang warung.
Setelah lega, kru berfoto di depan warung makan.
Di Gunung Kidul, deNLers mampir dulu di Wisma Samiaji untuk mandi dan menaruh barang bawaan. Lanjut menuju Pantai Siung mengandalkan Google Maps.
Kalau sebelumnya Hening dan n1nna menganggap Pantai Poktunggal paling indah di antara pantai-pantai Gunung Kidul seperti Baron, Pulangsawal, dan sebagainya, maka kali ini Hening dan n1nna mesti mengakui kalau Poktunggal kini jadi yang paling biasa.
Saat menuju Siung, deNLers yang melihat sekilas jalan menuju Pantai Jogan dan sepintas memutuskan bahwa jalanan tersebut susah dilalui microbus. Tapi saat keluar dari Pantai Siung lalu melewati kembali jalan Pantai Jogan, kami tergoda untuk mencoba pantai satu ini. Hampir melewati belokan ke Jogan, pak sopir memutuskan untuk belok di detik terakhir. Dan...kami sama sekali akan menyesal bila melewatkan pantai satu ini.
Jogan was totally amazing!
n1nna memberi waktu satu jam untuk mandi dan rehat, lalu berkumpul di kamar Hening-n1nna-Erna (tuyul satu ini bikin Hening dan n1nna gak bisa bulan madu) karena ia sudah mempersiapkan permainan untuk pasangan (yang berarti Erna cuma bisa melongo karena dia jomblo kronis).
Permainan pertama, the States Game, untuk Nada dan Anna yang paling lama keluar dari SMA. Peta buta Indonesia diserahkan ke pasangan ini dan mereka wajib menunjukkan pada penonton (deNLers yang lain yang ikut) di mana letak Jayapura, Pulau Nusa Tenggara, Surabaya, dan Makassar. Kemudian Nada dan Anna diserahi peta buta Pulau Sumatra dan diberikan tugas membagi-baginya berdasarkan propinsi di Sumatra.
Permainan kedua, melibatkan penonton lebih aktif, permainan yang sebelumnya direncanakan untuk Nadia dan Nadii akhirnya dilemparkan ke Icha dan Rere. Meniru cards against humanity, masing-masing kalimat punya tiga kata. Kata pertama akan ditebak oleh penonton dengan Icha harus mengekspresikannya lewat gerakan tubuh, kata kedua oleh Rere, ketiga Icha. Lalu kalimat berikutnya Rere yang pertama, Icha kedua, begitu seterusnya. Bayangkan bagaimana lucunya Icha dan Rere ketika harus mengekspresikan kalimat 'Ketua Jambret Nasional'! Penonton dibuat ketawa dan gemas bukan kepalang.
Ketiga, Caca dan Cici menjadi pasangan korban berikutnya. Peraturannya, Caca harus ditutup matanya, lalu Cici akan menyuapkan sesuatu ke mulut Caca, Caca harus menebak apakah merek makanan yang baru saja disuapkan? What's in my mouth nama permainannya, penonton semakin heboh ketika melihat satu persatu makanan yang harus dirasakan oleh Caca, lalu berikutnya Cici (mereka bergantian ditutup matanya dan menebak makanan).
Permainan terakhir (karena Hening dan n1nna sebagai pembawa acara dan juru kamera, maka mereka membebaskan diri sendiri dari permainan) dimainkan oleh pasangan Neni dan Yaya. Berkaca dari kesukaan mereka untuk naik gunung, n1nna mempersiapkan permainan untuk orang atletis. Yoga couple position, Neni dan Yaya diminta menirukan gaya yoga berpasangan yang sudah disiapkan oleh n1nna. Dari enam gambar, cuma satu yang gagal mereka lakukan. Keren.
Beberapa permainan pasangan dilakukan kemudian sebagai permintaan perpanjangan waktu mengisi malam panjang.
Hari berikutnya yaitu hari Minggu, pukul 7 pagi rombongan bersiap menuju Goa Pindul. Memilih pengelola wisata Panca Wisata, tim dikenalkan tiga situs di sana. Pertama, Goa Gelatik. Goa ini tidak disarankan untuk mereka yang punya berat badan sangat lebih atau memiliki gangguan pernapasan. Karena tim harus ngesot dan merangkak untuk masuk ke dalam goa yang sempit dan pengap. Icha yang memiliki asma memutuskan tidak masuk ke dalam goa, ditemani oleh Rere di luar situs.
Kedua, Tubing di Goa Pindul. deNLers harus membawa sendiri ban yang akan digunakan untuk Tubing maupun Rafting. Ada tiga zona di Goa Pindul, zona terang, remang dan gelap abadi. Kami juga diijinkan untuk puas berenang dan bermain air di sini.
Ketiga, Rafting Oyo. Naik pick-up sambil berdiri di baknya, kami menyusur jalan yang penuh warna putih. Karena musim panas, air tak meninggi sampai bibir sungai, sehingga kami harus melewati bebatuan dasar sungai yang kering sebelum menyentuh air. Perjalanan 'rafting' yang mestinya panjang juga ikut terpangkas. Kacamata n1nna jadi korban tak bersalah di petualangan satu ini.
Ada beberapa titik di sini yang bisa dibuat loncat dari ketinggian dikarenakan kedalaman air mencapai 7 meter meski musim panas. Alih-alih menuju tempat loncat dari atas ke dalam air yang ditunjukkan oleh guide (ketinggian 3 meter dari air), n1nna terus memanjat ke atas menuju tempat loncat dengan ketinggian 10 meter yang sedang ramai dipenuhi gerombolan cowok berjaket pelampung biru dan satu cewek berpelampung oranye. Melongok dari ketinggian, n1nna ketakutan, dihadapkan pilihan dilematis antara mau lompat tapi takut dan gak mau lompat tapi gengsi. Akhirnya, mengingat lagu Westlife yang If I Let You Go beserta video klip dan liriknya, "...but too proud to lose, but sooner or later I've got to choose," n1nna lompat juga sambil membayangkan adegan Bella lompat di tebing pantai. Mirip-miriplah sama video klipnya Westlife juga, n1nna akhirnya masuk air setelah membatin dalam hati, "Kok gak nyampe-nyampe ke air, sih."
Pengalaman ini juga dirasakan oleh Neni, Nadia, Anna dan Yaya.
Menghilangkah aku?
Tidak, kisanak.
Aku sibuk dengan waktu, dengan proses, dengan jatuh-bangun yang aku namai perbaikan diri.
Aku masih sangat ingat di kamar spesialku di lantai dua, di rumah Jagir. Saat ada aku, n1nna, Aya, Megi. Saat gila bersama puntung rokok di ujung bayang bulan. Khayalan kami berpendar, meloncat kegirangan, berbusa, dan berucap apa saja tentang masa muda. Sampai kata-kata deNL ini terucap. Dan masih tetap dengan jiwa muda kita yang muluk-muluk, segala asa, segala rencana kita panjatkan hingga berarak pagi.
Detail-detail asa terus berusaha kita wujudkan. Baik dengan berempat maupun rame-rame. Revolusi. Rotasi.
Rectoverso! deNL tetap tumbuh dan tumbuh bahagia, aku saksikan dari jauh.
Dan meski bukan dengan wadah yang sama, naluri berjuangku masih sama, kawan. Meski dengan cara yang sangat berbeda, sebagian diriku masih sama. Aku tetap ingin menjadi sedikit penerang walau dalam sudut ruang tergelap.
Dan di ranah ini..deNL punya saudara bayi :) Kami menamainya SRIKANDI DEWATA.
"Love n Care," itu bukan cuma slogan. Karena aku berusaha membangun di tempatku, berpondasikan itu.
KITA CINTA dan KITA PEDULI.
Wilayah cakupannya sangat kecil, tapi aku berharap bisa maximal. Sangat kecil karena dimulai dari diri sendiri. Kami berjuang saling memberikan ilmu melalui program pengajaran sesama member untuk meningkatkan kualitas dan kualifikasi diri. Baik secara ilmu pengetahuan, olah raga bersama, maupun beribadah bersama (dengan masing-masing subkeagaamaan).
Bisa maksimal karena kami berharap dengan meningkatnya kualitas dan kualifikasi diri kami semua. Kami mendapatkan penghasilan lebih layak....untuk bisa disisihkan lebih berbuat lebih dan lebih untuk mewujudkan CINTA selanjutnya yaitu pada masyarakat.
Di sini kami beruntung, karena lingkungan yang free membuat kami lebih leluasa dalam action berjuang. Banyak pejuang LSM serupa di sini juga yg saling mendukung.
Apakah aku memuja ke-straightless-an ini? Bukan. Sekali lagi aku tetap ingin menjadi sedikit penerang walau dalam sudut ruang tergelap. Mari perbanyak kebaikan, dibandingkan dosa yg sudah jelas, krn siapa tahu ini akan memperberat timbangan amalan baik kita, sehingga kita semua...para pejuang straighless ini...bisa lebih bermakna dan bertemu lagi di surga kelak (Amin).
Ini adek bayinya deNL. Info-info ya kalau mungkin ada yg bs kita kerjasama/ kolaborasi dlm karya dll ;)
Dalam jauh, aku masih terus mengamatimu...dan berjuang meski dlm cara berbeda. Ini salah satu perwujudanku sbg cinta dan peduliku (masih) buat DeNL :)
Wilayah cakupannya sangat kecil, tapi aku berharap bisa maximal. Sangat kecil karena dimulai dari diri sendiri. Kami berjuang saling memberikan ilmu melalui program pengajaran sesama member untuk meningkatkan kualitas dan kualifikasi diri. Baik secara ilmu pengetahuan, olah raga bersama, maupun beribadah bersama (dengan masing-masing subkeagaamaan).
Bisa maksimal karena kami berharap dengan meningkatnya kualitas dan kualifikasi diri kami semua. Kami mendapatkan penghasilan lebih layak....untuk bisa disisihkan lebih berbuat lebih dan lebih untuk mewujudkan CINTA selanjutnya yaitu pada masyarakat.
Di sini kami beruntung, karena lingkungan yang free membuat kami lebih leluasa dalam action berjuang. Banyak pejuang LSM serupa di sini juga yg saling mendukung.
Apakah aku memuja ke-straightless-an ini? Bukan. Sekali lagi aku tetap ingin menjadi sedikit penerang walau dalam sudut ruang tergelap. Mari perbanyak kebaikan, dibandingkan dosa yg sudah jelas, krn siapa tahu ini akan memperberat timbangan amalan baik kita, sehingga kita semua...para pejuang straighless ini...bisa lebih bermakna dan bertemu lagi di surga kelak (Amin).
Ini adek bayinya deNL. Info-info ya kalau mungkin ada yg bs kita kerjasama/ kolaborasi dlm karya dll ;)
Dalam jauh, aku masih terus mengamatimu...dan berjuang meski dlm cara berbeda. Ini salah satu perwujudanku sbg cinta dan peduliku (masih) buat DeNL :)
Selamat petang untuk jiwaku yang masih benderang.
Lama berantah, tak pernah cukup kata aku bisa gambarkan bifurkasi petualangan yang aku jalani tanpa kalian, sahabat dunia keduaku, itu yang selalu aku sebut.
Lama berantah, tak pernah cukup kata aku bisa gambarkan bifurkasi petualangan yang aku jalani tanpa kalian, sahabat dunia keduaku, itu yang selalu aku sebut.
Entah dinamai tersesat, menemukan orang yang salah di waktu yang tepat, atau menemukan orang yang tepat di waktu yang salah. Dua-duanya sangat memerah otak dan dayaku beberapa tahun ini.
Kalian pasti paham, mungkin masih teringat, betapa ngeyelnya seorang aku dalam mempertahankan cinta. Entah dilabeli benar atau salah. Aku merayu, aku merajuk, aku mencandai, aku mencumbu, aku menangis, dan aku menangkis. Kadang aku mengucap cinta untuk mendatangkan cinta, dan sering aku berucap benci agar bisa mengusir cinta.
Dan pada hitungan ke tiga puluh lima purnama aku jalani tanpa kalian, aku sibukkan diri menjadi seseorang lebih baik, lebih tepat dan lebih pantas dicintai. Harapku sederhana, seperti kalian semua mungkin. Kalau bisa yang kali itu akan selamanya.
Tapi...aku kembali kandas. Aku runtuh pada satu judul: PENGKHIANATAN. Rasa sakitnya tidak pernah melebihi ini, kawan. Seluruh perjuangan, kengeyelan, darah, air mata, hancur jadi satu dalam sublim KESEPIAN.
Bukan tentang 35 purnamanya, toh aku pernah melewatkan lebih dari 60 purnama bersama seseorang terdahulu. Sudah kupertaruhkan semuanya, bahkan yang tersisa yang aku miliki...yaitu keluargaku. Sudah kuanugrahkan waktuku untuk bekerja sekeras mungkin demi mengukir bahagia dalam semyumnya. Sudah kuserahkan bahkan kepalaku dalam genggaman dia, hanya demi dia yang aku pikir selamanya. Dan betapa butuhnya aku menunjukkan bahwa aku TIDAK PANTAS DITINGGALKAN lagi.
Aku runtuh, sakit. Aku habiskan puluhan malam mengutuk diriku sendiri yang tidak mampu mempertahankan lagi, mengutuk kurangku apa lagi, menghukum diriku sendiri dengan tidak pantas makan enak, dengan memasukkan rokok sebanyaknya.
Meski....aku masih bisa mendengarkan hatiku memohon tidak memasukkan narkoba dan alkohol pula. Masih baik pada diriku 'kan?
Dalam detik sunyi aku coba mengerti esensi. Apa..kenapa..tak pernah cukup ribuan orang bisa menjawabnya. Kata hatiku semakin aku kesampingkan, diriku makin tak terarah tanpa siapa-siapa. Meledak.....dan....arrrgghh.
Allah baik, setidaknya meski sempat aku siksa dengan aku bungkam, tapi hatiku masih belum mati, meski dekat dengan sekarat. Detik-detik otakku sudah tidak mampu berpikir tiba. Masih, saat itu aku namai lonceng kematian. Karena aku sudah sangat-sangat pasrah, kulit ari jiwaku aku rasakan mengelupas semua, bening ucapku sudah tidak bersisa....mengerucut...dan mengerucut. HANYA PADA TUHAN SEMUA KEMBALI, HANYA PADA DIA HARUS AKU SANDARKAN.
Dan rasa limbung itu sudah tiada. Aku kosong, aku nol. Aku melayang. Aku melenting dan jatuh ke tanah terdasar dengan perasaan sangat ringan bahkan untuk tersenyum. Melepaskan apa yg sudah Allah titipkan untukku dulu. Mempercayakan atas skenario selanjutnya. Dan....IKHLAS.
Sejak saat itu aku sudah tidak mau lagi meraung raung. Aku sudah tidak sudi berderai air mata untuk pengkhianat, dan aku bisa mengatakan: AKU TIDAK PANTAS BERSAMA ORANG YANG TIDAK SETIA KETIKA AKU SANGAT SETIA PADANYA.
Makna pengkhianatan yang dulunya masih aku yakini juga karenaku dan membuat aku menjadi pengemis kesempatan untuk kesalahan berkali-kali yang tidak dia pertanggungjawabkan sendiri...lalu menjelma jadi ego dan power. Bahwa TIDAK ADA ALASAN TEPAT UTK PENGKHIANATAN...selain memang DIA BAJINGAN!
Aku tidak butuh dianggap sebagai orang baik yang harus mengatakan "AKU RELA ASAL KAMU BAHAGIA," atau "SEMOGA KAMU BAHAGIA DENGANNYA". Karena kata-kata itu akan merusak ego powerku, dan satu-satunya yg harus aku selamatkan adalah HATIKU. Yang tidak bersalah dan sudah sangat sering aku bungkam dengan tidak adilnya.
Sejak saat itu pula aku bisa berucap: SEKEDAR MENCARI ORANG SEPERTI KAMU, TERLALU MUDAH. AKU BISA PASTIKAN SGT MUDAH PULA AKU MENDAPATKAN ORANG LEBIH DARI KAMU. DAN (SEBALIKNYA) KAMU TIDAK AKAN BISA MENDAPATKAN YANG LEBIH DARI AKU.
35 purnama aku kembara...tanpa siapa-siapa di ranah ini. Dan aku bisa berkata aku sudah habis baca buku "SELF AWARENESS". Betapa sering karena kita melanggar norma, bahkan norma paling dekat yaitu KATA HATI kita. Betapa sering kita zalim pada diri sendiri atas kerja keras dan perbaikan yg dilakukan setiap hari. Dan betapa sering hal-hal tersebut membuat kita jauh dari kata IKHLAS menerima apapun HADIAH dari Tuhan, baik ataupun buruk. Padahal TUHAN sudah merangkai kita dengan amat sangat baiknya, sangat lembutnya.
Aku mungkin masih akan menangis,tersenyum...tapi aku akan terus membaca buku-buku lainnya di perpustakaan Tuhan. Kali ini aku pasti lebih melibatkan Tuhan. Sebagaimana aku minta petunjuk ke petugas perpustakaan. Buku yang mana sebaliknya aku baca terlebih dahulu dan baik buat prosesku?
Dan sebagaimana kita dulu waktu sekolah naik kelas. Kita masih akan bertemu dengan buku-buku baru, buku lama cukup diingat saja tanpa perlu kita ingat siapa nama pengarangnya 'kan? Hidupku lebih ringan karena aku sudah jauh lebih yakin bahwa ALLAH SEBAGAI GURU-ku pasti tetap membimbingku dalam membaca buku. Hubunganku dengan GURU-ku lebih intim, karena sekarang aku sangat MEYAKINI seburuk apapun proses membacaku namai lagi lonceng kematian, Allah Maha Hidup akan selalu memberikan aku GENDERANG KEHIDUPAN.
Baru, ikhlas dan hidup.
:) Baiknya Allahku.
Baru, ikhlas dan hidup.
:) Baiknya Allahku.
----------------------------------------------------------------------------------------
Maap numpang login nya n1nna..:D
Salam kangen buat semuanya.
Semoga masih bisa menjadi inspirasi
Salam kangen buat semuanya.
Semoga masih bisa menjadi inspirasi








